AS siapkan rencana operasi khusus ke wilayah Iran: Ancaman perang darat di ambang mata
USMC AIRSPACE REVIEW – Ketegangan di Timur Tengah kini berada pada titik didih setelah Pentagon dilaporkan mulai menyusun rencana militer yang sangat spesifik untuk kemungkinan operasi darat di wilayah Iran.
Berbeda dengan kampanye militer masa lalu di Irak atau Afghanistan, strategi kali ini tidak dirancang sebagai invasi skala penuh yang menduduki negara tersebut dalam jangka panjang.
Sebaliknya, militer Amerika Serikat tengah mematangkan konsep serangan kilat atau agile raids yang diprediksi bisa berlangsung selama berminggu-minggu, dengan melibatkan kolaborasi antara pasukan operasi khusus dan unit infanteri konvensional.
Fokus utama dari rencana serangan ini adalah melumpuhkan titik-titik saraf ekonomi dan militer Iran di sepanjang garis pantai Teluk Persia.
Salah satu target yang paling santer dibicarakan adalah Pulau Kharg, yang merupakan hub ekspor minyak mentah paling vital bagi ekonomi Tehran.
Selain itu, Washington menargetkan situs-situs peluncuran rudal dan pangkalan drone di sepanjang Selat Hormuz guna memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ancaman Iran terhadap kapal-kapal dagang dan aset militer Amerika di kawasan tersebut.
Namun, operasi ini diakui membawa risiko yang sangat besar bagi personel militer Amerika Serikat.
Para perencana militer memperingatkan bahwa pasukan yang mendarat akan menghadapi “medan maut” yang terdiri dari ranjau darat, perangkat peledak improvisasi (IED), hingga serangan kawanan drone yang semakin canggih.
Situasi semakin rumit dengan adanya laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Iran kini mendapatkan dukungan teknologi penargetan langsung dari Rusia, yang secara signifikan meningkatkan akurasi serangan balasan mereka terhadap pasukan AS.
Di koridor kekuasaan Washington, pesan yang disampaikan cenderung beragam dan penuh teka-teki. Sementara Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa tugas Pentagon adalah memberikan opsi maksimal bagi Presiden Donald Trump.
Trump sendiri telah menyatakan secara terbuka bahwa ia belum berniat menempatkan pasukan di mana pun.
Meski demikian, retorika keras tetap bergema dengan peringatan bahwa Amerika siap mengambil tindakan drastis jika Tehran tidak segera meredam agresivitasnya.
Saat ini, Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang membawa sekitar 2.200 personel telah diperintahkan untuk bergerak menuju posisi strategis di kawasan tersebut.
Meskipun Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan optimisme bahwa tujuan Amerika bisa dicapai tanpa konfrontasi darat yang berkepanjangan, kehadiran ribuan marinir dan marinir di lepas pantai Iran memberikan sinyal kuat bahwa opsi militer bukan lagi sekadar gertakan di atas kertas.
Dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki ruang, ataukah percikan api di Teluk Persia akan benar-benar menyulut konflik terbuka.
Jika pasukan darat AS benar-benar dikerahkan untuk melaksanakan pertempuran darat, apapun risikonya, mungkin kita akan melihat zona pertempuran modern Iran sebagai lapangan pembantaian (the killing field) bagi tentara AS, sebagaimana diprediksi para pengamat. (RNS)

