Finlandia menguji drone pencegat Hornet Block-1 buatan Ukraina yang telah teruji perang
RuotuvakiAIRSPACE REVIEW – Militer Finlandia tengah membangun kemampuannya untuk melawan atau menembak jatuh pesawat nirawak yang kini telah menjadi ancaman utama dalam perang modern.
Dalam beberapa minggu terakhir, Angkatan Pertahanan Finlandia menyelenggarakan kegiatan pengujian langsung sistem antidrone dari beberapa perusahaan untuk dievaluasi.
Penilaian evaluasi ini didasarkan pada kemampuan sistem pencegat dalam memperoleh, melacak, dan menghancurkan target secara otonom.
Di antara sistem yang diuji adalah Hornet Block-1 dari Destinus, perusahaan pertahanan dari Ukraina. Drone ini telah digunakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina melawan drone kamikaze Rusia.
Mampu Beroperasi di Lingkungan Tanpa Sinyal GNSS
Mengenai Hornet Block 1, drone ini menggunakan panduan radar awal untuk terbang menuju ancaman yang datang, kemudian beralih ke pencari elektro-optik dan inframerah yang dibantu kecerdasan buatan (AI) untuk fase akhir intersepsi.
Salah satu keunggulan sistem ini adalah kemampuannya beroperasi di lingkungan tanpa sinyal GNSS, artinya tidak bergantung pada sinyal GPS yang dapat diganggu atau dipalsukan sistem EW lawan.
Kategori ancaman yang dirancang untuk ditangani oleh Hornet Block 1 mencakup drone Grup 3, klasifikasi militer untuk pesawat tanpa awak dengan berat antara 25 kg hingga 600 kg, dan terbang pada ketinggian hingga 5.500 m.
Jangkauan Operasi Lebih dari 75 Km
Hornet Block-1 dibekali muatan hulu ledak 1,5 kg dan memiliki jangkauan operasi lebih dari 75 km. Drone terbang dengan kecepatan hingga 300 km/jam.
Perusahaan Destinus didirikan oleh Mikhail Kokorich dan Oleksandr Danylyuk, mantan Menteri Keuangan Ukraina dari tahun 2016 hingga 2018 serta menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan & Pertahanan Nasional Ukraina.
Selain sistem antidrone, Destinus juga telah memasok drone rudal (kombinasi drone dan rudal jelajah) Ruta kepada Angkatan Bersenjata Ukraina pada 2024. (RBS)
