Sudah Punya F-16 dan Typhoon, Mengapa Oman Masih Menjajaki jet tempur JF-17 Thunder?

Jet tempur F-16 OmanLockheed Martin
Jet tempur F-16 Oman.

AIRSPACE REVIEW – Rencana Kesultanan Oman untuk menjajaki pembelian jet tempur CAC/PAC JF-17 Thunder buatan kolaborasi Pakistan dan China menjadi salah satu sinyal pergeseran dinamika pertahanan yang paling menarik di kawasan Teluk.

Selama ini, Angkatan Udara Oman mengandalkan alutsista berstandar Barat dengan mengoperasikan jet tempur F-16 Block 50/52 buatan Amerika Serikat serta Eurofighter Typhoon dari konsorsium Eropa.

Langkah diplomasi yang ditandai dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi ke Islamabad dalam forum Joint Ministerial Commission ke-8 menunjukkan bahwa Muscat mulai membuka pintu bagi variasi alutsista dari blok non-Barat.

Penjajakan ini membawa dimensi politik-militer yang strategis, mengingat Oman memegang peran kunci dalam menjaga stabilitas keamanan di sekitar Semenanjung Musandam dan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Sudut Pandang Lain

Dari sudut pandang operasional dan taktis, kehadiran opsi JF-17 Block III menawarkan solusi yang masuk akal bagi kebutuhan patroli wilayah udara dan maritim Oman. Varian terbaru dari jet tempur JF-17 sudah dilengkapi dengan radar AESA KLJ-7A yang mampu melacak belasan target secara simultan, sistem penjejak helm canggih, serta kapabilitas mengusung rudal jarak jauh beyond visual range (BVR) jenis PL-15E.

Selain itu, kemampuan pengisian bahan bakar di udara dan kompatibilitas tangki bahan bakar eksternal membuat JF-17 memiliki daya jelajah yang cukup tinggi untuk mengawal wilayah perbatasan dari Selat Hormuz hingga kawasan Dhofar di selatan.

Mengingat biaya operasional jet tempur kelas berat Barat sangat menguras anggaran, mengoperasikan pesawat supersonik dengan biaya terbang per jam yang lebih efisien menjadi opsi yang sangat menarik untuk melengkapi atau menggantikan armada udara pendukung seperti pesawat latih tempur Hawk 200.

Tantangan Integrasi Logistik

Di sisi yang lain, meskipun tawaran harga dan efisiensi JF-17 cukup menggiurkan, Oman dipastikan akan menghadapi tantangan integrasi logistik dan operasional yang sangat kompleks jika benar-benar mengeksekusi pembelian ini.

Pengoperasian JF-17 akan melahirkan armada tiga jalur bagi Oman, di mana pesawat tempur buatan Amerika Serikat, Eropa, dan China-Pakistan harus berada di bawah satu komando udara.

Sistem avionik, stasiun komunikasi, serta jaringan data link berbasis standar China pada JF-17 tidak serta-merta kompatibel dengan jet F-16 maupun Typhoon milik Oman. Hal ini menuntut adanya investasi ekstra pada sistem integrasi udara, penyediaan suku cadang dari rantai pasok yang berbeda, hingga pelatihan ulang bagi teknisi dan penerbang yang selama ini terbiasa dengan doktrin militer Barat.

Tantangan pasokan global juga menjadi variabel penting yang harus dikalkulasi oleh Angkatan Udara Oman sebelum mengambil keputusan akhir.

JF-17 Thunder memuat ketergantungan komponen dari berbagai negara, mulai dari penggunaan mesin turbofan seri RD-93 buatan Rusia, avionik dan persenjataan utama dari China, hingga kursi pelontar buatan Martin-Baker asal Inggris.

Di sisi lain, fasilitas perakitan Pakistan Aeronautical Complex di Kamra saat ini juga sedang menangani kapasitas produksi untuk kebutuhan dalam negeri dan pemenuhan pesanan ekspor skala besar seperti Azerbaijan.

Potensi keterlambatan pasokan atau hambatan teknis seperti yang pernah dialami oleh pemesan awal seperti Myanmar menjadi catatan penting bagi Oman dalam menilai keandalan pemeliharaan jangka panjang pesawat ini.

Pada akhirnya, keberanian Oman untuk membuka negosiasi terkait JF-17 bukan hanya perkara pengadaan alat utama sistem persenjataan semata, melainkan manifestasi dari kebijakan diplomasi lindung nilai yang menjadi ciri khas geopolitik Muscat.

Posisi Netral

Di tengah persaingan kekuatan global yang kian memanas, Oman menegaskan posisinya sebagai negara netral yang bebas menentukan mitra strategisnya tanpa harus terikat secara kaku pada satu blok geopolitik tertentu.

Apabila kesepakatan ini berhasil diwujudkan, Oman tidak hanya akan meraih efisiensi operasional bagi armada udaranya, tetapi juga makin memperkuat tren adopsi jet tempur berteknologi China-Pakistan di kawasan Global South dan Timur Tengah.

Apa yang dilakukan Oman, sebenarnya juga mencerminkan apa yang dilakukan oleh Indonesia saat ini. Indonesia dengan beragam jet tempur yang dioperasikan, mulai dari F-16, Hawk 100/200, Su-27/30, Rafale, T-50i Golden Eagle, EMB-314 Super Tucano, dan rencana pengadaan berikutnya seperti J-10CE, M-346F, dan KF-21 Boramae, jauh lebih kompleks tantangannya dari sisi pengoperasian, pasokan suku cadang, dan pemeliharaannya.

Keputusan untuk membeli beragam alutsista, atau membatasi pada jenis dan sumber tertentu saja, sangat ditentukan oleh arah politik dan rencana strategis masing-masing negara dengan berbagai pertimbangannya. Jadi, mari kita nantikan dan lihat perkembangan ke depannya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *