Fregat FDI dari Prancis kalahkan Arrowhead 120 dari Inggris dan ALFA 4000 dari Spanyol dalam tender untuk AL Swedia

FDI kalahkan Arrowhead 120 dan ALFA 4000 dalam tender di SwediaIstimewa

AIRSPACE REVIEW – Kementerian Pertahanan Swedia telah memilih kapal fregat buatan Prancis daripada buatan Inggris dan Spanyol, dalam kompetisi senilai 4,25 miliar USD, untuk memodernisasi angkatan lautnya.

Fregat tersebut adalah FDI (Fregate de Defense et d’Intervention) yang dirancang dan diproduksi oleh Naval Group. Sebanyak empat kapal kelas Lulea diakuisisi. Pengiriman pertama akan dimulai tahun 2030 dan tuntas pada 2033.

Fregat FDI Naval Group berhasil menyingkirkan pesaingnya yakni Arrowhead 120 (versi lebih kompak dari Arrowhead 140) milik Babcock International, Inggris dan ALFA 4000 dari Navantia, Spanyol.

Kebutuhan Swedia akan fregat modern ini berakar pada keputusan yang dibuat pada tahun 1980-an, ketika Swedia mempensiunkan lima kapal perusak kelas Ostergotland.

Hal ini secara efektif mengakhiri kemampuan angkatan lautnya untuk mengoperasikan kapal tempur permukaan besar di luar Laut Baltik.

Dekade berikutnya membuat Angkatan Laut Kerajaan Swedia lebih mengandalkan korvet siluman kelas Visby produksi dalam negeri yang dirancang untuk perairan dangkal dan terbatas di pesisir Baltik.

Swedia akan melengkapi kapal kelas Lulea yang dibelinya ini dengan mengintegrasikan serangkaian sistem nasional ke dalam lambung FDI.

Termasuk di dalamnya adalah rudal antikapal RBS 15 buatan Saab, torpedo Type 47, radar Giraffe 1X, stasiun senjata jarak jauh Trackfire, dan meriam laut dari Bofors.

Mengenai FDI adalah fregat berteknologi siluman dengan arsitektur tempur digital penuh. Kapal memiliki bobot sekitar 4.000 ton, panjang sekitar 122 m dan lebar 18 m.

Kapal perang dengan awak 125 orang ini dirancang untuk pertahanan udara, peperangan antikapal permukaan dan antikapal selam.

Sebagai tenaga penggeraknya, fregat FDI menggunakan sistem propulsi CODAD (Combined Diesel and Diesel), kecepatan maksimumnya 27 knot dan jangkauan operasi 5.000 mil laut atau 45 hari berada di laut. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *