Langkah Maju KAI: Jet FA-50 Kini Mampu Terbang Bersanding dengan Drone Otonom AAP
KAIAIRSPACE REVIEW – Korea Aerospace Industries (KAI) sukses menerbangkan jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle berdampingan dalam formasi rapat dengan drone bertenaga jet Adaptable Aerial Platform (AAP) pada 8 Oktober 2026.
Dengan pencapaian ini, Korea Selatan kini semakin mendekati babak baru dalam evolusi pertempuran udara modern melalui konsep kerja sama pesawat berawak dan nirawak (Manned-Unmanned Teaming/MUM-T).
KAI dalam rilisnya pada 12 Oktober menyatakan, pencapaian ini membuka jalan strategis bagi FA-50 dari sekadar jet tempur konvensional menjadi simpul komando udara (airborne command node).
Pesawat ini nantinya mampu memperluas jangkauan sensor, peperangan elektronik, misi pengecohan, hingga kapabilitas serangan melalui pengerahan banyak drone otonom di masa depan.
Uji coba penerbangan yang dilaksanakan di atas perairan sebelah selatan Goheung, Provinsi Jeolla Selatan tersebut berdurasi 20 menit. Jet FA-50 dan drone AAP terbang stabil pada ketinggian kurang lebih 7.000 kaki.
Disebutkan bahwa kecepatan kedua wahana dipatok pada 360 km/jam. Keduanya berhasil mempertahankan jarak pisah yang sangat rapat, yakni berkisar antara 9 hingga 30 meter.
KAI berencana memanfaatkan data telemetri dan penerbangan nyata dari uji coba ini untuk mengembangkan teknologi formasi multipesawat berbasis kecerdasan buatan (AI).
Tahap berikutnya dirancang untuk mendemonstrasikan skenario lanjutan. Pilot di dalam kokpit FA-50 nantinya dapat mengendalikan dan mengatur misi drone AAP secara langsung.
Apabila kapabilitas tingkat lanjut ini matang, FA-50 akan naik kelas. Pesawat ini tidak lagi terbatas sebagai pesawat tempur ringan multiguna konvensional.
FA-50 akan berfungsi sebagai pusat komando bergerak yang mengoordinasikan formasi tempur terdistribusi di medan perang.
Dikembangkan Sejak 2024
Sementara itu, AAP merupakan platform udara tak berawak berkecepatan tinggi dalam kategori kelas 150 kg. KAI mengembangkan drone ini secara mandiri melalui pendanaan internal perusahaan sejak tahun 2024.
AAP dengan panjang sekitar 3,1 m dan bentang sayap sekitar 2,2 m, ditenagai oleh mesin jet yang memungkinkannya terbang hingga kecepatan maksimum mencapai 790 km/jam.
Ukuran drone yang relatif ringkas memberikan keuntungan tersendiri. KAI menjadikannya jalur praktis dan ekonomis untuk menguji berbagai teknologi mutakhir.
Teknologi tersebut meliputi sistem otonomi, pemeliharaan formasi, komunikasi data (datalinks), serta manajemen misi. Seluruh teknologi ini nantinya akan ditransfer ke platform tempur tanpa awak yang berukuran lebih besar.
Dengan kata lain, AAP tidak sekadar diposisikan sebagai drone biasa. Wahana ini berfungsi sebagai laboratorium terbang hidup untuk menggodok ekosistem pertempuran udara masa depan Korea Selatan. (PN)
