Pesawat Il-76 Rusia yang dikenai sanksi AS mendarat di pangkalan militer Kuba dengan muatan yang tidak diketahui

Pesawat Il-76 Rusia yang dikenai sanksi AS mendarat di KubaVia X

AIRSPACE REVIEW – Sebuah pesawat angkut berat Il-76 buatan Rusia telah mendarat pada tanggal 1 Februari di lapangan terbang militer San Antonio de los Baños, dekat Havana, di Kuba.

Pesawat kargo tersebut didentifikasi milik Aviacon Zitotrans, sebuah perusahaan yang telah masuk dalam daftar sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Ukraina selama bertahun-tahun karena keterlibatannya secara langsung dalam memberikan dukungan logistik kepada sektor pertahanan Rusia, menurut Fox News .

Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa pesawat tersebut berangkat dari Rusia dengan singgah di St. Petersburg dan Sochi sebelum menyeberangi Atlantik.

Sepanjang perjalanan, Il-76 melakukan pemberhentian teknis di negara-negara Afrika Barat dan Karibia, termasuk Mauritania dan Republik Dominika, sebelum tiba di Kuba.

Setiap pendaratan memerlukan otorisasi resmi pemerintah, yang menurut analis pertahanan AS, memberikan gambaran jelas tentang negara mana yang terus mengizinkan pengoperasian pesawat Rusia yang dikenai sanksi meskipun ada pembatasan yang diberlakukan oleh Washington dan sekutunya.

Kedatangan pesawat di Kuba terjadi dalam konteks geopolitik yang sensitif dan mengingatkan pada pola yang diamati dalam operasi Rusia sebelumnya di Amerika Latin.

Pesawat yang sama ini, dan pesawat lain yang dioperasikan oleh Aviacon Zitotrans, telah dikaitkan, dalam laporan resmi dari Departemen Keuangan AS, dengan pengangkutan rudal, hulu ledak, dan komponen helikopter ke berbagai wilayah di dunia.

Pada Oktober 2025, pesawat Il-76 ini melakukan penerbangan ke Venezuela tak lama sebelum eskalasi militer yang berpuncak pada intervensi yang dipimpin AS dan perubahan kekuasaan di Caracas.

Selama periode itu, media pemerintah Rusia mengonfirmasi bahwa pesawat jenis yang sama telah mengangkut sistem pertahanan udara jarak pendek dan menengah, seperti Pantsir-S1 dan Buk-M2E, untuk memperkuat perlindungan instalasi strategis Venezuela.

Laporan terbaru dari pemerintah AS menyoroti bahwa Aviacon Zitotrans terus dipantau aktivitasnya di rute-rute yang dianggap sensitif, termasuk koneksi antara Rusia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, yang sering kali memanfaatkan celah diplomatik untuk mempertahankan operasinya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *