Israel telah meningkatkan radius tempur F-35I Adir untuk menjangkau Iran
Times of Israel AIRSPACE REVIEW – Israel adalah satu-satunya negara yang mendapatkan izin dari Amerika Serikat untuk memodifikasi jet tempur F-35I Adir miliknya sesuai dengan kebutuhan negara tersebut.
Israel telah menambahkan beragam sistem buatan dalam negeri, mulai dari avionik, perangkat komunikasi, sistem misi, perangkat peperangan elektronik, sensor, hingga sistem persenjataan mutakhir pada jet tempur generasi kelima buatan Lockheed Martin tersebut.
Dengan beragam sistem baru yang telah diintegrasikan pada F-35I, Adir tidak hanya berperan sebagai pesawat tempur multiperan, tetapi juga sebagai sensor canggih dan node C4ISR dalam jaringan pertahanan udara dan rudal terintegrasi Israel yang lebih luas.
C4ISR adalah peran gabungan yang terdiri dari Command (Komando), Control (Kendali), Communications (Komunikasi), Computers (Komputer), Intelligence (Intelijen), Surveillance (Pengawasan), dan Reconnaissance (Pengintaian).
Yang terbaru, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, mengatakan bahwa armada F-35I Adir Angkatan Udara Israel (IAF) telah dilengkapi dengan tangki bahan bakar tambahan yang memperpanjang jangkauan pesawat tempur tersebut dengan tetap mempertahankan profil silumannya.
Klaim tersebut menandakan upaya Israel untuk mengamankan kemampuan serangan jarak jauh independen menyusul perang udara pada Juni 2025 lalu dengan Iran.
The Times of Israel melaporkan, keberhasilan Israel tersebut merupakan upaya kerja keras selama bertahun-tahun pada konfigurasi bahan bakar dan senjata yang dibuat khusus untuk Adir, dan kini telah mencapai kematangannya.
Sebelumnya pada tahun 2022, portal The War Zone pernah melaporkan upaya Israel untuk meningkatkan radius tempur F-35I.
TWZ tidak memastikan apakah yang dimaksud dengan peningkatan jangkaun terbang tersebut menggunakan penambahan tank bahan bakar eksternal (drop tank) yang digantung di sayap atau menggunakan tangki bahan bakar konformal (CFT) yang menempel pada tubuh pesawat.
Kali ini, Duta Besar Israel pun tidak merinci apakah yang dimaksudnya tersebut berupa drop tank atau CFT.
F-35I Adir merupakan varian F-35A yang dibuat khusus oleh Lockheed Martin atas pesanan Israel.
Mengacu pada data terbuka, IAF saat ini mengoperasikan sekitar 48 unit F-35I Adir. Pesawat-pesawat tempur siluman ini dioperasikan oleh Skadron 140 (Golden Eagle) dan Skadron 116 (Lions of the South) yang bermarkas di Pangkalan Udara Nevatim.
Secara konsep, pengenalan tangki eksternal atau konformal dengan kemampuan siluman rendah pada F-35I Adir dimaksudkan untuk memperpanjang jangkauan maupun radius tempur serta daya tahan pesawat ini secara signifikan.
Sumber terbuka menyebut F-35A memiliki radius tempur sekitar 1.000 km ketika beroperasi hanya dengan bahan bakar internal dalam profil serangan yang representatif. Terkhusus F-35I mencapai 1.100 km.
Dengan penambahan kapasitas tangki bahan bakar tersebut, memungkinkan pesawat untuk melaksanakan misi lebih jauh tanpa pengisian bahan bakar dari pangkalan Israel ke target strategis yang dituju.
Hitung-hitungan di atas kertas menggambarkan bahwa jarak dari Israel ke target strategis di Iran sangat bergantung pada rute yang diambil.
Bila menggunakan rute langsung melewati Yordania dan Irak, jaraknya sekitar 1.200 km hingga 1.600 km satu kali jalan. Ini pun ttergantung targetnya, misalnya Teheran atau fasilitas nuklir di Natanz/Isfahan.
Kemudian bila menggunakan rute memutar melewati Arab Saudi atau Turkiye, bisa mencapai 1.800 km hingga 2.200 km satu kali jalan.
Untuk misi serangan, pesawat harus terbang pergi dan pulang (round trip), sehingga total jarak yang harus ditempuh adalah 2.400 km hingga 3.200 km.
Secara teori, peningkatan kapasitas bahan bakar dengan menambahkan drop tank atau CFT, hanya meningkatkan jangkauan terbang 30-40% lebih jauh. Artinya, jarak jangkau F-35I Adir akan meningkat menjadi sekitar 1.500 – 1.600 km.
Dengan asumsi tersebut, mustahil bagi F-35I untuk dapat melaksanakan misi penyerangan terhadap Iran dengan hanya mengandalkan tangki bahan bakar tambahan, karena tetap tidak mencukupi kebutuhannya.
Perlu diingat juga bahwa yang utama adalah F-35I membawa persenjataan untuk melaksanakan penyerangan. Sementara kita tahu bahwa ruang senjata internal F-35 sangat terbatas untuk dapat diperluas.
Dan, penggunaan senjata-senjata yang digantung pada tiang (pylon) di sayap pesawat, juga akan terbatas karena pesawat membawa muatan lain, yakni drop tank. Bila menggunakan CFT pun, beban muatan maksimal maksimal pesawat pun akan akan berkurang.
Artinya, peran pesawat tanker untuk menyuplai bahan bakar di udara bagi F-35I tetap diperlukan. Hanya saja, F-35I tidak akan “cepat haus” di udara bila membawa lebih banyak fuel.
Untuk mempertahankan mode siluman, F-35I dapat membuang drop tank yang sudah kosong di udara saat diperlukan.
Analis menghubungkan modifikasi jet F-35I Adir tersebut dengan persaingan abadi antara Israel dan Iran atas kemampuan nuklir dan rudal.
Dalam beberapa tahun terakhir, F-35I telah memainkan peran utama dalam kampanye serangan mendalam terhadap infrastruktur nuklir dan pertahanan udara Iran, termasuk Operasi Rising Lion.
Pada kesempatan yang sama, Leiter mengatakan bahwa pilot Israel telah mencatat lebih banyak jam terbang F-35 daripada operator asing lainnya.
Ia menambahkan bahwa Lockheed Martin mendapatkan banyak masukan dari para penerbang tempur Israel untuk peningkatan F-35, sesuatu yang bernilai miliaran bagi perusahaan, kata Leiter.
Kerja sama yang saling menguntungkan cuy…, memperoleh masukan langsung dari lapangan pada saat pesawat digunakan dalam pertempuran sesungguhnya… (RNS)
