Catat rekor positif, Su-35 baru pertama kali jatuh sejak tahun 1988

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Jatuhnya pesawat Su-35 di Laut Okhotsk, Wilayah Khabarovsk, Timur Jauh Rusia pada 31 Juli 2021 membuat kaget banyak pihak.

Bukan apa-apa, Su-35 merupakan salah satu jet tempur andalan Rusia yang juga diandalkan untuk jadi primadona ekspor.

Negara-negara Barat menganggap Su-35 bukan ancaman, namun penjualannya ke berbagai negara dijegal oleh Amerika Serikat melalui undang-undang CAATSA termasuk kepada Indonesia.

Negara-negara yang membeli Su-35 akan mendapatkan sanksi dari AS, sama seperti Turki yang membeli sistem pertahanan udara S-400 Triumf telah merasakan akibatnya.

Meskipun bila kita cermati, CAATSA tampaknya tidak mempan terhadap China yang telah membeli Su-35 dan juga S-400.

Di sisi yang lain pertanyaan lain pun muncul, apakah India juga akan terkena CAATSA dari AS setelah pengiriman S-400 dari Moskow ke New Delhi dilaksanakan? Sementara AS masih punya proyek yang banyak untuk menjual berbagai alutsistanya kepada India termasuk menawarkan F-16 Viper dan F-15EX.

Sejauh ini, Su-35 baru berhasil diekspor Rusia ke China sebanyak 24 unit dan ke Mesir yang dikabarkan telah mengakuisisi 17 unit di mana lima unit pertama telah diserahkan.

Su-35 China

Su-35 China.

Jatuhnya Su-35 sudah pasti akan dipandang orang bakal memengaruhi penurunan minat negara lain untuk membeli pesawat ini.

Hanya saja perlu diketahui, ternyata dalam 33 tahun terakhir baru satu Su-35 yang jatuh.

Su-35 memiliki rekor positif dalam penerbangannya selama tiga dekade, yaitu sejak prototipe pesawat ini Su-27M mengudara perdana pada 28 Juni 1988.

Su-35 sejatinya memang Su-27 yang dimodernisasi (Su-27M). Kode Su-35 digunakan pasca Uni Soviet runtuh di mana pengembangan Su-27M dilanjutkan lagi oleh Rusia walau sempat tersendat-sendat.

Su-27M dengan kode Su-35S (untuk Angkatan Udara Rusia) mengudara perdana pada 19 Februari 2008.

Pesawat ini diresmikan penggunaannya di Angkatan Udara Rusia (yang kemudian berubah menjadi Angkatan Dirgantara Rusia) pada 2014.

Su-35 MesirNskPlanes

Su-35 Mesir.

Pemesanan batch pertama Su-35S untuk AU Rusia sebanyak 48 unit, ditandatangani Kementerian Pertahanan Rusia di pameran udara MAKS-2009.

Pengiriman pertama prototipe Su-35S untuk uji coba di Akhtubinks dilaksanakan pada Mei 2011. Tahun berikutnya dikirimkan lagi dua prototipe dan empat pesawat seri produksi dilanjutkan dengan pengiriman enam unit lagi seri produksi di akhir tahun 2012. Pesawat-pesawat tersebut melaksanakan uji coba tahap kedua di Gromov Flight Research Institute, Zhukovsky.

Tahun 2013 AU Rusia kembali menerima pengiriman hingga 12 unit seri produksi diikuti pengiriman selusin tambahan pada 2014.

Menjadi bintang di Paris Air Show 2013

Di tahun 2013, untuk pertama kalinya Rusia memboyong Su-35S ke pameran udara paling bergengsi di dunia, yakni Paris Air Show.

Di pameran tersebut Su-35S menjadi bintang udara yang sekaligus membuat tidak senang pihak-pihak Barat.

Su-35SSputniknews

Tahun 2015 pengiriman bertambah lagi sehingga total 48 pesanan Su-35S telah diterima AU Rusia saat itu. Su-35 pun disebar ke berbagai Resimen Penerbangan tempur termasuk ke Resimen Penerbangan Tempur ke-23 di Timur Jauh.

Di tahun 2015, Paris Air Show tak lagi menghadirkan jet-jet tempur Rusia. Hal ini juga sebagai “hukuman” pihak Barat terhadap Rusia yang diklaim telah mencaplok wilayah Krimea di Ukraina.

Pada 2016, Rusia mengirimkan empat Su-35S ke Suriah untuk melakukan pengawalan terhadap formasi tempur Su-30SM dan juga mengawal pesawat-pesawat pembom di medan perang panas tersebut. Pengiriman Su-35S saat itu terus berlanjut hingga 2019.

su-35 di Hmeimim AirbaseValery Sharifulin/TASS

Su-35S mencapai kemampuan operasional penuh (FOC) di Angkatan Dirgantara Rusia pada 2018.

Hingga saat ini, total 12 Su-27M dan lebih 139 Su-35 telah berhasil diproduksi oleh Sukhoi, anak perusahaan United Aircraft Corporation, bagian dari Rostec State Corporation.

Su-35 dilengkapi mesin kembar Saturn A-41F1S yang lebih bertenaga dibanding serial mesin AL-31 pada keluarga Flanker terdahulu.

Dengan dua mesin andal tersebut, Su-35 yang sering dijuluki Super Flanker ini mencatatkan rekor positif dalam pengoperasiannya.

Masih misteri

Jatuhnya sang Super Flanker pada 31 Juli lalu tentu menjadi tanda tanya besar, apa yang sebenarnya terjadi.

Rusia menyatakan telah terjadi kegagalan mesin sesaat sebelum pesawat jatuh dan pilot memutuskan untuk eject.

Kala itu pilot sedang melaksanakan pelatihan terbang menggunakan jet tempur generasi 4++ tersebut.

Kecelakaan pesawat tentu diakibatkan oleh berbagai hal. Dan hal itu pula yang kiranya kini masih menjadi misteri sebelum investigasi tuntas dilaksanakan.

RNS

One Reply to “Catat rekor positif, Su-35 baru pertama kali jatuh sejak tahun 1988”

  1. ya wajar, semua yg terbang pasti bakalan jatuh juga suatu ketika… coba cek F 22 maupun adiknya F 35 catatan lost hull-nya juga banyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *