Lobi Qatar, Ukraina mengincar 12 jet tempur Mirage 2000 untuk ditukar dengan teknologi drone
Istimewa AIRSPACE REVIEW – Ukraina dilaporkan sedang melakukan negosiasi dengan Qatar untuk memperoleh 12 jet tempur Mirage 2000-5 negara Teluk itu.
Uniknya, Ukraina tidak hanya menawarkan uang, tapi juga “resep rahasia” teknologi drone tempur yang sudah teruji di medan perang.
Ukraina akan mendapatkan keuntungan bila memperoleh jet tempur buatan Dassault Aviation dari Prancis tersebut.
Sebab, pilot-pilot Angkatan Udara Ukraina (UAF) sudah mulai terbiasa dengan pesawat Mirage 2000 yang dipersenjatai dengan rudal MICA dan bom pintar AASM Hammer untuk serangan presisi tersebut.
Meski demikian, negosiasi Kyiv dengan Doha tampaknya tak semudah membalik telapak tangan. Sebab, Qatar mempertimbangkan faktor geopolitik yang sensitif di kawasan Teluk.
Proses ini juga bukan cuma soal jual-beli, tapi juga melibatkan izin dari Prancis sebagai produsen asli dan keseimbangan diplomasi Qatar dengan negara-negara besar lainnya.
Langkah diplomasi ini juga menunjukkan perubahan posisi Ukraina dalam politik internasional.
Jika di awal perang Kyiv lebih banyak “meminta” bantuan, kini Kyiv mulai bernegosiasi sebagai mitra yang memiliki aset berharga berupa data tempur dan teknologi pencegat drone yang diproduksi massal dengan biaya rendah.
Keahlian praktis ini menjadi daya tawar yang sangat kuat bagi negara-negara seperti Qatar yang ingin memodernisasi pertahanan mereka terhadap ancaman udara modern yang kian murah namun mematikan.
Qatar mempunya sembilan unit Mirage 2000-5EDA berkursi tunggal dan tiga unit Mirage 2000-5DDA bertempat duduk tandem yang siap dijual atau dihibahkan. Pesawat-pesawat ini diperoleh pada tahun 1990-an dan telah dimodernisasi.
Pesawat dilengkapi dengan radar RDY dan mampu mengoperasikan rudal MICA.
Jet tempur Qatar ini menawarkan kinerja yang signifikan dalam misi pertahanan udara dan intersepsi, serta dianggap sebagai solusi yang cepat terintegrasi untuk pasukan yang sudah mengoperasikan pesawat buatan Prancis.
Qatar telah berupaya untuk melepas pesawat-pesawat ini selama bertahun-tahun seiring dengan modernisasi angkatan udaranya dengan platform yang lebih canggih seperti Dassault Rafale, F-15QA, dan Eurofighter Typhoon.
Meskipun demikian, negosiasi sebelumnya dengan calon pembeli, termasuk perusahaan swasta dan negara-negara Asia, telah terhenti. (RNS)
