Selamatkan program E-7 Wedgetail, Pentagon balik arah dan kucurkan dana Rp25 triliun
Boeing/USAF AIRSPACE REVIEW – Setelah sempat mengusulkan pembatalan program pesawat E-7 Wedgetail tahun lalu, Departemen Perang AS (Pentagon) kini balik arah dan meminta kongres menyuntikkan dana sebesar 1,55 miliar USD (sekitar Rp25,4 triliun) demi menyelamatkan pengembangan pesawat ini.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk menggantikan armada E-3 Sentry yang kian menua.
Permintaan anggaran baru ini diajukan melalui amandemen anggaran Tahun Anggaran (TA) 2027. Dana tersebut rencananya akan dialihkan dari program rahasia Angkatan Udara AS (USAF) serta anggaran yang awalnya dialokasikan untuk pengadaan pesawat E-2D Advanced Hawkeye milik Angkatan Laut AS (US Navy).
Kendati demikian, rencana pemotongan anggaran penerbangan angkatan laut ini langsung mendapat penolakan dari Kongres, meskipun mereka tetap setuju untuk mendanai program Wedgetail.
Perubahan Sudut Pandang Pentagon
Pada tahun 2025, Pentagon bersikeras menghentikan program E-7 dengan argumen bahwa teknologi masa depan, seperti arsitektur luar angkasa, sensor terdistribusi, dan jaringan berbagi data, nantinya dapat mengambil alih misi yang saat ini dijalankan oleh pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System).
Namun, usulan tersebut ditentang keras oleh anggota parlemen, militer, dan pengamat pertahanan.
Mereka menilai belum ada satu pun dari teknologi tersebut yang siap menggantikan peran platform udara khusus manajemen pertempuran dalam jangka pendek.
Evolusi ancaman militer yang berkembang cepat dalam beberapa bulan terakhir, khususnya di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah, akhirnya memaksa Pentagon meninjau ulang keputusan mereka.
Otoritas pertahanan AS mengakui bahwa konflik modern masih sangat membutuhkan pesawat yang mampu mengoordinasikan operasi udara yang kompleks, mengendalikan formasi jet tempur dalam skala besar, serta mengintegrasikan data dari sensor darat, laut, luar angkasa, dan udara secara waktu nyata.
Kelanjutan Produksi Prototipe
Suntikan dana sebesar 1,55 miliar USD ini akan digunakan untuk menyelesaikan dua prototipe pertama E-7 versi Amerika Serikat serta melanjutkan pengembangan lima pesawat pada fase Rekayasa, Pengembangan, dan Manufaktur (EMD) yang telah dikontrak.
Ditegaskan bahwa fokus utama saat ini bukanlah menambah jumlah pesanan, melainkan mencegah keterlambatan jadwal produksi E-7.
Sebab, hal itu dapat mengganggu proses penggantian armada E-3 Sentry berbasis Boeing 707 yang sudah beroperasi sejak era 1970-an dan kini membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi.
Di sisi lain, Komite Alokasi DPR AS mendukung penuh pendanaan untuk Wedgetail, tetapi mereka mengembalikan anggaran sebesar 651 juta USD milik Angkatan Laut AS untuk memastikan pembelian enam unit E-2D Advanced Hawkeye tetap berjalan pada tahun 2027.
Anggota parlemen menegaskan bahwa Hawkeye dan Wedgetail memiliki peran yang saling melengkapi, sehingga melemahkan penerbangan AL demi mendanai AU justru akan menciptakan celah kerentanan baru.
Teknologi E-7 Wedgetail
E-7 Wedgetail dikembangkan menggunakan platform pesawat komersial Boeing 737 Next Generation. Pesawat ini dilengkapi dengan radar MESA (Multi-role Electronically Scanned Array) buatan Northrop Grumman Australia.
Berbeda dengan radar berputar tradisional pada pesawat AWACS lama, radar ini menggunakan antena tetap berpindai elektronik aktif (AESA) yang menawarkan cakupan 360 derajat tanpa komponen bergerak.
Teknologi ini memangkas biaya perawatan, meningkatkan keandalan, dan mampu melacak ratusan target sekaligus, termasuk pesawat, rudal jelajah, hingga kapal permukaan.
Saat ini, Boeing telah memulai proses konversi untuk dua pesawat pertama USAF di fasilitas mereka di Inggris untuk modifikasi struktural sebelum nantinya dikirim ke AS untuk integrasi sistem militer penuh dan uji terbang.
Meskipun kelanjutan program ini telah aman dalam jangka pendek, jumlah akhir armada yang akan dibeli oleh AS masih belum dipastikan.
Rencana awal menargetkan pengadaan 26 unit E-7, tetapi Pentagon belum mengajukan strategi pengadaan jangka panjang yang baru pasca-upaya pembatalan tersebut.
Kongres pun telah menginstruksikan USAF untuk menyerahkan rencana detail, termasuk jumlah pasti pesawat, lini masa produksi, dan perkiraan biaya, bersamaan dengan pengajuan anggaran tahun 2028 mendatang. (RNS)
