Berbentuk peluru dan tanpa jendela kabin, jet eksekutif Phantom 3500 hemat bahan bakar 60%
Otto Aerospace AIRSPACE REVIEW – Perusahaan kedirgantaraan swasta dari Amerika Serikat, Otto Aerospace, mengumumkan keberhasilan penyelesaian Tinjauan Desain Awal (Preliminary Design Review – PDR) untuk jet eksekutif futuristik mereka, Phantom 3500.
Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah krusial yang menandakan bahwa konfigurasi struktural, sistem, dan arsitektur aerodinamis pesawat telah matang dan siap melangkah ke tahap rekayasa detail, konstruksi, serta persiapan uji terbang.
Phantom 3500 menarik perhatian industri penerbangan global karena mengusung konsep berani yang berbasis pada teknologi laminar flow (aliran laminar).
Teknologi aerodinamis ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara (drag) secara drastis pada badan pesawat.
Otto Aerospace sendiri telah menghabiskan waktu lebih dari dua dekade untuk menyempurnakan konsep ini, yang digadang-gadang sebagai masa depan efisiensi energi penerbangan.
Berbeda dari jet bisnis konvensional, Phantom 3500 memiliki bentuk kokoh namun aerodinamis dengan badan pesawat (fuselage) yang sangat halus dan memanjang, berbentuk seperti peluru.
Desain ini memungkinkan udara mengalir lancar di sekitar pesawat dalam waktu yang lebih lama.
Pendekatan ini diklaim mampu memangkas konsumsi bahan bakar hingga lebih dari 60% dibandingkan pesawat tradisional di kelasnya, sekaligus mengurangi emisi karbon dan biaya operasional secara signifikan.
Demi mencapai efisiensi ekstrem tersebut, Otto Aerospace mengambil keputusan radikal dengan menghilangkan jendela kabin tradisional.
Menurut perusahaan, celah jendela konvensional dapat menciptakan gangguan aerodinamis kecil yang merusak aliran laminar.
Sebagai gantinya, Phantom 3500 akan dilengkapi dengan sistem layar digital definisi tinggi (HD) di dalam kabin.
Layar ini akan menampilkan pemandangan luar secara real-time yang ditangkap melalui kamera-kamera yang dipasang di badan pesawat. Hal ini akan memberikan pengalaman interior yang imersif dan modern bagi penumpang.
Pesawat ini dirancang untuk mengangkut hingga sembilan penumpang dan mampu beroperasi pada ketinggian di atas 51.000 kaki —lebih tinggi daripada mayoritas jet komersial saat ini.
Terbang di ketinggian ekstrem tersebut tidak hanya memanfaatkan kepadatan udara yang lebih rendah demi efisiensi, tetapi juga meminimalkan pembentukan jejak kondensasi (contrails) yang berdampak pada iklim.
Banyak teknologi Phantom 3500 diadaptasi dari Celera 500L, pesawat eksperimental berbentuk menyerupai tetesan air yang diuji coba Otto Aerospace antara tahun 2020 dan 2021.
Data uji coba Celera 500L sebelumnya menunjukkan tingkat hambatan udara hingga 59% lebih rendah daripada pesawat sekelasnya.
Proyek ini juga sempat didukung oleh DARPA (Badan Proyek Riset Intelijen Pertahanan AS) untuk pengembangan teknologi serupa.
Meski masih dalam tahap pengembangan, proyek ini telah mendapat respons luar biasa dari pasar.
Perusahaan penyedia layanan jet pribadi, Flexjet, telah menandatangani kesepakatan komitmen untuk membeli 300 unit Phantom 3500. Kontrak bernilai miliaran dolar ini tercatat sebagai salah satu pesanan terbesar untuk jet eksekutif yang belum mendapatkan sertifikasi resmi.
CEO Otto Aerospace, Scott Drennan, menyatakan bahwa selesainya tahap PDR mengubah status Phantom 3500 dari sekadar konsep futuristik menjadi pesawat nyata yang siap diproduksi dan diuji.
Otto Aerospace menargetkan penerbangan perdana prototipe Phantom 3500 dapat terlaksana pada tahun 2027, diikuti dengan kampanye sertifikasi oleh otoritas penerbangan AS (FAA).
Proses produksi massal nantinya akan dipusatkan di pabrik baru dekat Bandara Cecil di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat. (RNS)
