Intelijen AS: Taktik perang Rusia membingungkan

Kendaraan tempur Rusia jadi sasaran tembak tentara Ukraina_1Istimewa

AIRSPACE REVIEW (airpace-review.com) – Pejabat intelijen dan pakar pertahanan AS bingung dengan taktik perang yang dijalankan oleh Rusia dalam agresi militernya ke Ukraina sejak 24 Februari 2022.

Rusia menyimpan kekuatan udaranya yang masif, bahkan hingga hari ketujuh agresi ke Ukraina.

Sebaliknya, Moskow justru mengedepankan konvoi kendaraan-kendaraan tempur (ranpur) daratnya untuk bisa mencapai ibu kota Kyiv. Padahal, rintangan yang dihadapi cukup sulit.

Selain faktor suplai bahan bakar minyak untuk menopang perjalanan ranpur yang jauh, konvoi kendaraan-kendaraan ini menghadapi serangan tidak terlihat yang berasal dari senjata maupun rudal-rudal antitank serta drone.

Akibatnya, Rusia harus kehilangan banyak peralatan tempurnya sejak dini dan tentu para personel pengawaknya.

Artikel dari sebuah lembaga think tank RUSI di London berjudul “The Mysterious Case of the Missing Russian Air Force” memaparkan, semula diduga Rusia akan memainkan peran utama angkatan udaranya dalam menekan pertahanan Ukraina.

Bila hal itu dilakukan, tulis artikel tersebut, tentu sangat logis mengingat kekuatan udara telah menjadi faktor yang menentukan untuk menekan kekuatan musuh di hampir setiap konflik militer sejak 1938.

“Ada banyak hal yang mereka lakukan yang membingungkan,” kata spesialis militer Rusia di Institut Penelitian Kebijakan Luar Negeri Rob Lee.

Selain Lee, pensiunan Jenderal Angkatan Udara AS David Deptula turut mengomentari.

Ujarnya, setiap hari ada biaya dan risiko perang yang tinggi dilakukan oleh Rusia.

“Sangat aneh karena Rusia tidak mengerahkan dominasi udara. Mereka tidak melakukan itu, dan ini sangat sulit untuk dijelaskan karena alasan realistis,” ujar Deptula.

Ditambahkan, mungkin saja ada sejumlah penjelasan yang bisa dipakai untuk menjawab hal itu, mengapa Angkatan Udara Rusia tidak dilibatkan dalam skala yang lebih besar.

Mungkin saja Moskow mencoba untuk mendukung pernyataan resminya bahwa mereka tidak menyerang, tetapi hanya meluncurkan operasi terbatas di wilayah tetangganya.

“Tetapi, pendapat ini pun hanya spekulasi,” kata Deptula.

Spekulasi lainnya menyatakan, Rusia tidak mengerahkan kekuatan udaranya di awal karena berjaga-jaga apabila NATO ikut campur dalam perang ini dan mengerahkan kekuatan udaranya.

Dibandingkan dengan yang terjadi di Suriah, Rusia malah lebih banyak mengerahkan kekuatan udara sejak tahun 2015 untuk mendukung upaya kontra-pemberontakan pemerintah Suriah.

Masih belum pasti apakah Rusia akan terus bertumpu pada kekuatan angkatan daratnya dan menahan armada tempur udaranya.

Semua ini, tulis artikel tersebut, sangat tergabung situasi dan kondisi yang terjadi berikutnya di medan pertempuran.

-RNS-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *