Italia sedang menyiapkan uji coba pendaratan jet tempur F-35 di jalan raya: Rumit, bukan hanya sekadar landing dan parkir
Finnish Air Force AIRSPACE REVIEW – Italia dilaporkan sedang mengevaluasi rencana untuk melakukan uji coba pendaratan dan lepas landas jet tempur siluman F-35 di jalan raya.
Gagasan tersebut diungkapkan oleh Letnan Jenderal Silvano Frigerio, Komandan Pasukan Operasional Angkatan Udara Italia di forum Dominio Globale di Roma pada awal bulan ini.
Secara teori, hal itu tampak mudah untuk dilaksanakan, terlebih Italia juga memiliki varian STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing), yaitu F-35B, di mana jet tempur generasi kelima ini dapat lenpas landas pada jarak yang pendek dan mendarat secara vertikal.
Namun persoalan rupanya tidak selesai sampai di situ. Dibutuhkan kajian mendalam sebelum rencana tersebut diimplementasikan.
Tidak semua jalan raya di Italia, yang total sepanjang 7.000 km, dapat digunakan untuk pendaratan dan lepas landas pesawat.
Penting untuk dipahami bahwa ketika membahas operasi pesawat tempur dari jalan raya, ini tidak berarti bahwa pesawat dapat dengan mudah memilih ruas jalan mana pun dan mendarat di mana pun diinginkan.
Salah satu tugas pertama adalah mengidentifikasi bagian-bagian spesifik untuk proyek ini, serta menentukan seberapa cepat penutupan segmen jalan raya yang akan digunakan untuk misi tersebut.
Analis mencatat, secara keseluruhan proyek semacam itu membutuhkan waktu yang cukup lama, pendanaan yang memadai, serta koordinasi yang tepat waktu antara struktur militer dan sipil.
Latihan pendaratan jet tempur F-35 sebelumnya pernah dilakukan oleh Korps Marinir AS, Angkatan Udara Norwegia dan Angkatan Udara Finlandia. Upaya ini sebagai bagian dari penerapan konsep Agile Combat Employment (ACE), yaitu penyebaran kekuatan dalam kondisi serangan musuh terhadap pangkalan udara.
Sebelum implementasi pendaratan dan lepas landas pesawat di jalan raya, sebuah publikasi menekankan bahwa pendaratan semacam ini, bila tidak dipersiapkan dengan baik, akan menimbulkan masalah fatal yang diakibatkan oleh FOD (Foreign Object Damage).
Mesin pesawat F-35 ibarat penyedot debu raksasa yang sangat kuat. Kerikil kecil, aspal yang terkelupas, atau sampah di jalan raya bisa tersedot dan menghancurkan mesin senilai jutaan dolar.
Jalan raya sipil umumnya tidak sebersih landasan pacu militer yang memang dipantau setiap hai. Maka, proses pembersihan sebelum pendaratan pesawat adalah prosedur yang krusial dan memakan waktu.
Selain itu, ada faktor lain yang harus dipastikan, yakni daya tahan aspal. Meskipun F-35B dapat mendarat secara vertikal, semburan panas dari mesinnya saat mendarat bisa melehkan aspal standar.
Maka, Italia harus menyiapkan ruas jalan tertentu dengan beton khusus dan aspal yang tahan panas jika ingin melaksanakan uji pendaratan F-35B di jalan raya.
Sementara untuk F-35A yang memerlukan landasan lebih panjang untuk take-off dan landing, juga harus dipastikan terlebih dahulu mengenai tingkat kekerasan jalan raya yang akan digunakan untuk uji coba ini.
Pendaratan di jalan raya bukan untuk show kedirgantaraan. Tujuan dari uji coba ini adalah menyimulasikan keadaan genting di mana pangkalan menjadi sasaran penembakan rudal musuh sehingga pesawat perlu dipindahkan operasionalnya.
Dalam mendukung operasi darurat tersebut, perlu juga dipersiapkan truk tangki bahan bakar untuk penerbangan pesawat, alat pemuat rudal dan bom di mana biasanya hal ini disiagakan di pangkalan udara.
Hal lain yang tidak kalah penting, tentu saja soal keamanan, bagaimana menjaga perimeter jalan raya dari potensi ancaman warga sipil maupun sabotase di area terbuka.
So, itu adalah beberapa dari persiapan yang dibutuhkan dan karenanya juga diakui oleh militer Italia untuk mengkaji terlebih dahulu sebelum rencana tersebut diimplementasikan.
Publik mungkin hanya melihat dan terhibur oleh aksi pendaratan dan lepas landas pesawat di jalan raya, namun sebenarnya ini adalah uji kesiapan perang sesungguhnya.
Petuah mengatakan jangan menaruh semua telur di satu keranjang, memberikan makna bahwa angkatan bersenjata harus siap dengan berbagai skenario jika serangan musuh bertumpu pada satu pusat aset militer yang sangat vital.
Mendaratkan pesawat di jalan raya, tidak hanya landing, lalu parkir. Tapi menjadikan jalan raya sebagai pangkalan aju darurat. (RNS)

Indonesia ga pake omon-omon udh turun tu jet tempur di jalan tol Sumatera
Jalan raya yg hendak didarati pun selain harus lurus juga hrs rata, tdk boleh bergelombang krn akan sangat membahayakan psw saat akan menyentuh permukaan aspal.