AS perpanjang masa pakai pengebom B-1B, komponen struktural sayap diganti baru

Pengebom B-1B Lancer USAFUSAF
Pengebom B-1B Lancer USAF.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) memutuskan untuk memperpanjang masa operasional armada pengebom strategis B-1B Lancer mereka.

Langkah ini diperkuat dengan pemberian kontrak bernilai jutaan dolar untuk memproduksi komponen struktural baru pada sayap pesawat.

Investasi ini dinilai sangat penting demi menjaga kesiapan armada sebelum pengebom siluman baru, B-21 Raider, resmi beroperasi dalam skala besar.

Badan Logistik Pertahanan AS (DLA) telah memberikan dua kontrak kepada perusahaan Top Flight Aerostructures dengan nilai gabungan yang dapat mencapai lebih dari 76 juta USD (sekitar Rp 1,24 triliun).

Perjanjian tersebut mencakup produksi komponen trailing edge (tepi belakang) dan ujung sayap baru untuk armada B-1B. Target pengiriman dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2029.

Mengatasi Keausan Sayap Sayung Variabel

Meskipun komponen-komponen tersebut terlihat sederhana, struktur ini memiliki peran yang sangat vital bagi performa pesawat.

B-1B Lancer mengandalkan sistem sayap geometri variabel (sayap sayung variabel), yang berarti sudut sayap dapat berubah-ubah selama penerbangan untuk mengoptimalkan kinerja di berbagai misi.

Saat sayap direntangkan (terbuka), pesawat mendapatkan daya angkat lebih besar untuk lepas landas dan mendarat.

Sebaliknya, saat sayap ditarik ke belakang, pembom ini mampu melesat dalam kecepatan supersonik untuk melakukan misi penetrasi cepat.

Namun, sistem canggih yang dikembangkan beberapa dekade lalu ini menyebabkan tingkat keausan struktural yang sangat tinggi.

Mengingat pesawat B-1B terakhir dikirim ke USAF pada tahun 1988 —yang berarti pesawat termuda di armada ini sudah mendekati usia 40 tahun— banyak komponen struktural yang telah mencapai batas usia pakainya dan wajib diganti demi keselamatan terbang.

Upgrade Kemampuan Tempur dan Senjata Hipersonik

Dari 100 unit yang diproduksi awalnya, saat ini tersisa sekitar 45 unit B-1B yang masih aktif beroperasi.

Selain memperbarui struktur fisik, USAF juga berencana meningkatkan kemampuan tempur pembom ini melalui proyek Load Adaptable Modular (LAM) yang dikembangkan oleh Boeing.

Proyek LAM ini memungkinkan pemasangan pilon (pylon) eksternal baru yang mampu membawa persenjataan berukuran besar yang tidak muat di dalam kompartemen internal pesawat.

Pilon baru ini dirancang untuk menahan beban lebih dari 5.000 pon, membuka jalan bagi integrasi rudal penyerang jarak jauh dan senjata hipersonik masa depan.

Saat ini, B-1B sendiri sudah menjadi platform utama bagi rudal antikapal canggih AGM-158C LRASM.

Kombinasi kecepatan, daya jangkau, dan kapasitas muatan hingga 34 ton menjadikan Lancer aset strategis yang sangat krusial, khususnya untuk operasi di wilayah Indo-Pasifik.

Beroperasi Hingga 2037

Berdasarkan dokumen anggaran Departemen Angkatan Udara AS, pemerintah Amerika Serikat berencana mengucurkan dana sekitar 342 juta USD (sekitar Rp 5,6 triliun) untuk program modernisasi B-1B antara tahun 2027 hingga 2031.

Tujuan utama dari investasi besar-besaran ini adalah memastikan pembom Lancer tetap layak beroperasi setidaknya hingga tahun 2037.

Pada periode tersebut, pembom siluman generasi terbaru B-21 Raider diharapkan sudah siap sepenuhnya untuk mengambil alih misi pemboman strategis jarak jauh secara bertahap.

Melalui pembaruan struktur sayap dan modernisasi sistem senjata ini, sang veteran B-1B Lancer dipastikan tetap memegang peran sentral dalam strategi militer jangkauan global AS selama masa transisi ke generasi berikutnya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *