Perselisihan Prancis dengan Jerman soal FCAS mendorong Belgia untuk keluar dari program ini, Francken: Sudah tidak layak

FCASAirbus

AIRSAPACE REVIEW – Menteri Pertahanan Belgia Theo Francken menilai pernyataan terbaru dari Kanselir Jerman Friedrich Merz, praktis telah mengakhiri prospek proyek Sistem Pesawat Tempur Masa Depan (FCAS).

Program senilai sekitar 100 miliar euro (118 miliar USD atau setara Rp1.998,5 triliun) ini, adalah proyek untuk mengembangkan jet tempur generasi keenam Eropa yang terintegrasi dengan drone, sensor terhubung, dan arsitektur digital berbasis kecerdasan buatan.

Inisiatif ini, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai proyek utama Eropa di bidang penerbangan militer, kini menghadapi salah satu momen paling kritis sejak diluncurkan.

Program FCAS pertama kali diumumkan secara resmi pada 13 Juli 2017 dalam konferensi pers bersama di Paris oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman saat itu Angela Merkel.

Menurut Francken, perbedaan pandangan antara Prancis dan Jerman yang sangat tajam, membuat program FCAS sulit untuk dilanjutkan.

FCAS dirancang untuk menggantikan pesawat seperti jet tempur Rafale Prancis dan Eurofighter Typhoon Jerman mulai tahun 2040-an dan seterusnya.

Konsep operasional pesawat ini mencakup Next Generation Fighter (NGF) yang beroperasi bersama drone pengawal dan terhubung ke “combat cloud” untuk berbagi data secara waktu nyata di medan perang.

Namun, perbedaan mendasar mengenai persyaratan militer dan kepemimpinan industri terus menghambat pengambilan keputusan penting.

Merz baru-baru ini menegaskan bahwa Jerman tidak membutuhkan jenis pesawat tempur yang sama seperti yang diusulkan oleh Prancis.

Paris mengajukan persyaratan khusus FCAS seperti kemampuan nuklir dan operasi berbasis kapal induk.

Perbedaan strategis ini mencerminkan kepentingan nasional yang berbeda, melengkapi perselisihan terkait porsi pembagian kerja masing-masing industri, antara Dassault Aviation Prancis dan Airbus Defence and Space Jerman.

Belgia, yang telah menyetujui partisipasi penuhnya dalam FCAS pada tahun 2025, kini memandang program ini sebagai sesuatu yang tidak layak lagi.

Francken menyatakan bahwa Brussel harus menilai kembali posisinya bersama dengan sekutunya tersebut.

Ia menekankan bahwa gagasan jet tempur generasi keenam Eropa tetap diinginkan, tetapi model saat ini tampaknya telah kehilangan daya tarik politiknya.

Keputusan Belgia, pada akhirnya juga memicu kritik di dalam industri penerbangan Eropa sendiri.

Éric Trappier, CEO Dassault Aviation, mempertanyakan niat negara-negara peserta yang mendukung FCAS, tetapi di sisi yang lain tetap mempertahankan akuisisi jet F-35 dari Amerika, termasuk Belgia dan Jerman.

Menanggapi hal itu, Francken menyatakan bahwa Belgia akan membuat keputusan yang selaras dengan kepentingan strategisnya sendiri dan tidak akan menerima tekanan eksternal.

Kebuntuan program FCAS terjadi setelah bertahun-tahun tertunda dalam fase awal program tersebut.

Prancis, Jerman, dan Spanyol (yang bergabung kemudian), telah berjanji untuk menyelesaikan perbedaan teknis dan industri pada akhir tahun lalu. Tetapi, negosiasi ditunda tanpa batas waktu karena kurangnya konsensus tentang pengembangan demonstrator penerbangan dan kepemimpinan jet tempur berawak.

Sementara itu, para eksekutif Eropa sudah membahas alternatif, termasuk kemungkinan solusi hibrida atau bahkan pembuatan jalur paralel untuk mempertahankan beberapa teknologi FCAS.

Skenario saat ini menimbulkan keraguan tentang masa depan otonomi militer Eropa. Jerman sedang mengevaluasi perluasan armada F-35-nya dan mempertimbangkan kerja sama internasional lainnya.

Terlepas dari ketidakpastian yang ada, Francken menyatakan bahwa impian akan jet tempur Eropa generasi keenam tetap hidup, meskipun FCAS mungkin tidak akan bertahan.

Francken dijadwalkan akan menyampaikan rencana alternatif kepada Parlemen Belgia dalam beberapa hari mendatang. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *