Hanya Punya 6 MiG-29UB Pemberian Rusia, Mongolia Merasa Perlu Mengakuisisi L-39NG Skyfox dari Ceko

L-39NG uji senjataAero Vodochody
Jet L-39NG melaksanakan uji persenjataan.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Mongolia berpotensi menjadi pembeli terbaru dari pesawat latih tempur L-39NG Skyfox buatan Republik Ceko. Rencana modernisasi ini menjadi sorotan menarik mengingat saat ini seluruh kekuatan jet udara Mongolia hanya bergantung pada enam unit MiG-29UB, pesawat yang dulunya didapatkan secara cuma-cuma dari Rusia.

Kepastian mengenai ketertarikan Mongolia ini mengemuka dalam ajang pameran pertahanan Forum Future Force yang berlangsung di Ceko baru-baru ini.

Di sela-sela forum internasional tersebut, perwakilan Kementerian Pertahanan Mongolia resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan pertahanan asal Ceko, Omnipol Group. Kesepakatan awal ini mencakup rencana pengadaan setidaknya satu unit pesawat angkut L-410NG untuk tahun 2026.

Di saat yang sama, pihak Mongolia juga mulai menjajaki minat untuk mengadopsi jet L-39NG Skyfox, meskipun hingga kini belum ada rincian spesifik terkait jumlah unit maupun jadwal pengirimannya.

Kemampuan Antidrone Baru

Momentum pameran tersebut juga dimanfaatkan oleh Omnipol Group untuk memperkenalkan pod pembidik terbaru bernama Phoenix Pod, yang dikembangkan secara kolaboratif bersama perusahaan pertahanan Australia, Sinab Technologies.

Pengujian integrasi perangkat ini diklaim sukses dilakukan pada L-39NG Skyfox maupun L-410NG. Kehadiran Phoenix Pod secara signifikan meningkatkan kapabilitas kedua tipe pesawat tersebut, memungkinkan mereka untuk menjalankan misi pencegatan dan penanganan terhadap ancaman pesawat nirawak (UAV) musuh.

Langkah pembaruan Angkatan Udara Mongolia tidak lepas dari kondisi pertahanan udara negera tersebut yang terbilang unik dan terbatas. Saat ini, enam unit MiG-29UB yang hibah dari Rusia pada kurun 2019–2021 harus menjalankan peran ganda, yakni sebagai pesawat latih sekaligus tulang punggung pertahanan udara negara dengan persenjataan rudal udara ke udara jarak pendek R-60 dan R-73.

Armada ini menggantikan MiG-21 yang telah dipensiunkan sejak dekade 2010-an akibat habisnya usia pakai, di mana saat itu Mongolia belum mampu membeli jet baru secara mandiri.

Di samping itu, Mongolia sama sekali tidak memiliki sistem rudal permukaan-ke-udara (SAM), sehingga pertahanan daratnya hanya mengandalkan dua resimen dengan sekitar 150 unit artileri antipesawat lawas seperti ZU-23, S-60, dan ZPU-4.

Kerja Sama Pertahanan Internasional

Meskipun letak geografisnya terkurung daratan dan hanya berbatasan langsung dengan Rusia dan Tiongkok, Mongolia tetap aktif memperluas kemitraan pertahanan dengan negara-negara NATO, termasuk menjadi salah satu penerima kendaraan lapis baja JLTV dari Amerika Serikat.

Di sisi lain, dinamika industri penerbangan Ceko sendiri mengalami perubahan signifikan setelah Omnipol Group resmi mengambil alih penuh produksi pesawat L-410 dari tangan pemilik Rusia pada April 2022, sekaligus memegang 25 persen saham di Aero Vodochody selaku produsen utama jet L-39NG Skyfox. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *