Resmi: Taiwan dan Maroko borong Viper

AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Sama halnya seperti Indonesia yang pernah menyatakan minat untuk meminang sejumlah F-16V (Fighting Falcon blok terbaru), Taiwan dan Maroko pun pernah menyatakan niat serupa. Baru-baru ini kedua negeri beda benua tersebut mengeksekusi niatan tersebut.

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) meresmikan penjualan 90 unit F-16V Fighting Falcon Block 70/72 pada Taiwan dan Maroko.

Seperti dilansir  Bloomberg, dari jumlah 90 unit tersebut Taiwan membeli 66 unit F-16V sementara 24 sisanya dibeli Maroko.

Peresmian ini sebetulnya tidak mengejutkan karena sejak tahun lalu AS sudah mengumumkan rencana Taiwan membeli 66 F-16V Block 70, sementara Maroko berniat meminang subvarian Block 72. Keduanya identik kecuali dalam hal mesin, di mana Block 70 ditenagai mesin turbofan F110 buatan General Electric sementara Block 72 dihela mesin F100 buatan Pratt & Whitney.

Maroko sebelumnya sudah mengoperasikan 24 F-16C/D Block 52+, sementara Taiwan sendiri telah mengoperasikan sekitar 145 F-16A/B Block 20 yang tengah dalam proses upgrade setara dengan F-16V. Bahkan Taiwan merupakan launch customer varian F-16V ini.

Varian F-16V sendiri merupakan varian terkini lansiran Lockheed Martin, yang tersedia dalam dua bentuk utama yaitu pesawat tempur buatan baru (factory fresh) maupun  paket peningkatan kemampuan varian F-16 lama menjadi setara dengan F-16V (upgrade kit).

Nilai penjualan 24 F-16V Block 72 untuk Maroko ditaksir sekitar 4,9 miliar dolar, sementara untuk F-16V Block 70 Taiwan nilainya tidak disebutkan secara detail.

Namun perlu diingat bahwa paket penjualan 66 unit F-16V untuk Taiwan merupakan bagian dari paket penjualan masif meliputi tank tempur utama Abrams, rudal udara ke udara, rudal anti kapal dan sejumlah besar munisi lainnya dengan nilai total bisa mencapai 62 miliar dolar jika semua opsi tawaran penjualan jadi dibeli Taiwan.

F-16V
Lockheed Martin

Seperti diduga sebelumnya, penjualan F-16V ke Taiwan ini menyulut reaksi keras dari Republik Rakyat China (RRC). Transaksi senjata bersifat strategis ini kian menambah ketegangan hubungan antara AS dan RRC di tengah isu perang dagang dan potensi konflik di Laut China Selatan.

Karena nilainya yang besar dan berpotensi menggerakkan ekonomi AS yang melambat akibat pandemi COVID-19, kalangan legislasi AS rata-rata mendukung langkah yang diambil pemerintah AS saat ini.

Antonius KK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *