AIRSPACE REVIEW – Citra satelit terbaru mengungkap kerusakan parah di Pangkalan Udara Al-Udairi di Kuwait akibat serangan rudal dan drone terkoordinasi dari Iran.
Rekaman yang dirilis oleh IWN (Islamic World News, kelompok independen yang memantau kawasan MENA) menunjukkan hanggar yang hancur, peralatan militer yang rusak, dan tempat perlindungan personel yang hancur.
Pangkalan Udara Udairi, juga dikenal sebagai Camp Buehring, adalah salah satu pusat strategis terpenting Angkatan Darat AS (US Army) di Timur Tengah.
Terletak di gurun dekat perbatasan dengan Irak, pangkalan ini berfungsi sebagai pusat logistik utama bagi pasukan AS.
Camp Buehring mendukung operasi di seluruh wilayah Asia Barat, sebagai titik penempatan utama untuk penerbangan, artileri, dan kendaraan lapis baja.
Serangan Iran ini diduga menggunakan doktrin saturation attack untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Patriot yang menjaga pangkalan tersebut, seperti diberitakan Militarnyi pada 31 Maret.
Gelombang pertama dimulai dengan drone kamikaze seri Shahed yang bertugas menguras baterai pencegat rudal milik US Army.
Setelah pertahanan udara sibuk, Iran meluncurkan rudal balistik jarak menengah, yang kemungkinan adalah Zolfaghar. Rudal ini memiliki akurasi sangat tinggi.
Rudal Zolfaghar dikenal sulit dicegat karena memiliki hulu ledak yang dapat memisahkan diri (separable warhead) dengan tanda radar yang sangat kecil.
Keberhasilan rudal ini menembus beton perlindungan pangkalan membuktikan peningkatan drastis teknologi pemandu presisi milik Teheran.
Pengamat menilai, bagi Pentagon lumpuhnya Al-Udairi adalah pukulan telak karena pangkalan ini merupakan urat nadi logistik untuk seluruh operasi di Asia Barat.
Fasilitas di tengah gurun dekat perbatasan Irak ini berfungsi sebagai pusat distribusi utama bagi unit artileri dan kendaraan lapis baja.
Hancurnya pusat komando di pangkalan ini juga mengakibatkan “titik buta” dalam koordinasi misi tempur antara pasukan AS dan NATO.
Kini, Washington terpaksa merancang ulang rute suplai mereka dengan biaya operasional yang membengkak akibat hilangnya hub strategis ini.
Insiden ini juga memicu kecemasan global terhadap stabilitas Selat Hormuz sebagai jalur utama pasokan energi dunia.
Pemerintah Kuwait saat ini dilaporkan berada di posisi sulit, terjepit di antara aliansi keamanan dengan AS dan risiko menjadi target konflik terbuka.
Teheran telah mengirim pesan jelas bahwa pangkalan militer Barat mana pun di kawasan tersebut kini berada dalam jangkauan maut mereka. (RNS)

