China Mulai Bangun Landasan Pacu Baru di Terumbu Antelope Laut China Selatan

China bangun landasan pacu baru di Terumbu AntelopeVia X
China bangun landasan pacu baru di Terumbu Antelope.

AIRSPACE REVIEW – China dilaporkan telah memulai pembangunan landasan pacu (airstrip) baru di Terumbu Antelope (Antelope Reef), Kepulauan Paracel, wilayah perairan sengketa Laut China Selatan. Laporan ini diungkapkan oleh Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI), sebuah proyek analisis dan informasi di bawah naungan Center for Strategic and International Studies (CSIS) asal Amerika Serikat.

Berdasarkan citra satelit bulan Agustus yang dirilis oleh Vantor dan AMTI, terlihat aktivitas pengerjaan tanah (earthwork). Walaupun pelapisan beton atau permukaan keras belum dilakukan dan pengerjaan baru mencakup sebagian kecil dari calon landasan, sejumlah petunjuk kuat mengonfirmasi adanya pembangunan pangkalan udara baru.

Landasan Udara dan Fasilitas Militer

Menurut temuan tim peneliti AMTI, terdapat beberapa indikator utama yang menunjukkan pembangunan fasilitas penerbangan militer di lokasi tersebut. Bagian tanah yang sedang dibentuk menjadi landasan pacu memiliki lebar sekitar 55 meter, identik dengan standar lebar landasan pacu yang dibangun China di wilayah Laut China Selatan lainnya, seperti di Terumbu Fiery Cross, Subi, Mischief (Kepulauan Spratly), dan Pulau Woody (Kepulauan Paracel).

Pengerjaan difokuskan di sepanjang tepi barat laut terumbu, yaitu satu-satunya area lurus yang memungkinkan pembangunan landasan sepanjang sekitar 3 kilometer. Pengerjaan tanah di bagian utara juga mengindikasikan rencana perpanjangan di seluruh tepi terumbu.

Di dekat calon landasan pacu, terlihat galian pondasi berukuran sekitar 61 × 61 meter. Dimensi ini sesuai dengan ukuran hangar pesawat berukuran besar yang ada di pangkalan udara China lainnya di kawasan tersebut.

Sementara itu, dua unit pabrik beton sementara yang muncul sejak akhir musim semi di tepi barat laut dan selatan laguna diperkirakan akan menjadi pemasok utama material pembangunan infrastruktur permanen.

Transformasi Pulau Buatan

Meski proyek infrastruktur besar ini baru dimulai, bentuk fisik Terumbu Antelope telah mengalami perubahan drastis. Aktivitas pengerukan dan reklamasi daratan diperkirakan telah selesai karena kapal pengeruk (dredger) tidak lagi terlihat pada gambar citra satelit terbaru.

Area pulau buatan hasil reklamasi China kini diperkirakan mencapai sekitar 590 hektar. Jumlah ini melonjak drastis dibandingkan dengan luas alami terumbu yang awalnya hanya sekitar 1 hektar.

Selain itu, beberapa bangunan baru, area hijau, dan lahan parkir beraspal telah didirikan dalam beberapa bulan terakhir, mengubah pos terdepan yang terisolasi ini menjadi pusat administratif khas pulau-pulau buatan China.

Konstelasi Sengketa di Laut China Selatan

Laut China Selatan, yang mencakup wilayah seluas lebih dari 3,5 juta kilometer persegi, merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan maritim global. Perairan ini menjadi pusat sengketa tumpang-tindih antara Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, China, Taiwan, dan Vietnam.

China mengklaim hampir 90 persen perairan tersebut berdasarkan klaim hak historis yang digambarkan melalui peta Nine-Dash Line (Sembilan Garis Putus-putus) sejak tahun 1953. Klaim ini dianggap melanggar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara tetangganya.

Khusus untuk Kepulauan Paracel, wilayah ini disengketakan oleh China, Taiwan, dan Vietnam. China telah menguasai kawasan tersebut secara de facto sejak pertempuran singkat satu hari melawan Vietnam pada tahun 1974.

Meskipun Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag pada tahun 2016 telah membatalkan dasar hukum klaim historis China, hingga kini belum ada keputusan internasional yang diakui secara luas mengenai kedaulatan atas kepulauan tersebut.

Di sisi lain, merespons peningkatan aktivitas militer dan ekspansi Tiongkok di kawasan tersebut, Vietnam dilaporkan juga mempercepat pembentukan daratan buatan di Kepulauan Spratly guna memperkecil ketimpangan dominasi wilayah. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *