Rudal ATACMS menjadi darah baru bagi Ukraina dan ancaman nyata bagi Rusia: Serangan jarak jauh menjadi kunci

ATACMSAFP

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sulitnya pasukan Ukraina melakukan serangan balasan terhadap pasukan Rusia, salah satunya disebabkan karena pasukan Rusia telah lebih dulu membuat ladang-ladang ranjau yang menghadang gerak maju pasukan Ukraina.

Faktor lain, karena Ukraina kekurangan alutsista perang darat untuk digunakan selain belum tersedianya secara cukup perlindungan udara yang dibutuhkan.

Terlambat diterimanya jet tempur oleh F-16 merupakan salah satu faktor yang turut berkontribusi, sehingga Ukraina harus mengubur niatnya untuk dapat melakukan serangan balik hingga akhir tahun ini.

Seperti telah diprediksi banyak pengamat, penyediaan jet F-16 berikut para pengawaknya untuk siap bertempur, akan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Kalaupun program ini dipaksanakan untuk dipercepat, sedikitnya perlu enam bulan untuk hal itu.

Di sisi yang lain, penyediaan pesawat dari pihak sekutu Barat memang tidak bisa dipaksa lebih cepat dari prosedur minimal yang dibutuhkan, khususnya terkait izin dan dukungan dari Amerika Serikat terkait transfer armada F-16 dari satu negara ke negara lainnya.

Hal ini telah memakan waktu beberapa bulan sejak mitra-mitra Eropa menyatakan ingin mendukung Ukraina dengan jet-jet tempur F-16 yang telah mereka pensiunkan, sampai AS akhirnya memberikan persetujuan dan dukungannya.

Denmark dan Belanda yang menyatakan ingin mendonasikan armada F-16 bekas angkatan udara mereka, kemudian mempersiapkan segala hal yang diperlukan usai AS menekan lampu hijau bagi rencana pendonasian armada F-16 ke Ukraina.

Sedikitnya, Ukraina akan mendapatkan 42 F-16 yang akan dikirimkan secara bertahap mulai tahun depan. Zelensky sendiri menyatakan, negaranya masih membutuhkan lagi lebih dari seratus pesawat di luar F-16 yang sudah dijanjikan kepada Kyiv.

AS turut menyediakan pelatihan bahasa Inggris dan pelatihan-pelatihan dasar bagi para calon penerbang tempur F-16 Ukraina. Tidak seluruh penerbang dapat diterima sekaligus, sebab sebagian penerbang yang dikirim masih kesulitan untuk berbahasa Inggris.

Sementara Rumania, telah menyediakan Pusat Pelatihan F-16 bagi pelatihan pilot-pilot Ukraina untuk menerbangkan F-16 sumbangan Denmark dan Belanda.

Pelatihan untuk pilot dan teknisi Ukraina yang dimulai pada awal September paling cepat akan selesai dalam enam bulan atau kurang lebih hingga bulan Maret 2024. Hal ini berbarengan dengan jadwal di mana armada F-16 pertama yang akan diterima Ukraina baru dapat dikirimkan pada musim semi 2024.

Kekurangan sistem pertahanan udara

Sementara itu, Ukraina yang mulai kedodoran dalam hal pertahanan udara, mendesak mitra-mitra Barat untuk memberikan bantuan sistem pertahanan udara tambahan lebih cepat. Hal ini dikatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menyebut sebagai persediaan menghadapi datangnya musim dingin akhir tahun ini.

Menipisnya stok sistem pertahanan udara di negara-negara mitra, membuat Zelensky bersedia menyewa dari negara-negara yang masih punya persediaan sistem pertahanan udara untuk secara cepat dikirimkan ke Ukraina.

Tanpa sistem pertahanan udara yang kuat, Ukraina memang kewalahan menghadari serangan-serangan yang dilakukan Rusia.

AS sebagai pelindung utama Ukraina, menyatakan tekadnya untuk memberikan bantuan militer lebih besar kepada Kyiv.

Serangan ATACMS ke lapangan terbang Rusia

Salah satu senjata andalan yang dikirimkan Washington ke Kyiv adalah rudal Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS). Rudal ini dapat digunakan untuk menyerang pasukan Rusia dari jarak yang lebih jauh, dibanding rudal lain yang digunakan oleh sistem artileri M270 MLRS maupun HIMARS.

Datangnya rudal-rudal jarak jauh ATACMS seperti menjadi darah baru bagi pasukan Ukraina. Belum lama ini Zelensky sendiri yang mengumumkan bahwa rudal ATACMS telah digunakan untuk pertama kalinya oleh Ukraina serta terbukti keampuhannya.

Serangan rudal ATACMS Ukraina terhadap pangkalan udara Rusia di wilayah pendudukan Ukraina awal pekan ini terbukti dapat mendorong mundur. Berdasarkan citra satelit dan laporan intelijen Inggris disebutkan bahwa terdapat beberapa helikopter Rusia yang rusak dan hancur di lapangan terbang Berdyansk dan Luhansk akibat serangan itu.

Serangan Ukraina pada hari Selasa diarahkan ke pangkalan udara di Berdyansk di Wilayah Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara dan pangkalan udara di Luhansk, Wilayah Donbas di Ukraina bagian timur. Keduanya pangkalan udara tersebut merupakan salah satu pusat bagi operasi helikopter militer Rusia di Ukraina.

