Armada Eagle menua, AS ambil langkah darurat borong F-15EX senilai Rp43 triliun

F-15EX Eagle IIUSAF
Jet tempur F-15EX Eagle II.

AIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) tengah mempersiapkan ekspansi besar-besaran terhadap kapasitas tempurnya melalui rencana pembelian darurat 24 unit jet tempur F-15EX Eagle II.

Langkah ini tertuang dalam proposal anggaran untuk tahun fiskal 2027 dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar 2,7 miliar USD (sekitar Rp 43,2 triliun).

Rencana tersebut menandai perubahan signifikan dalam strategi modernisasi penerbangan tempur AS, sekaligus memperkuat posisi F-15EX sebagai salah satu platform tempur utama dalam beberapa dekade mendatang.

Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penuaan armada F-15C/D Eagle yang telah menjalankan misi pertahanan udara selama lebih dari 40 tahun.

Banyak dari pesawat lawas tersebut kini membutuhkan biaya perawatan yang tinggi, mengalami keterbatasan struktural, serta penurunan ketersediaan operasional. Hal ini memaksa USAF untuk mempercepat rencana penggantian.

Selain itu, langkah darurat ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan pimpinan militer AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, USAF telah memperingatkan bahwa jumlah armada tempur mereka terus menyusut, sementara negara-negara rival potensial justru terus meningkatkan investasi mereka pada pesawat canggih, sistem antipesawat, dan kemampuan perang elektronik.

Untuk membalikkan tren tersebut, USAF berusaha mempercepat ritme akuisisi pesawat baru guna memulihkan kapasitas tempur yang hilang selama beberapa dekade terakhir.

Awalnya dirancang hanya sebagai solusi sementara untuk menggantikan F-15C/D, peran F-15EX kini berkembang menjadi jauh lebih penting dalam struktur kekuatan AS.

Rencana terbaru menunjukkan bahwa proyeksi armada F-15EX akan diperluas hingga mencapai 267 unit pesawat —angka yang melonjak lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya.

Jika target ini disetujui, Eagle II akan menjadi salah satu program jet tempur paling krusial bagi USAF hingga pertengahan abad ini.

Dikembangkan oleh Boeing berdasarkan versi canggih F-15QA dan F-15SA yang diproduksi untuk konsumen di Timur Tengah, F-15EX mengintegrasikan teknologi modern yang menempatkannya sebagai salah satu jet tempur generasi keempat tercanggih di dunia.

Pesawat ini memiliki struktur kokoh dengan perkiraan usia pakai mencapai 20.000 jam terbang, dilengkapi radar AESA AN/APG-82(V)1 generasi terbaru, sistem perang elektronik EPAWSS, serta arsitektur digital terbuka (open digital architecture) yang memungkinkan pembaruan perangkat lunak secara cepat dan integrasi persenjataan baru dengan mudah.

Di bagian kokpit, modifikasi total telah dilakukan dengan menyematkan layar digital panoramik besar mirip dengan yang ditemukan pada pesawat generasi kelima.

Sistem ini meningkatkan kesadaran situasional (situational awareness) pilot serta mempermudah integrasi dengan platform lain dalam operasi multidoamain.

Salah satu fitur paling memikat bagi para perencana militer adalah kapasitas angkut senjatanya. F-15EX mampu membawa sekitar 13,4 ton persenjataan yang didistribusikan ke 23 titik eksternal (hardpoints), menjadikannya jet tempur dengan kapasitas muatan terbesar di jajaran militer AS.

Konfigurasi ini memungkinkan pesawat membawa rudal udara ke udara jarak jauh dalam jumlah besar, bom berpemandu presisi, hingga rudal antikapal secara bersamaan.

Kemampuan masif ini mengubah Eagle II menjadi komponen penting dalam konsep operasional baru USAF.

Dalam skenario pertempuran modern, jet siluman seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II dapat bertindak di garis depan menggunakan kemampuan stealth mereka untuk mengidentifikasi dan melacak ancaman.

Sementara itu, F-15EX akan berjaga di posisi yang lebih aman di belakang, siap meluncurkan volume persenjataan besar ke target-target yang telah dideteksi oleh pesawat siluman tersebut.

Selain peran superioritas udara tradisionalnya, Eagle II dipersiapkan untuk membawa persenjataan jarak jauh masa depan, termasuk rudal hipersonik, sistem berbagi data tingkat lanjut, serta integrasi dengan drone otonom melalui program Collaborative Combat Aircraft (CCA).

Faktor lain yang mendorong perluasan program ini adalah kecepatan pengiriman pesawat.

Karena lini produksi Boeing sudah aktif berjalan, F-15EX menawarkan solusi berisiko rendah untuk mendongkrak jumlah jet tempur siap pakai secara cepat.

Langkah cepat ini menjadi prioritas utama bagi USAF di tengah lanskap geopolitik yang kian kompetitif dan memanas yang melibatkan raksasa militer seperti China dan Rusia.

Meskipun proposal anggaran 2027 juga mencakup pengadaan baru untuk F-35A, pesawat tanker KC-46A, dan investasi berkelanjutan pada pembom siluman B-21 Raider, keputusan untuk memperluas armada F-15EX membuktikan keyakinan USAF.

USAF percaya bahwa pesawat dengan jangkauan jauh, kapasitas muatan tinggi, dan biaya operasional yang relatif terkendali akan tetap memegang peran esensial, bahkan di era jet tempur siluman dan sistem generasi keenam masa depan. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Fr berkata:

    Pada akhirnya Amerika mengikuti pola Rusia yg mengutamakan SU35S/SM sebagai pespur gudang senjata bekerjasama dengan SU57 sebagai pelindung dan pemandu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *