Tandingi Tiongkok, Pentagon Percepat Produksi Rudal Udara ke Udara Jarak Jauh AIM-260 JATM
Jonathan TweedyAIRSPACE REVIEW – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) resmi menjalin kesepakatan kerangka kerja baru dengan Lockheed Martin untuk mempercepat produksi dan pengiriman rudal udara ke udara generasi terbaru, AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM).
Langkah strategis ini diambil sebagai landasan pengadaan multitahun guna memperkuat rantai pasok industri pertahanan.
Selain itu juga untuk memastikan militer AS dan sekutunya tidak kehilangan keunggulan tempur udara dari Tiongkok, yang kian agresif mengoperasikan rudal jarak jauh canggih seperti PL-15.
Pengembangan AIM-260 dirancang memiliki ukuran fisik yang mirip dengan rudal standar AIM-120 AMRAAM, namun menawarkan daya jangkau yang jauh lebih jauh dan modern.
Super Hornet dan Raptor
Armada jet tempur F/A-18E/F Super Hornet Angkatan Laut AS dan F-22 Raptor Angkatan Udara AS diproyeksikan menjadi pesawat pertama yang akan mengoperasikan rudal ini.
Kedepannya, integrasi juga akan dilanjutkan ke berbagai varian F-35, jet tempur generasi keenam F-47, hingga pesawat nirawak tempur Collaborative Combat Aircraft (CCA).
Selain untuk kebutuhan domestik, Australia telah dikonfirmasi sebagai pembeli internasional pertama yang akan menyematkan AIM-260 pada armada F/A-18F, F-35A, EA-18G Growler, serta berpotensi pada drone MQ-28 Ghost Bat.
Meskipun program pengembangan AIM-260 berjalan di bawah kerahasiaan tinggi dan sempat mengalami penundaan dari target awal operasional pada tahun 2022, proses pengujian kini dilaporkan mengalami percepatan.
Komandan Pusat Pengujian Angkatan Udara AS, Brigjen Mark Massaro, mengonfirmasi bahwa pengujian baik di darat maupun lewat uji terbang terus menunjukkan kemajuan positif.
Kehadiran AIM-260 diharapkan dapat segera memperkuat jajaran amunisi udara AS di tengah munculnya berbagai proyek senjata jarak jauh lainnya seperti AIM-174B Gunslinger dan AIM-424 Malice.
Pengembangan sistem persenjataan berjarak tembak sangat jauh ini juga memicu persaingan ketat dalam doktrin pertempuran udara modern di kawasan Indo-Pasifik.
Para analis militer menilai bahwa kehadiran AIM-260 akan mengubah peta taktik pertempuran udara, di mana jet tempur generasi kelima dapat menetralisir ancaman musuh dari jarak aman sebelum terdeteksi radar lawan.
Ancaman Rudal Tiongkok
Langkah percepatan ini sekaligus menjadi jawaban tegas Washington atas kekhawatiran para komandan militer AS terhadap ancaman rudal Tiongkok yang berpotensi melumpuhkan pesawat pendukung kritis seperti pesawat tanker (aerial refueling) dan pesawat sistem peringatan dini (AWACS).
Di luar program AIM-260, Pentagon sejatinya tengah secara paralel mengembangkan ekosistem persenjataan udara jarak jauh yang lebih luas guna mengantisipasi ancaman maritim hingga beberapa dekade ke depan.
Integrasi beruntun dengan program rudal canggih lain, seperti AIM-174B berbasis rudal Standard Missile-6 hingga proyek rahasia AIM-424, menunjukkan komitmen penuh AS untuk mengamankan dominasi ruang udara.
Dengan mempercepat produksi serta membuka keran ekspor kepada sekutu utama seperti Australia, AS berupaya membangun jaring pertahanan maritim dan udara yang solid guna menjaga stabilitas kawasan Pasifik. (RW)
