AIRSPACE REVIEW – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima 10 poin syarat gencatan senjata selama dua minggu dari Iran sebagai dasar untuk melakukan negosiasi lebih lanjut.
Trump mengatakan hal itu melalui akun media sosialnya di Truth Social beberapa saat sebelum tenggat ancamannya untuk meluluhlantakkan Iran dalam satu malam.
“Berdasarkan percakapan saya dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan —di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan penghancur yang seharusnya dikirim malam ini ke Iran— dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN Selat Hormuz secara SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua sisi! Alasan melakukan hal ini adalah karena kita telah mencapai dan melampaui semua tujuan militer kita. Kami telah menerima 10 poin proposal dari Iran, dan saya yakin itu adalah basis yang masuk akal (workable basis) untuk dinegosiasikan,” tulis Trump.
Mencermati sepuluh poin syarat yang diajukan Iran, banyak pengamat menilai sebenarnya AS telah “kalah” dalam perang dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari tersebut.
Namun ada pula yang memandang langkah Trump ini sebagai taktik untuk seolah menyetujui, sementara di balik itu AS masih punya rencana-rencana lain yang tidak diungkapkan.
Keyakinan tersebut diperkuat dengan ucapan-ucapan Trump yang semakin inkonsisten akhir-akhir ini.
Sepuluh tuntutan Iran sejatinya adalah poin-poin yang sangat memberatkan atau bahkan “merugikan” AS dari sisi dominasi perannya di Timur Tengah, termasuk penarikan semua pasukan tempur AS dari Timur Tengah.
Dengan tidak adanya pasukan AS di Timur Tengah, artinya AS tidak punya “cengkraman” lagi untuk menekan kawasan tersebut. Berikut sepuluh poin syarat tuntutan tersebut.
- Jaminan Non-Agresi: Amerika Serikat harus memberikan jaminan prinsipil untuk tidak melakukan serangan atau agresi baru terhadap kedaulatan Iran.
- Kontrol Selat Hormuz: Pengakuan atas kontrol berkelanjutan Iran terhadap Selat Hormuz, dengan jaminan pembukaan jalur pelayaran yang aman bagi perdagangan global.
- Pengakuan Pengayaan Uranium: Penerimaan internasional (terutama AS) terhadap program pengayaan uranium Iran untuk tujuan damai.
- Pencabutan Sanksi Primer: Penghapusan seluruh sanksi ekonomi utama yang dijatuhkan secara langsung oleh Amerika Serikat.
- Pencabutan Sanksi Sekunder: Penghapusan sanksi terhadap pihak ketiga atau negara lain yang melakukan transaksi bisnis dengan Iran.
- Penghentian Resolusi DK PBB: Pengakhiran semua resolusi Dewan Keamanan PBB yang berkaitan dengan pembatasan atau sanksi terhadap Iran.
- Penghentian Resolusi IAEA: Pengakhiran semua resolusi dari Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menyasar program nuklir Iran.
- Pembayaran Kompensasi: Pembayaran biaya rekonstruksi dan kompensasi atas kerugian ekonomi yang dialami Iran akibat konflik dan sanksi.
- Penarikan Pasukan AS: Penarikan pasukan tempur Amerika Serikat dari wilayah Timur Tengah secara bertahap.
- Gencatan Senjata di Semua Lini: Penghentian total peperangan di semua front konflik regional, termasuk di Irak, Lebanon (Hezbollah), dan Yaman.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa militer Iran akan menghentikan “operasi defensif” segera setelah serangan AS berhenti.
Namun, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukan berarti perang berakhir, melainkan hanya jeda untuk melihat keseriusan AS dalam mencabut sanksi sesuai 10 poin tuntutan tersebut.
Negosiasi lanjutan dijadwalkan akan dimulai pada Jumat, 10 April 2026, di Islamabad. Banyak negara berharap perang di Iran dapat segera diakhiri dan menjadi momentum bagi pemulihan kondisi ekonomi dunia dan bukan merupakan “jebakan” bagi AS untuk menyiapkan peralatan perang lebih besar. (RNS)

