Hujan rudal jarak jauh AS guncang Iran, perang terbuka memasuki babak baru

Pembom B-2 Spirit USAFUSAF
Pengebom siluman B-2 Spirit USAF.

AIRSPACE REVIEW – Ketegangan militer di Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara pembalasan berskala masif ke jantung infrastruktur militer Iran.

Langkah drastis ini diambil Komando Sentral AS (CENTCOM) menyusul serangan mendadak yang dilancarkan milisi pro-Iran dan Pasukan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) terhadap instalasi militer AS di Yordania dan kawasan Teluk Persia. Wilayah pesisir hingga pedalaman Iran kini menjadi sasaran tembak amunisi presisi tinggi dalam babak baru konflik yang mengancam stabilitas regional.

Laporan dari berbagai media internasional menggambarkan bahwa Washington tidak lagi mengambil risiko dengan menerjunkan pesawat tempur langsung di atas ruang udara Iran. Menghadapi barikade sistem pertahanan udara mematikan seperti S-300PMU2, Bavar-373, dan Khordad-15, militer AS sepenuhnya menerapkan doktrin Stand-Off Strike.

Armada pengebom strategis siluman B-2A Spirit diterbangkan langsung dari pangkalan di AS dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara, didampingi jet tempur F-15E Strike Eagle dan F-35A. Mereka melepaskan ratusan rudal jelajah AGM-158 JASSM dari luar jangkauan radar musuh, berkolaborasi dengan hujan rudal BGM-109 Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perusak dan kapal selam nuklir AS di Laut Arab.

Baca Juga: Konflik Selat Hormuz: Strategi Iran gunakan drone murah untuk lumpuhkan rantai pasok energi global

Serangan terukur tersebut menghantam berbagai simpul vital, mulai dari situs radar cakrawala Ghadir di Garmsar dan Ahvaz, pangkalan drone IRGC di Semnan, hingga kompleks penyimpanan rudal bawah tanah di Lorestan dan Kermanshah.

Perang Logistik Strategis yang Mahal

Meski Iran sempat mengaktifkan sistem peperangan elektronik buatan Rusia untuk mengacak sinyal pemandu amunisi AS, kecanggihan navigasi inersia dan pencari inframerah pada rudal-rudal Washington membuat sebagian besar target tetap terhantam.

Akibatnya, sejumlah simpul komando angkatan udara IRGC, peluncur rudal balistik Khorramshahr-4, serta pangkalan logistik di Bushehr dilaporkan mengalami kerusakan berat. Meski demikian, pihak Teheran mengklaim struktur komando utama mereka tetap aman berkat perlindungan jaringan serat optik bawah tanah yang dirancang tahan ledakan.

Baca Juga: Cerita di belakang layar “Operasi Palu Tengah Malam” dan taktik serangan pengebom B-2 AS terhadap fasilitas nuklir Iran

Dilihat dari kacamata strategi militer dan geopolitik, perseteruan ini telah bergeser dari konflik terbatas menjadi perang penggerusan (attrition war) berintensitas tinggi di udara. Keputusan AS untuk tidak melintasi ruang udara Iran secara langsung membuktikan efektifnya daya tawar sistem pertahanan udara Teheran.

Namun, langkah Washington yang menguras rudal-rudal jelajah seharga jutaan dolar demi menghantam target taktis Iran justru memperlihatkan celah ketimpangan biaya (cost-imbalance ratio). Iran berhasil memaksa sang negara adidaya bertempur dalam perang logistik strategis yang amat mahal, di mana persediaan amunisi mahal AS terus terkuras oleh taktik pertahanan berbiaya rendah dan pangkalan bawah tanah milik Iran. (RNS)

Catatan: Tulisan di atas disarikan dari Analisis Marsma TNI (Purn) Agung “Sharky” Sasongkojati, Pakar Strategi PPAU.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *