Kedutaan Besar AS mendesak staf untuk meninggalkan Israel selagi penerbangan komersial masih tersedia

Pesawat di bandara IsraelVia Ynet News

AIRSPACE REVIEW – Kedutaan Besar AS di Yerusalem mendesak personel pemerintah non-darurat dan anggota keluarga untuk meninggalkan Israel selagi penerbangan komersial masih tersedia.

Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengeluarkan pemberitahuan tersebut pada 27 Februari 2026, yang mengonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri telah mengizinkan evakuasi karena risiko keselamatan.

Saran ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dengan potensi serangan terhadap Iran oleh militer AS dan kekhawatiran bahwa Israel dapat menghadapi ancaman pembalasan dari negara tetangganya.

“Sebagai tanggapan terhadap insiden keamanan dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, Kedutaan Besar AS dapat lebih lanjut membatasi atau melarang karyawan pemerintah AS dan anggota keluarga mereka untuk bepergian ke area tertentu di Israel, Kota Tua Yerusalem, dan Tepi Barat,” bunyi pernyataan dari Kedutaan Besar AS di Yerusalem melalui akun di X.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa situasi keamanan di Israel, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem, tidak dapat diprediksi dan bahwa insiden keamanan, termasuk tembakan mortir dan roket serta penyusupan drone bersenjata dan rudal, dapat terjadi tanpa peringatan.

Lebih lanjut kedutaan mengeluarkan larangan bepergian ke Gaza karena terorisme dan konflik bersenjata, dan dalam radius 11,3 km (7 mil) dari pinggiran Gaza, Israel Utara dalam radius 4 km (/2,5 mil) dari perbatasan Lebanon dan Suriah karena kehadiran dan aktivitas militer yang berkelanjutan, serta perbatasan Mesir dalam radius 2,4 km (1,5 mil), kecuali penyeberangan Taba yang terbuka.

Pengamat menilai, pernyataan tersebut menandai ada kekhawatiran besar mengenai potensi konflik langsung antara AS dan Iran, yang menempatkan Israel pada risiko tinggi terkena serangan balasan dari negara-negara tetangga atau kelompok proksi.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika pembicaraan terkait nuklir Iran gagal.

Sementara Iran sebelumnya telah menggunakan taktik agresif, termasuk memblokir jalur air internasional utama selama putaran negosiasi sebelumnya. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *