Rusia dituduh blokir sinyal GPS jet Falcon 900LX yang membawa Menteri Pertahanan Inggris

RAF Dassault Falcon 900LXUK MoD

AIRSPACE REVIEW – Sebuah insiden gangguan elektronik serius kembali memanaskan hubungan diplomatik dan militer antara Blok Barat dan Rusia.

Rusia dituduh berada di balik aksi pemblokiran (jamming) sinyal GPS terhadap pesawat eksekutif Angkatan Udara Inggris (RAF) yang sedang membawa Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, saat melintas di dekat wilayah perbatasan.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi ketika Healey sedang dalam perjalanan pulang menuju Inggris setelah melakukan kunjungan resmi ke Estonia untuk menemui pasukan militer Inggris yang ditempatkan di sana sebagai bagian dari misi pencegahan NATO.

Saat pesawat jet eksekutif berjenis Dassault Falcon 900LX tersebut, yang juga kerap digunakan oleh Raja Charles III, mendekati wilayah perbatasan Rusia, sistem navigasi satelitnya tiba-tiba kehilangan sinyal secara total.

Dampak dari serangan elektronik ini tidak hanya melumpuhkan fungsi GPS pesawat selama penerbangan tiga jam penuh, tetapi juga memutus koneksi internet pada perangkat pintar (smartphone) dan laptop milik seluruh penumpang dan jurnalis The Times yang berada di dalam pesawat.

Selain itu, beberapa bagian instrumen pada dasbor kokpit dilaporkan sempat mengalami gangguan fungsi.

Meskipun navigasi satelit mati total, kru pesawat RAF dilaporkan mampu mengatasi situasi darurat tersebut dengan sangat baik.

Pilot segera beralih menggunakan metode dan sistem navigasi alternatif non-satelit untuk menentukan lokasi dan menerbangkan pesawat hingga mendarat dengan selamat di tujuan.

Sinyal satelit pada jet tersebut tidak dapat dipulihkan di udara karena membutuhkan sistem operasi pesawat untuk dinyalakan ulang (reboot), suatu prosedur yang mustahil dan berbahaya jika dilakukan selama penerbangan berlangsung.

“Ini adalah tindakan interferensi Rusia yang sangat tidak bertanggung jawab (reckless), namun RAF telah dipersiapkan dengan sangat baik untuk menghadapi aktivitas semacam ini,” kata seorang sumber dari Kementerian Pertahanan Inggris kepada media.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah pesawat yang membawa Menhan Inggris tersebut sengaja dijadikan target utama secara personal, mengingat rute penerbangan pesawat pemerintah dapat dilacak secara bebas melalui situs pemantau penerbangan publik.

Rusia sendiri diketahui sering mengoperasikan peralatan pengacau GPS massal melalui kendaraan darat maupun armada udara di sepanjang perbatasannya.

Insiden ini menambah panjang daftar aksi sabotase hibrida di ruang udara Eropa Timur.

Sebelumnya pada Maret 2024, pesawat RAF yang membawa Menhan Inggris saat itu, Grant Shapps, mengalami gangguan sinyal GPS serupa selama 30 menit saat terbang di dekat wilayah Kaliningrad.

Kemudian pada September 2025, pesawat yang membawa Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bulgaria menggunakan peta kertas akibat gangguan GPS massal yang diduga kuat bersumber dari interferensi Rusia.

Situasi di ruang udara internasional ini kian menegang setelah beberapa hari sebelumnya, Kementerian Pertahanan Inggris juga melaporkan adanya insiden berbahaya di mana jet tempur Su-35 Rusia mencegat pesawat pengintai tidak bersenjata milik RAF di atas Laut Hitam hingga memicu sistem darurat pesawat aktif.

Inggris mengutuk keras rangkaian aksi tersebut dan menyebut perilaku pilot Rusia “berbahaya dan sama sekali tidak dapat diterima.” (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *