Hadapi Ancaman di Pasifik, Jepang Buka Opsi Tambah Kekuatan dengan Kapal Selam Nuklir

Rendering kapal selam nuklir AUKUS classBAE Systems
Rendering kapal selam nuklir AUKUS-class.

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Jepang secara terbuka menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan armada lautnya dengan kapal selam bertenaga nuklir. Langkah ini menandai pergeseran arah kebijakan yang sangat signifikan bagi negara yang selama ini bertumpu pada armada konvensional.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menyatakan Tokyo tidak mencoret opsi pengadaan kapal selam bertenaga nuklir seiring evaluasi terhadap kebutuhan masa depan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut belum berupa keputusan resmi untuk memulai program pengadaan, melainkan bentuk keterbukaan dalam mempertimbangkan opsi pertahanan di tingkat kementerian yang sebelumnya dianggap tabu.

Jepang Operasikan 22 Kapal Selam Konvensional Canggih

Saat ini JMSDF mengoperasikan 22 kapal selam konvensional yang tergolong paling canggih di dunia, termasuk kelas Taigei yang mengandalkan baterai litium-ion dan sistem Air-Independent Propulsion (AIP).

Namun, pesatnya modernisasi militer China serta ekspansi operasinya di Pasifik Barat mendorong Tokyo untuk mempertimbangkan kapal selam dengan daya jelajah (endurance) serta kecepatan bawah air yang jauh lebih tinggi.

Kapal selam jenis ini mampu bertahan di bawah permukaan air dalam jangka waktu yang sangat lama tanpa perlu sering muncul ke permukaan.

Kemampuan ini menjadikannya sarana ideal untuk misi pengawasan jarak jauh, operasi penangkalan maritim, hingga pengawalan armada kapal pendarat helikopter kelas Izumo yang kini dikonversi menjadi kapal induk jet tempur F-35B.

Doktrin Serangan Balik

Keberadaan kapal selam nuklir juga diproyeksikan bakal memperkuat doktrin serangan balik (counterstrike) Jepang yang sedang berkembang, khususnya sebagai platform peluncur rudal jelajah Tomahawk buatan Amerika Serikat maupun rudal Tipe 12 domestik yang telah ditingkatkan.

Dinamika ini kian relevan menyusul langkah tetangganya, Korea Selatan, yang juga mengonfirmasi rencana pengembangan kapal selam nuklir.

Selain memperjelas persaingan bawah laut di Asia Timur, perkembangan ini membuka peluang kerja sama yang lebih erat antara Jepang dan kemitraan AUKUS (Australia, Inggris, dan AS), baik dalam hal integrasi teknologi, pemeliharaan, maupun operasional bersama di Pasifik.

Tantangan Teknis dan Politis

Kendati demikian, pengamat menilai bahwa mengalihkan wacana menjadi program nyata bukan perkara mudah karena Jepang harus menghadapi tantangan teknis dan politik yang sangat besar.

Tokyo perlu membangun infrastruktur industri, regulasi reaktor, sistem penanganan material nuklir, hingga pelatihan personel khusus dari nol dengan biaya yang jauh lebih tinggi ketimbang kapal selam konvensional.

Di samping itu, iklim politik domestik yang amat sensitif terhadap isu nuklir akibat trauma sejarah Perang Dunia II akan menuntut transparansi publik yang tinggi.

Jika pemerintah Jepang pada akhirnya memutuskan untuk melangkah ke tahap studi desain dan pengadaan, peta keseimbangan kekuatan bawah laut di Pasifik Barat dipastikan bakal mengalami perubahan lanskap secara fundamental. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *