Rusia kantongi pesanan alutsista dari Indonesia: Paket lengkap termasuk Su-57 dan S-400

Su-57 dan S-400Russian MoD
Jet tempur Su-57 dan Sistem pertahanan udara S-400.

AIRSPACE REVIEW – Kemitraan militer antara Indonesia dan Rusia berpotensi memasuki babak baru yang amat signifikan. Kantor berita ekonomi Rusia, 1Prime, pada Aptil lalu melaporkan bahwa Moskow telah menerima pengajuan resmi dari Indonesia terkait rencana pengadaan senjata dan peralatan militer untuk periode 2025 hingga 2030.

Proposal yang kini sedang dalam tahap pemrosesan mendalam oleh eksportir senjata negara Rusia, Rosoboronexport, mencakup jajaran alutsista paling mutakhir Beruang Merah, mulai dari jet tempur siluman generasi kelima hingga sistem pertahanan udara tingkat tinggi.

Langkah ini menegaskan kembali rekam jejak panjang hubungan pertahanan kedua negara yang telah mengakar kuat sejak era Uni Soviet.

Namun, di tengah situasi geopolitik global yang dinamis serta ancaman sanksi sekunder dari negara-negara Barat, proposal megah ini memicu perhatian luas pengamat militer internasional.

Daftar Belanjaan Canggih Indonesia

Disebutkan bahwa paket proposal yang disiapkan mencakup armada tempur lintas dimensi untuk memodernisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di sektor udara, Indonesia mengajukan proposal untuk mengakuisisi jet tempur siluman Su-57E, jet tempur generasi ke-4++ Su-35, pesawat tanker udara Ilyushin Il-78MK-90A, helikopter serang Ka-52E Alligator, helikopter angkut Mi-17, serta armada Unmanned Aerial Vehicle (UAV/Drone).

Di sektor pertahanan udara, Jakarta mengajukan proposal akuisisi S-400 Triumf dan S-350E Vityaz. Sistem rudal antipesawat jarak jauh dan menengah ini sanggup melacak serta menghancurkan target aerodinamis hingga rudal balistik.

Baca Juga: Rusia terima pengajuan Indonesia untuk mengakuisisi jet tanker Ilyushin Il-78MK-90A

Selain S-400 dan S-300, ada juga Pantsir-S1M dan Verba, yaitu sistem pertahanan titik (point defense) jarak dekat dan MANPADS untuk menangkal ancaman udara berkecepatan rendah hingga amunisi presisi.

Kemudian sistem antidrone mutakhir untuk menghadapi ancaman perang modern berbasis drone kamikaze.

Sementara di sektor darat dan maritim, Indonesia mengajukan kendaraan tempur lapis baja amfibi yaitu tank ringan amfibi Sprut-SDM1 dan kendaraan tempur infanteri BMP-3F untuk Korps Marinir TNI AL. Kemudian untuk TNI AL ada kapal selam diesel-elektrik dan kapal patroli pantai (coastal defense ships) untuk menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia yang luas.

Akar Historis yang Kuat

Langkah Indonesia melirik alutsista Rusia bukanlah hal baru. Sejak dekade 1960-an di bawah pemerintahan Presiden Soekarno, peralatan militer Soviet telah menjadi tulang punggung kekuatan TNI, khususnya saat operasi pembebasan Irian Barat.

Dalam beberapa dekade terakhir, kerja sama ini terus berlanjut secara konsisten. TNI AU telah mengoperasikan jet tempur Su-27 SK/SKM dan Su-30 MK/MK2, sementara TNI AD dan Marinir TNI AL diperkuat oleh helikopter serang Mi-35, helikopter angkut Mi-17, kendaraan tempur BMP-3F, serta panser BTR-80A.

Keandalan alutsista Rusia di medan tropis menjadi salah satu alasan utama mengapa opsi ini tetap menarik bagi para perencana pertahanan Indonesia.

Peluang, Tantangan, dan Geopolitik

Meskipun tawaran ini menawarkan lonjakan kemampuan militer yang signifikan bagi Indonesia, realisasinya diprediksi masih menemui hambatan. Analis menyebut tantangan terbesar datang dari regulasi AS berupa Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA). Sanksi ini mengintai negara mana pun yang melakukan transaksi signifikan dengan sektor pertahanan Rusia.

Sementara itu, kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas-aktif mendorong TNI untuk tidak bergantung pada satu produsen saja. Di saat yang sama, Indonesia juga menjalin kerja sama pertahanan dengan negara-negara Barat seperti Prancis (jet tempur Rafale) dan Amerika Serikat (F-15EX), serta Korea Selatan (KF-21 Boramae).

Sesuai UU No. 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, setiap pembelian alutsista luar negeri wajib menyertakan skema imbal dagang dan transfer teknologi (ToT) untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, dan PT Pindad. (AF)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Firman berkata:

    Bismillahirohmannirohim, semoga bukan mimpi di siang bolong

  2. iwan pansir berkata:

    Gak usah mimpi, buktikan dulu itu 11 SU35, sudah deal loh, kok gak kirim😁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *