Qatar Siap Boyong 4 Pesawat Tanker KC-46A Pegasus senilai Rp70 Triliun dari AS

KC-46AUSAF
Pesawat tanker Boeing KC-46A Pegasus.

AIRSPACE REVIEW – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat resmi menyetujui potensi penjualan empat unit pesawat tanker Boeing KC-46A Pegasus kepada Pemerintah Qatar senilai 4,5 miliar USD (setara Rp70 triliun).

Langkah ini diajukan melalui Penjualan Militer Asing (FMS) dan telah diberitahukan kepada Kongres AS.

Meskipun angka tersebut merupakan estimasi biaya maksimum dan belum berupa kontrak final, persetujuan ini menjadi sinyal kuat bagi lompatan signifikan kapabilitas Angkatan Udara Qatar.

Paket komprehensif yang ditawarkan Washington tidak hanya mencakup empat unit pesawat berbasis platform komersial Boeing 767, tetapi juga dukungan operasional jangka panjang.

Qatar diproyeksikan menerima delapan unit mesin Pratt & Whitney PW4062, di mana empat mesin terpasang dan empat lainnya disiapkan sebagai cadangan strategis.

Selain itu, kesepakatan ini mencakup suku cadang, peralatan pendukung, dokumentasi teknis, pelatihan personel, hingga dukungan logistik terpadu yang melibatkan Boeing sebagai kontraktor utama bersama mitra industri pertahanan AS seperti RTX dan Northrop Grumman.

Dilengkapi Radar Peringatan AN/ALR-69A

Satu elemen krusial yang disematkan dalam akuisisi ini terletak pada integrasi sistem kelangsungan hidup (survivability) level tinggi.

Pesawat tanker ini dibekali sepuluh penerima peringatan radar AN/ALR-69A untuk mendeteksi emisi radar musuh sejak dini.

Selain itu, disertakan pula lima belas Rakitan Pemancar Laser Guardian serta delapan unit prosesor cadangan untuk sistem Penanggulangan Inframerah Pesawat Besar (Large Aircraft Infrared Countermeasures/LAIRCM). Perangkat ini untuk memproteksi pesawat dari ancaman rudal pencari panas.

Interoperabilitas dengan Sistem AS

Dari sudut pandang taktis, hadirnya KC-46A Pegasus memecahkan keterbatasan radius operasi armada tempur Qatar.

Sebagai platform multiperan, Pegasus mampu membawa sekitar 96 ton bahan bakar menggunakan sistem boom rigid maupun hose-and-drogue (selang dan keranjang).

Keberadaan “SPBU terbang” ini memungkinkan jet tempur Qatar bertahan lebih lama di udara dan menjalankan misi jarak jauh tanpa bergantung pada pangkalan darat di dekat area operasi.

Di luar fungsi pengisian bahan bakar, interior fleksibel pesawat ini juga dapat dikonfigurasi untuk mengangkut personel, kargo, hingga evakuasi medis udara.

Rencana akuisisi ini sekaligus mempertegas posisi strategis Qatar di kawasan Teluk Persia.

Qatar memiliki Pangkalan Udara Al Udeid, salah satu markas militer dan pusat kendali operasi udara AS terpenting di Timur Tengah.

Dengan mengoperasikan KC-46A, interoperabilitas serta integrasi taktis antara pasukan Qatar, militer Amerika Serikat, dan koalisi sekutu akan meningkat pesat.

Memperkuat Benteng Pertahanan Udara

Langkah ini juga menjadi jawaban atas pencarian panjang Qatar terhadap armada pengisi bahan bakar udara, setelah sebelumnya rencana pembelian Airbus A330 MRTT tidak terwujud hingga pengiriman.

Jika proses pengadaan ini terealisasi hingga penandatanganan kontrak, Qatar akan mencatatkan nama sebagai operator internasional keempat pesawat KC-46A di dunia.

Info Lainnya: AS menyetujui penjualan sembilan pesawat tanker Beoing KC-46A Pegasus ke Jepang

Qatar bakal bergabung dengan lingkaran pengguna eksklusif yang saat ini diisi oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF), dan Angkatan Udara Israel (IAF).

Masuknya Qatar ke dalam program ini tidak hanya memperkuat benteng pertahanan udaranya sendiri, tetapi juga semakin memperluas jejak operasional platform turunan Boeing 767 dalam peta militer global. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *