Mirip Shahed-136 Iran, Drone D-248 Pakistan Diklaim Mampu Serang Target Sejauh 3.000 Km
The Pakistan ConnectAIRSPACE REVIEW – Peta persaingan militer kawasan mendadak memanas setelah Pakistan secara mengejutkan memamerkan D-248, sebuah drone kamikaze baru yang tampilan fisiknya sangat mirip dengan Shahed-136 buatan Iran.
Diperkenalkan oleh Heavy Industries Taxila (HIT) dalam ajang Indus Robotics and Autonomous Systems (RAS) Expo 2026 di Islamabad pada 22-23 Juli lalu, drone serang ini langsung menjadi sorotan utama dunia pertahanan lantaran diklaim sanggup menjangkau sasaran hingga 3.000 km.
Angka fantastis tersebut tak hanya melampaui daya jangkau mayoritas rudal konvensional milik Pakistan saat ini, tetapi juga mempertegas ambisi besar negara tersebut dalam membangun armada tempur nirawak mematikan, berdampingan dengan pengenalan drone jarak jauh lainnya seperti S-369.
Informasi mengenai keberadaan alutsista canggih Pakistan ini kemudian mengemuka setelah analis senior Pakistan, Mansoor Ali Khan, membahas video jurnalis asal Amerika Serikat, Mario Nawfal, dalam podcast miliknya.
Terbang 12-14 Jam
Secara kasat mata, D-248 memiliki kemiripan yang sangat mencolok dengan seri drone Shahed buatan Iran, khususnya Shahed-136, yaitu bersayap delta-wing tanpa ekor, struktur bodi yang padat, serta propeler di bagian belakang.
Dari segi spesifikasi teknis, drone dengan bentang sayap 3,3 m ini memiliki berat lepas landas maksimum 240 kg dan sanggup membawa muatan bahan peledak seberat 30 hingga 50 kg.
Dalam pengoperasiannya, D-248 diklaim mampu terbang hingga ketinggian 4.500 m dengan kecepatan jelajah 185 km/jam, kecepatan puncak 225 km/jam, serta memiliki daya tahan terbang mencapai 12 hingga 14 jam.
Meski pihak manufaktur mengklaim jangkauan operasionalnya sanggup menembus 3.000 km, klaim tersebut memicu skeptisisme dari kalangan pakar militer.
Untuk melaju sejauh itu dengan bobot total 240 kg, D-248 membutuhkan efisiensi bahan bakar yang sangat tinggi, bodi ultraringan, serta mesin yang tangguh beroperasi tanpa henti.
Diyakini Mengandalkan Teknologi Tiongkok
Ketidaktersediaan rincian teknis terkait jenis mesin, kapasitas bahan bakar, maupun sistem navigasi dari pihak produsen membuat analisis independen belum dapat memverifikasi performa luar biasa tersebut secara penuh.
Di balik tampilan luar yang mengadopsi gaya Iran, jeroan teknologi D-248 diyakini kuat mengandalkan dukungan dari Tiongkok.
Hal ini sejalan dengan rekam jejak industri pertahanan Pakistan yang selama dua dekade terakhir terhubung erat dengan teknologi militer Negeri Tirai Bambu, seperti pada proyek jet tempur JF-17.
Komponen vital seperti sistem navigasi satelit, komputer penerbangan otomatis, hingga material bodi diduga disuplai oleh vendor asal Tiongkok.
Terlebih lagi, HIT berlatar belakang sebagai produsen tank dan kendaraan tempur lapis baja, bukan manufaktur kedirgantaraan, yang mengindikasikan adanya keterlibatan besar dari pihak luar.
Tren Global Alutsista Modern
Pengembangan D-248 ini mencerminkan tren global modernisasi alutsista, di mana banyak negara mulai beralih memanfaatkan drone bunuh diri berbiaya rendah untuk mengincar sasaran strategis jauh di wilayah lawan.
Dibandingkan rudal jelajah atau balistik konvensional yang berbiaya sangat mahal, drone sekali pakai seperti ini menawarkan efisiensi tinggi serta kemampuan untuk menjenuhkan sistem pertahanan udara musuh.
Walau demikian, spesifikasi mengesankan D-248 sejauh ini masih berstatus klaim di atas kertas karena belum adanya bukti uji terbang, status kesiapan tempur, maupun rencana produksi massal yang dirilis secara resmi. (PN)
