Jalur Produksi Tutup, Armada Drone MQ-9A Reaper USAF Menyusut Hingga 135 Unit
USAFAIRSPACE REVIEW – Armada drone MQ-9A Reaper Angkatan Udara AS (USAF) dilaporkan telah menyusut menjadi sekitar 135 unit, sementara jalur produksinya di fasilitas General Atomics Aeronautical Systems (GA-ASI) masih tutup.
Sedangkan untuk memulai kembali produksi dapat memakan waktu dua hingga tiga tahun, sehingga membatasi kemampuan angkatan udara untuk dengan cepat mengganti kerugian tempur lebih lanjut.
Meskipun telah menyusut, USAF mengatakan masih dapat mempertahankan setidaknya 56 lini tempur di seluruh dunia, tetapi setiap lini harus membutuhkan beberapa drone untuk mempertahankan cakupan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, pengurangan inventaris menyebabkan berkurangnya waktu untuk pemeliharaan, pelatihan, dan penggantian drone di masa perang.
USAF dikabarkan harus kehilangan sejumlah MQ-9A miliknya saat digunakan dalam Operation Epic Fury melawan Iran, meskipun jumlah pastinya tak diungkapkan.
Sementara keputusan untuk melanjutkan produksi tidak akan menghasilkan drone pengganti dengan cukup cepat guna mengimbangi kerugian perang jangka pendek.
Proyek Pengganti Reaper
USAF sendiri tidak meminta pendanaan untuk MQ-9A baru dalam proposal anggaran tahun fiskal 2027, meskipun Korps Marinir (USMC) meminta lima drone MQ-9A tambahan.
USAF lebih memilih bergerak maju menuju penerus Reaper di masa depan yang saat ini proyeknya sedang berjalan dalam program Massed Modular Aircraft/MMA, yang rencana unitnya lebih murah sepertiga dibandingkan MQ-9A saat ini.
Unit Inovasi Pertahanan telah merilis permintaan penawaran komersial pada Juli 2026 dan berencana untuk memilih hingga empat perusahaan untuk pengembangan prototipe MMA.
Pendanaan pengadaan diharapkan mulai tahun fiskal 2028 dengan tujuan untuk mengoperasikan 500 drone pada tahun 2032.
Beroperasi Lebih dari 24 Jam
MQ-9A dengan bentang sayap 20,1 m dan berat lepas landas maksimum (MTOW) 4.760 kg ini didukung oleh mesin turboprop Honeywell TPE331-10GD yang menghasilkan daya 900 hp.
Drone intai tempur ini memiliki jangkauan 1.000 mil laut dan ketinggian operasi hingga 15.000 m, serta mampu bertahan di langit antara 20 hingga 27 jam penuh dalam sekali terbang.
Reaper dilengkapi Sistem Penargetan Multi-Spektralnya menggabungkan sensor TV inframerah dengan pencitraan inframerah gelombang pendek, dan penunjuk laser.
Untuk persenjataannya, drone dapat membawa rudal AGM-114 Hellfire aerta bom berpemandu presisi, termasuk GBU-12 Paveway II, GBU-38 Joint Direct Attack Munition, dan GBU-54 Laser JDAM. (RBS)
