Harlem Hellfighters, “Resimen Kulit Hitam” paling ditakuti dalam Perang Dunia I
Wikimedia AIRSPACE REVIEW – Pada saat Amerika Serikat terjun ke kancah Perang Dunia I pada tahun 1917, puluhan ribu warga Afrika-Amerika dengan penuh semangat mendaftarkan diri ke militer untuk berperang.
Di dada mereka, tersimpan harapan besar untuk membuktikan kesetiaan kepada negara demi meruntuhkan tembok diskriminasi rasial dan hukum Jim Crow –sistem hukum yang melegalkan pemisahan antara warga kulit putih dan kulit hitam, terutama di negara-negara bagian selatan– yang kejam di tanah air mereka.
Namun, alih-alih disambut dengan tangan terbuka, mereka justru diasingkan!
Di tengah prasangka buruk tersebut, lahirlah sebuah unit militer yang kelak mengukir tinta emas dalam sejarah militer dunia, yaitu Resimen Infanteri ke-369, yang lebih dikenal dengan julukan legendaris mereka, “The Harlem Hellfighters”.
Awalnya dibentuk sebagai Resimen Garda Nasional New York ke-15, unit ini sebagian besar berisikan pemuda kulit hitam yang berbasis di Harlem, New York. Dari sini pula nama “Harlem Hellfighters” alias “Para Pejuang Neraka Harlem” dipilih.
Ketika dikirim ke Prancis pada Desember 1917 di bawah Komando Pasukan Ekspedisi Amerika (AEF) yang dipimpin Jenderal John J. Pershing, militer AS yang masih menerapkan sistem segregasi (pemisahan) tidak sudi membiarkan tentara kulit hitam bertempur di garis depan.
Akibatnya, Resimen ke-369 awalnya hanya diberi tugas-tugas rendahan (non-kombat), seperti menggali parit, membangun jalan, membersihkan jamban, dan menjadi kuli pelabuhan.
Pihak berwenang AS bahkan sempat mengedarkan selebaran rasis kepada sekutu mereka yang menyatakan bahwa tentara kulit hitam memiliki mentalitas inferior dan cenderung melakukan tindakan kriminal.
Namun, situasi berubah ketika militer Prancis yang kekurangan pasukan meminta bantuan bala bantuan. Jenderal Pershing memutuskan untuk “meminjamkan” Resimen ke-369 kepada Angkatan Darat ke-4 Prancis.
Bagi para prajurit Harlem, ini adalah berkah tersembunyi. Prancis menyambut mereka tanpa prasangka rasial.
Mereka dipersenjatai dengan senapan Prancis, diberikan helm khas Prancis (sembari tetap mempertahankan seragam AS mereka), dan langsung dilatih untuk bertempur di garis depan.
Begitu diterjunkan ke medan pertempuran pada musim semi 1918 di sektor Champagne, Resimen ke-369 langsung membungkam semua keraguan.
Mereka terlibat dalam pertempuran-pertempuran brutal, termasuk Pertahanan Champagne-Marne dan Ofensif Meuse-Argonne yang terkenal.
Keras kepala, pantang mundur, dan mengerikan dalam pertempuran jarak dekat, resimen ini menorehkan rekor luar biasa.
Mereka menghabiskan 191 hari berturut-turut di parit garis depan tanpa rotasi bantuan —lebih lama daripada unit Amerika mana pun selama perang berlangsung.
Ketangguhan mereka membuat musuh gemetar. Pasukan Kekaisaran Jerman lah yang pertama kali menjuluki mereka Höllenkämpfer (Hellfighters/Pejuang Neraka) karena mereka menolak mundur satu inci pun dan tidak pernah membiarkan satu pun parit mereka direbut.
Sementara itu, sekutu Prancis mereka menjuluki mereka Hommes de Bronze (Men of Bronze/Manusia Perunggu) sebagai bentuk kekaguman atas keberanian mereka.
Sepanjang perang, Resimen ke-369 memegang rekor impresif, tidak ada satu pun prajurit mereka yang pernah ditangkap hidup-hidup oleh musuh.
The Black Death
Bicara tentang Harlem Hellfighters tidak akan lengkap tanpa menyebut nama Henry Johnson. Seorang mantan portir kereta api bertubuh kecil dari Albany, New York, yang kelak menjadi salah satu pahlawan perang terbesar Amerika.
Pada malam tanggal 14 May 1918, Johnson dan rekannya, Needham Roberts, sedang berjaga di sebuah pos terdepan di Hutan Argonne. Tiba-tiba, pos mereka disergap oleh pasukan patroli Jerman yang berjumlah sekitar 20 hingga 30 orang.
