Sempat Diblokir Obama, AS Kini Izinkan Arab Saudi Borong Ribuan JDAM Senilai Rp80 Triliun

Arab Saudi borong ribuan perangkat dan bom JDAM dari ASBoeing

AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui kemungkinan penjualan perangkat dan bom Joint Direct Attack Munition (JDAM) senilai 5 miliar USD (sekitar Rp80 triliun) ke Arab Saudi.

Ini merupakan salah satu paket amunisi tunggal terbesar yang disetujui Washington untuk pembeli asing dalam beberapa tahun terakhir.

Permintaan tersebut mencakup 5.004 kit pemandu KMU-572 dan 5.000 kit pemandu KMU-556, yaitu perangkat keras yang mengubah bom konvensional menjadi senjata presisi berpemandu GPS.

Penjualan ini juga untuk 5.004 bom, yakni BLU-111 (Mk 82) seberat 500 pon dan bom BLU-117 (Mk 80) seberat 2.000 pon untuk dipasangkan dengan kit tersebut.

Selain itu, juga sumbu ledak, detektor target, suku cadang, dan dukungan kontraktor dalam hal ini adalah Boeing.

Jangkauan Meningkat Tiga Kali

Dilaporkan, Arab Saudi membeli versi kit modular JDAM dengan jangkauan yang diperpanjang, yang dikenal sebagai JDAM-ER.

Varian ER menambahkan sayap yang dapat dilipat, sehingga jangkauan luncur senjata meningkat lebih dari tiga kali lipat JDAM standar, dari sekitar 15 mil (24 km) menjadi lebih dari 45 mil (72 km).

Dikembangkan bersama oleh Boeing dan pemerintah Australia, kit ini tidak menambah berat atau ukuran yang signifikan, sehingga dapat dipasang pada pesawat apa pun yang bisa membawa JDAM standar, dari jet serang F-15E hingga pembom B-52.

Jangkauan ekstra ini penting secara operasional karena memungkinkan pilot untuk melepaskan senjata lebih jauh dari titik pertahanan udara lawan.

Digunakan Menyerang Yaman

Arab Saudi sendiri telah membeli perangkat JDAM dari Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade, dan pembelian tersebut tidak selalu rutin.

Dalam kampanye militer melawan pasukan Houthi di Yaman, yang dimulai pada tahun 2015, jet tempur F-15S Arab Saudi menjatuhkan bom JDAM pasokan AS yang menewaskan warga sipil.

Akibatnya, Pemerintahan Obama sempat membekukan penjualan sistem pemandu presisi ke Arab Saudi pada Desember 2016. (RBS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *