US Navy sukses menguji rudal legendaris Harpoon Block II untuk serangan darat: Kok menggunakan F-15? Ini jawabannya
Boeing/US Navy AIRSPACE REVIEW – Angkatan Laut AS (US Navy) sukses menyelesaikan uji coba terakhir rudal antikapal Harpoon Block II menjadi rudal untuk serangan terhadap target di darat (land-attack). Dijadwalkan, rudal ini akan mulai dioperasikan pada tahun ini juga.
Uji coba tersebut telah dilakukan pada tanggal 16 Januari 2026, dipimpin oleh Kantor Program Senjata Serangan Presisi (PMA-201) bekerja sama dengan Boeing.
Uji coba dilaksanakan di Pangkalan Senjata Udara Angkatan Laut China Lake dan area uji maritim Point Mugu di California.
US Navy dalam siarannya mengatakan, uji coba serangan dilakukan terhadap target darat yang representatif, dengan semua parameter kinerja dan akurasi terpenuhi sesuai dengan penilaian awal.
Selama pengujian, rudal Harpoon Block II diluncurkan menggunakan pesawat F-15 dari ketinggian sekitar 12.000 kaki.
Profil penerbangannya rudal mencakup beberapa variasi ketinggian, dengan penurunan awal hingga sekitar 5.000 kaki setelah mencapai titik perantara yang diprogram, diikuti oleh pergerakan menuju area target, dan manuver akhir berupa terjun curam tepat sebelum benturan.
Jenis lintasan tersebut dirancang untuk meniru tuntutan operasional pertempuran pesisir modern, di mana senjata perlu bertransisi secara tepat antara lingkungan maritim dan darat dalam kondisi navigasi yang kompleks.
Kampanye uji terbang pembaruan Harpoon Block II disusun dalam tiga tahapan yang saling melengkapi.
Tahap pertama memvalidasi sistem panduan dan kinerja aerodinamis setelah mengganti komponen elektronik yang sudah usang.
Tahap kedua adalah uji kemampuan untuk menyerang target angkatan laut yang bergerak sambil mempertahankan kemampuan antikapal sistem tersebut.
Dan tahap ketiga adalah uji efektivitas terhadap target berbasis darat, menyoroti fleksibilitas operasional yang telah dicari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk operasi pesisir dan penolakan akses.
Komando Sistem Penerbangan US Navy menyatakan, peningkatan ini dikembangkan terutama untuk mengatasi keusangan komponen-komponen penting, sekaligus menggabungkan peningkatan dalam navigasi, keandalan, dan pemeliharaan.
Pendekatan ini memungkinkan perpanjangan masa pakai rudal legendaris Harpoon, menjaga agar rudal tetap relevan dengan ancaman kontemporer, tanpa perlu mengembangkan sistem baru dari awal, sehingga mengurangi jangka waktu dan biaya.
Modernisasi sistem rudal Harpoon terjadi dalam konteks yang lebih luas, yaitu penguatan kesiapan militer dan pengisian kembali persediaan senjata presisi, sebagaimana tren yang berkembang secara global saat ini akibat lanskap geopolitik yang tidak stabil.
Keberhasilan penyelesaian uji coba membuka jalan bagi pengiriman pertama Harpoon Block II Update paling cepat pada tahun 2026 ini.
Tidak hanya AS, melainkan juga bagi negara-negara sekutu yang mengoperasikan versi rudal tersebut dengan memperoleh manfaat dari paket peningkatan melalui program penjualan militer eksternal.
Karena Harpoon adalah salah satu rudal paling banyak digunakan di dunia, termasuk oleh banyak negara mitra AS, keberhasilan uji coba tersebut jelas membuka jalan cuan baru bagi AS.
Negara-negara pengguna Harpoon versi lama bisa melakukan upgrade tanpa harus mengganti seluruh infrastruktur peluncur mereka.
Jet Tempur F-15SA
Ada hal menarik dalam uji coba pembaruan rudal Harpoon Block II untuk serangan darat ini. Pertama, yang jelas adalah evolusi rudal antikapal Harpoon menjadi rudal untuk land-attack. Ini merupakan upaya yang inovatif, di mana rudal legendaris ini seakan “anti-pensiun” dengan evolusi ini.
Selain itu, mengubah stok rudal antikapal menjadi rudal serangan darat, menjadikan rudal ini dapat digunakan untuk misi-misi yang lebih luas lagi.
Ini sangat krusial dalam skenario perang modern, di mana target di daratan atau pesisir bisa berupa baterai rudal antikapal, instalasi militer, dan lainnya.
Alih-alih membuat rudal baru dari nol yang memakan biaya miliaran dolar dan waktu bertahun-tahun, AS memilih jalur Pembaruan Keusangan (Obsolescence Update) untuk meningkatkan peran rudal Harpoon lama.
Komponen elektronik tua pada rudal tersebut diganti dengan teknologi modern, seperti integrasi GPS/INS yang lebih presisi.
Langkah ini tentu menghemat anggaran sambil tetap mendapatkan senjata dengan kemampuan setara teknologi masa kini.
Hal menarik lainnya, tentu saja adalah penggunaan jet tempur F-15 untuk uji coba tersebut, sementara Angkatan Laut AS tidak mengoperasikan jet F-15.
Melihat nomor seri yang ada di ekor pesawat, yaitu 12-1002, ini adalah pesawat F-15SA (Saudi Advanced), salah satu varian tercanggih dari keluarga F-15 Eagle yang diproduksi oleh Boeing untuk Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (RSAF).
Pesawat ini merupakan turunan dari F-15E Strike Eagle, namun dengan integrasi sistem kendali fly-by-wire digital, radar AESA, dan dua stasiun senjata tambahan di sayap, yang tidak dimiliki varian lama.
Menurut catatan, pesawat F-15SA dengan nomor seri 12-1002 bukanlah pesawat operasional yang dipinjam dari RSAF, melainkan salah satu dari tiga unit prototipe/pesawat uji instrumen milik Boeing yang berbasis di fasilitas mereka di Palmdale, California.
Pesawat tersebut tetap berada di Amerika Serikat khusus untuk keperluan pengembangan, pengujian sistem baru, dan sertifikasi senjata sebelum diterapkan pada armada operasional.
Ada alasan khusus mengapa pesawat yang digunakan adalah F-15SA, yakni bahwa saat ini varian F-15 yang disertifikasi untuk membawa rudal Harpoon dan turunannya seperti SLAM-ER, secara khusus adalah varian F-15SA, dan juga F-15K Slam Eagle milik Korea Selatan.
Karena Boeing adalah kontraktor utama, baik untuk pesawat F-15SA maupun rudal Harpoon, menggunakan pesawat uji milik Boeing yang sudah terintegrasi dengan sistem peluncur Harpoon jauh lebih praktis dibanding harus memodifikasi pesawat F/A-18E/F Super Hornet milik US Navy dari awal untuk pengujian komponen elektronik baru ini.
Nantinya, US Navy akan mengoperasikan rudal Harpoon Block II berkemampuan serangan darat ini menggunakan jet tempur F/A-18E/F Super Hornet, pesawat patroli maritim P-8A Poseidon, dan juga F-35C Lightning II menggunakan tiang gantungan eksternalnya bila diperlukan. Demikian Bos… (RNS)