Meski dihujani peluru dan granat serta menderita luka-luka parah, Johnson menolak menyerah. Ketika peluru senapannya habis dan senapannya macet, ia menggunakan senapannya sebagai pemukul.
Saat melihat tentara Jerman mencoba menawan Roberts yang terluka, Johnson mencabut pisau bolo (pisau besar pemotong semak) miliknya.
Dengan membabi buta dan penuh amarah, Johnson menebas dan menusuk tentara-tentara Jerman dalam pertempuran jarak dekat.
Ia berhasil membunuh seorang letnan Jerman dan melukai beberapa lainnya seorang diri, memaksa sisa pasukan Jerman mundur kocar-kacir malam itu.
Johnson menderita 21 luka akibat peluru, bayonet, dan pisau, namun berhasil menyelamatkan rekannya dan mempertahankan posisinya.
Atas aksi heroik yang luar biasa ini, Prancis menganugerahi Henry Johnson penghargaan Croix de Guerre dengan Palem Emas —penghargaan militer tertinggi Prancis untuk keberanian.
Ia menjadi orang Amerika pertama yang menerima kehormatan tersebut. Di medan perang, ia pun dijuluki sebagai “Black Death” (Kematian Hitam).
Selain menakutkan di medan perang, Harlem Hellfighters juga membawa pengaruh budaya yang besar ke Eropa.
Resimen ini memiliki unit korps musik legendaris bernama 369th Infantry Jazz Band yang dipimpin oleh musisi jenius James Reese Europe.
Di sela-sela waktu istirahat dari medan perang, band ini menghibur para tentara sekutu dan warga lokal Prancis dengan irama musik jazz dan ragtime Amerika yang belum pernah didengar masyarakat Eropa sebelumnya.
Melalui musik, mereka tidak hanya menaikkan moral pasukan, tetapi juga menanamkan benih popularitas musik jazz di benua Eropa yang bertahan hingga dekade-dekade berikutnya.
Kemenangan yang Pahit
Ketika Perang Dunia I berakhir, Harlem Hellfighters pulang sebagai salah satu resimen yang paling banyak menerima penghargaan. Lebih dari 500 anggotanya dianugerahi Croix de Guerre oleh pemerintah Prancis.
Pada awal tahun 1919, mereka disambut dengan parade kemenangan besar di New York City. Dipimpin oleh Henry Johnson yang saat itu telah berpangkat Sersan, 3.000 prajurit Men of Bronze berbaris dengan gagah menyusuri Fifth Avenue menuju Harlem diiringi sorak-sorai jutaan warga.
Namun, kemenangan itu terasa pahit. Pawai tersebut sengaja dipisahkan dari parade kemenangan utama militer karena mereka adalah tentara kulit hitam.
Sekembalinya ke kehidupan sipil, janji akan kesetaraan hak yang mereka perjuangkan di parit-parit Eropa menguap begitu saja. Diskriminasi rasial tetap berjalan seolah tidak ada yang berubah.
Bahkan, dokumen pemberhentian militer Henry Johnson sama sekali tidak mencantumkan 21 luka tembus yang dideritanya.
Tanpa tunjangan veteran dan menderita cacat fisik akibat perang, Johnson tidak dapat kembali bekerja. Ia meninggal dalam kemiskinan pada tahun 1929 di usia 36 tahun.
Penghormatan yang Terlambat
Sejarah tidak pernah melupakan darah yang tumpah demi kebebasan. Setelah penantian panjang selama hampir satu abad, keadilan sejarah akhirnya berpihak pada para pahlawan ini.
Tahun 2015, Presiden AS Barack Obama secara anumerta menganugerahi Henry Johnson penghargaan tertinggi militer AS, Medal of Honor.
Pada Agustus 2021, Kongres Amerika Serikat mengesahkan undang-undang untuk menganugerahi Harlem Hellfighters dengan Congressional Gold Medal —penghargaan sipil tertinggi di Amerika Serikat— sebagai bentuk pengakuan terlambat atas keberanian, dedikasi, dan pengorbanan mereka yang tak tertandingi bagi dunia.
The Harlem Hellfighters bukan hanya sekadar unit militer. Mereka adalah simbol perlawanan ganda.
Mereka berjuang melawan musuh di medan perang luar negeri, sekaligus bertempur melawan ketidakadilan di negeri sendiri. (RNS)
–Disarikan dari dokumentasi sejarah Perang Dunia I di War History Online.