Menurut The War Zone, rudal yang digunakan dalam serangan tersebut telah dikonfirmasi sebagai varian awal ATACMS, yang dikenal sebagai MGM-140A, M39, dan Block I. Muatan rudal ini terdiri dari 950 submunisi M74 yang relatif kecil. Rudal ini merupakan varian ATACMS dengan jangkauan jarak pendek hanya sekitar 100 mil (160 km).

Submunisi yang dibawa ATACMS dapat tersebar di wilayah yang luas dan memang ideal untuk menyerang sebuah lapangan terbang yang dipenuhi pesawat karena bom ini dilengkapi dengan hulu ledak klaster untuk merusak sejumlah target yang ada sekaligus.

Beberapa hari setelah penyerangan ini, muncul foto yang memperlihatkan kerusakan pada helikopter serang Ka-52 Hokum Angkatan Udara Rusia di Berdyansk. Ka-52 merupakan tipe terdepan yang selama ini digunakan Rusia untuk menyerang Ukraina.

Dalam laporannya mengenai serangan rudal ATACMS, intelijen Inggris menyatakan dalam pernyataannya bahwa, “Meskipun tingkat kerusakan saat ini belum dapat dikonfirmasi, kemungkinan sembilan helikopter militer Rusia di Berdyansk dan lima di Luhansk hancur.”

Berdyansk sendiri digunakan Rusia sebagai Pangkalan Operasi Depan utama di poros selatan yang menyediakan logistik dan kemampuan ofensif/defensif.

Dengan adanya serangan rudal ATACMS tersebut, Rusia harus menata ulang pangkalan udaranya dan memikirkan bagaimana cara menghindari serangan rudal-rudal jarak jauh baru Ukraina tersebut.

Keberhasilan serangan menggunakan ATACMS oleh Ukraina seperti dinyatakan Zelensky, akan mendorong AS untuk mengirimkan rudal ini lebih banyak ke Ukraina. Bagaimana pun, AS berkeinginan Ukraina untuk memenangkan perang melawan Rusia seperti cita-cita awal usai terjadinya konflik bersenjata kedua negara.

Sementara itu di pihak Rusia, Presiden Vladimir Putin baru menanggapi serangan Ukraina tersebut dengan kata-kata. Ia menyatakan bahwa AS kembali melakukan kesalahan dengan mengirimkan ATACMS ke Ukraina.

“Pengiriman rudal ke Ukraina adalah sebuah kesalahan dan hanya akan memperpanjang penderitaan bagi Ukraina,” ujar Putin.

Bagaimana pun, Rusia tampaknya tidak boleh tinggal diam dengan datangnya rudal-rudal berdaya jangkau jauh ini. Terlebih Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba dalam wawancara dengan stasiun televisi Ukraina menyatakan bahwa akan ada lebih banyak ATACMS yang dikirimkan AS ke Ukraina. Dia juga berharap AS akan menyertakan rudal ATACMS dengan versi jangkauan yang lebih jauh dari yang telah diterima sebelum ini.

Sementara itu, serangan Rusia yang ditujukan ke Kota Avdiivka, sebelah utara kota Donetsk, terus mengalami masalah. Awal pekan ini, salah satu komandan utama Kyiv menyatakan bahwa serangan Rusia telah gagal.

Sebuah video memperlihatkan tank dengan roller ranjau milik Rusia diserang oleh drone Ukraina sebelum tank dan kendaraan-kendaraan pengangkut personel berhasil menjalankan misinya.

Awalnya AS menolak mengirimkan ATACMS ke Ukraina

Keampuhan ATACMS telah terbukti di medan perang Ukraina saat ini dan akan mendorong meningkatkan eskalasi perang disebabkan Rusia merasa kembali kecolongan.

Namun sebelumnya, pemerintahan Presiden Joe Biden sebenarnya menolak untuk memberikan rudal ATACMS ke Ukraina. Kekhawatiran AS adalah digunakannya rudal-rudal jarak jauh ini untuk menyerang Rusia dan menimbulkan ketegangan lebih tinggi, lapor kata Associated Press. ATACMS tidak terdapat dalam daftar bantuan militer AS yang akan dikirimkan ke Ukraina.

Namun toh pada akhirnya, AS pun berubah pikiran dan bahkan akan menambah pasokan ATACMS ke Ukraina. Bagaimana pun, serangan jarak jauh menggunakan ATACMS kini telah dinilai menjadi sebuah kunci bagi kemenangan pertempuran saat ini.

Penggunaan munisi tandan pada ATACMS sejatinya dilarang oleh lebih dari 100 negara bagian karena ancamannya terhadap warga sipil.

Dengan bertambahkan pasokan rudal jarak jauh ke Ukraina, pertanyaan kita adalah tindakan nyata apa yang akan dilakukan oleh pasukan Rusia.

Gerak maju-mundur yang telah berjalan berbulan-bulan dan belum juga membuahkan hasil yang diinginkan, tentu membuat pasukan menjadi lelah.

Apakah Rusia akan terus mundur dan Ukraina mendapatkan kemenangan-kemenangan baru?

Jawabnya perang masih berlangsung dan mungkin akan lebih lama dari prediksi Rusia yang menyebut perang akan berakhir pada tahun 2025 dengan kemenangan di pihak Rusia.

Bila perang masih berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, artinya publik masih dapat menyaksikan kiprah jet tempur F-16 seperti yang didambakan oleh Ukraina untuk dapat memukul mundur pasukan Rusia dari negaranya.

-RNS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *