Danai Pengadaan Senjata dan Pelatihan, Uni Eropa Kucurkan Rp115 Triliun untuk Ukraina
Via XAIRSPACE REVIEW – Negara-negara anggota Uni Eropa resmi menyepakati skema pengalokasian dana bantuan militer sebesar 6,6 miliar euro (sekitar Rp115 triliun) untuk Ukraina yang disalurkan melalui instrumen Fasilitas Perdamaian Eropa (European Peace Facility/EPF).
Keputusan strategis ini diumumkan langsung oleh Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, melalui media sosial X.
Kallas menegaskan, kesepakatan tersebut merupakan sinyal kuat dukungan penuh Eropa bagi kedaulatan Kyiv, sekaligus mempertegas posisi aliansi di tengah dinamika perang yang terus berlangsung.
Untuk Pertahanan Ukraina
Paket dana raksasa ini terbagi ke dalam tiga fokus alokasi utama untuk memperkuat kapasitas pertahanan Ukraina serta menjaga ketersediaan alutsista di kawasan.
Porsi terbesar, yakni senilai 4,7 miliar euro (sekitar Rp82,2 triliun), dialokasikan khusus sebagai dana kompensasi bagi negara-negara anggota Uni Eropa atas biaya peralatan militer dan persenjataan yang telah mereka pasok ke Ukraina.
Beberapa negara bahkan sudah menyatakan komitmennya untuk menyalurkan kembali dana kompensasi tersebut guna membeli alutsista baru bagi tentara Ukraina.
Sementara itu, sisa anggaran dialokasikan untuk memperkuat kapabilitas jangka panjang dan operasional pendukung.
Sebanyak 1 miliar euro (sekitar Rp17,5 triliun) disiapkan untuk mendanai pengadaan bersama (joint procurement) peralatan pertahanan baru dari industri manufaktur Eropa.
Adapun 900 juta euro (sekitar Rp15,7 triliun) sisanya dikucurkan untuk menyokong operasional Misi Bantuan Militer Uni Eropa (EU Military Assistance Mission) dalam melatih serta meningkatkan kapasitas personel militer Ukraina.
Ancaman Hibrida Moskow
Menanggapi maraknya ancaman dan serangan hibrida yang belakangan dilancarkan Moskow di kawasan Eropa, Kallas menilai upaya intimidasi tersebut justru memicu respons balik yang berlawanan dari negara-negara Benua Biru.
Menurutnya, alih-alih membuat Eropa gentar dan memangkas bantuan ke Kyiv, langkah Rusia justru makin memperkuat soliditas Uni Eropa.
Instrumen EPF sendiri, yang dibentuk sejak Maret 2021 di luar anggaran resmi Uni Eropa, terbukti makin krusial dalam mendanai Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Bersama guna menjaga stabilitas serta keandalan militer para mitra strategis kawasan. (ON)
