Inggris siapkan 270 juta USD untuk penempatan pasukan di Ukraina, berharap gencatan senjata segera terjadi, Lavrov: Target militer yang sah

British ArmyUK MoD

AIRSPACE REVIEW – Pemerintah Inggris pada 9 Januari 2026 menyatakan telah mengalokasikan anggaran sebesar £200 juta (sekitar 268–270 juta USD) yang akan digunakan untuk penempatan pasukan militer mereka di Ukraina.

London berharap, kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina segera tercapai, menuju berakhirnya perang kedua negara yang sudah berlangsung hampir empat tahun ini.

Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan, dana tersebut diambil dari anggaran pertahanan inti Inggris untuk tahun ini.

Secara spesifik, dana ini ditujukan untuk persiapan pembentukan Multinational Force for Ukraine (MNFU).

Fokus penggunaannya meliputi peningkatan kendaraan agar siap untuk operasi lapangan, memperkuat sistem komunikasi untuk memperkuat koordinasi antarpasukan multinasional, perlindungan antidrone, dan melengkapi personel dengan peralatan perlindungan diri lainnya.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan di Paris antara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Inggris dan Prancis memimpin koalisi negara-negara yang bersedia menempatkan pasukan sebagai penjamin keamanan jika kesepakatan damai terwujud.

Kedua negara menjadi motor penggerak utama. Koalisi yang disebut sebagai “Coalition of the Willing” ini mulai menarik minat beberapa negara Eropa lainnya, meskipun dengan tingkat komitmen yang berbeda-beda.

Penting untuk dicatat bahwa koalisi ini bukan operasi resmi NATO. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Jerman sejauh ini masih menahan diri untuk mengirimkan personel darat karena khawatir akan eskalasi langsung dengan Rusia yang dapat memicu Pasal 5 NATO (perang total).

Sementara itu, Rusia melalui Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov secara konsisten menyatakan bahwa kehadiran pasukan NATO atau negara Barat di Ukraina, bahkan sebagai pasukan penjaga perdamaian sekalipun, adalah garis merah (red line) dan akan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Rusia.

“Kami tidak akan tinggal diam dan menyaksikan kemunculan pasukan NATO di Ukraina dengan kedok pasukan penjaga perdamaian. Kami tidak akan menoleransi tindakan semacam itu dari Barat,” kata Lavrov dalam pernyataannya di awal tahun ini.

Terkait pengumuman Inggris mengenai dana £200 juta untuk persiapan MNFU, Lavrov dalam briefing di Moskow menyampaikan pesan yang sangat keras.

“Rusia siap membalas jika Eropa benar-benar mengerahkan pasukannya ke wilayah Ukraina. Setiap personel militer asing yang masuk ke zona konflik tanpa persetujuan Federasi Rusia akan dianggap sebagai target militer yang sah,” ujar dia. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Jayahdi berkata:

    Inggris sudah lupa dirinya bukan inggris waktu Perang Dunia 1 dmn angkatan laut terkuat didunia jd coba2 bermain dgn Rusia krn skrg itu yg berbicara bukan meraim kapal tp SARMAT

  2. Reno Haribowo Puspojudo berkata:

    Apakah Sarmat Akan Diluncurkan Oleh Rusia Jika Pasukan NATO Di Ukraina Dengan Embel•Embel “Coalition of the Willing” Dengan Kedok Pasukan Perdamaian Akan Membuat Rusia Dan Ukraina Sepakat Untuk Melakukan Gencatan Senjata..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *