Digertak Korea Utara, Pesawat Pembom AS Ubah Rencana Penerbangan

ANGKASAREVIEW.COM – AS, Korea Selatan, dan Jepang sepakat untuk mengubah rencana jalur penerbangan untuk dua pesawat pembom AS B-52 yang memiliki kemampuan nuklir sehingga mereka tidak akan terbang di atas Semenanjung Korea. Rencana tersebut ditargetkan bisa selesai akhir pekan ini.

Keputusan itu dibuat setelah Korea Utara mengutarakan penolakan dan protesnya terhadap latihan militer AS di kawasan itu. Pyongyang menyatakan, jika latihan tersebut terus digelar di tempat yang sama, Konferensi Tingkat Tinggi antara Kim Jong Un dengan Presiden Donald Trump terancam batal.

Korea Utara mengancam akan membatalkan pertemuan yang rencananya diadakan pada 12 Juni di Singapura itu karenaa mereka menganggak Korea Selatan dan AS telah melakukan “gangguan militer provokatif”.

BACA  71 Laporan Pilot Temui Balon Udara Tradisional di Jalur Penerbangan dalam Sehari

Baca juga:
ROKS Marado (LPH-6112), Kapal Pendarat Helikopter Kedua yang Diluncurkan Korea Selatan
Jelang Latma dengan Korea, AS Tunjukkan Aksi Pemanasan F-35B di USS Wasp

Para pejabat AS bersikeras mengatakan jika misi pesawat pembom mereka yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir itu bukanlah sebuah latihan militer. Secara resmi, Pentagon pun menolak berkomentar soal masalah ini.

“Kami terus berkoordinasi dengan sekutu kami tetapi untuk alasan keamanan operasional kami tidak dapat berkomentar mengenai operasi masa depan atau yang sedang berlangsung. Ini juga termasuk proses pengambilan keputusan kami,” kata juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Christopher Logan seperti dikutip oleh CNN.

Para pejabat AS mengatakan, pesawat B-52 itu lepas landas dari Guam dan mendarat di tempat yang sama setelah terbang selama 24 hingga 48 jam. Mereka terbang ke selatan dan tenggara Semenanjung Korea tetapi tetap berada di luar wilayah udara Korea Selatan.

BACA  Angkatan Udara Nigeria Bakal Diperkuat 12 A-29 Super Tucano

Pesawat pembom AS tersebut terlihat terbang secara rutin di Semenanjung Korea dalam beberapa bulan terakhir bersama dengan armada udara milik Jepang dan Korea Selatan. Aksi tiga negara itu sering memancing kemarahan rezim Korea Utara. (IAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *