Dijual ke Investor Hong Kong, Masa Depan Galangan Kapal Perang Anzac Australia Memicu Kekhawatiran

Fregat HMAS Anzac - FF 150 Angkatan Laut AustraliaUS Navy
Fregat HMAS Anzac.

AIRSPACE REVIEW – Masa depan galangan kapal Williamstown, fasilitas sejarah yang melahirkan seluruh armada fregat kelas Anzac milik Angkatan Laut Australia (RAN), kini berada di persimpangan jalan dan memicu kekhawatiran publik. Galangan kapal terakhir di Negara Bagian Victoria yang mampu membangun dan merawat kapal perang berukuran besar tersebut resmi dijual kepada perusahaan yang terhubung dengan investor asal Hong Kong.

Fasilitas strategis yang terletak persis di pintu masuk Port of Melbourne, pelabuhan peti kemas terbesar di Australia, tersebut diakuisisi oleh perusahaan manajemen dana real estat Australia, EMKC³. Kendati demikian, sebagian kepemilikan EMKC³ dipegang oleh EMKC Group yang berbasis di Hong Kong.

Keterlibatan modal dari Hong Kong inilah yang memantik alarm kewaspadaan di ranah pertahanan Australia, mengingat undang-undang intelijen dan keamanan nasional Tiongkok yang ketat juga berlaku bagi organisasi yang beroperasi di wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai membuka celah potensi intervensi atau perhatian khusus dari badan intelijen Tiongkok terhadap aset strategis tersebut.

Berdiri Sejak 1858

Perwakilan EMKC³, Felicity Richardson, menyatakan bahwa kesepakatan jual beli telah ditandatangani dan pihaknya kini sedang berdiskusi dengan para pemangku kepentingan mengenai rencana pemanfaatan fasilitas tersebut di masa depan. Walau besaran nilai transaksi tidak diungkapkan secara resmi, situs galangan kapal ini telah dipasarkan sejak 2024 dengan estimasi nilai mencapai 200 juta AUD. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah entitas asal Hong Kong tersebut bertindak sebagai pemegang saham mayoritas.

Di balik dinamika penjualannya, galangan kapal Williamstown yang berdiri sejak 1858 menyimpan rekam jejak emas bagi pertahanan maritim regional. Selain memproduksi seluruh 10 kapal frigat kelas Anzac untuk Australia dan Selandia Baru, galangan ini juga bertanggung jawab atas manufaktur struktur atas serta pengerjaan interior dua kapal serbu amfibi kelas Canberra, yaitu HMAS Canberra dan HMAS Adelaide. Namun, kegiatan manufaktur kapal di lokasi ini meredup dan resmi berhenti pada 2016, yang disusul oleh pemutusan hubungan kerja massal.

Beralih ke Fregat Modern Jepang

Penjualan galangan kapal bersejarah ini bertepatan dengan perombakan skala besar pada industri galangan kapal Australia. Pemerintah Australia saat ini sedang memensiunkan armada fregat kelas Anzac yang sudah dimakan usia untuk digantikan dengan 11 unit fregat serbaguna modern berdesain Jepang (New FFM), di mana delapan unit di antaranya akan dibangun di dalam negeri. Pada saat yang sama, fokus investasi pertahanan Australia kini dialihkan ke pembangunan fasilitas baru untuk mendukung program pembuatan kapal selam bertenaga nuklir di bawah pakta aliansi SSN-AUKUS.

Fregat kelas Anzac sendiri merupakan tulang punggung armada permukaan RAN dan Angkatan Laut Kerajaan Selandia Baru (RNZN) sejak pertama kali ditugaskan pada pertengahan 1990-an. Berbasis pada desain MEKO 200 asal Jerman, kapal perang serbaguna ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi tempur pertahanan udara, anti-kapal permukaan, serta perang anti-kapal selam. Dengan daya jelajah tinggi dan keandalan operasionalnya, armada kelas Anzac telah menjadi simbol kekuatan maritim Australia di kawasan Indo-Pasifik selama lebih dari dua dekade.

Sepanjang masa operasinya, armada Anzac terus menjalani berbagai program modernisasi teknologi dan persenjataan agar tetap relevan menghadapi ancaman maritim modern. Kapal-kapal ini rutin dikerahkan dalam berbagai operasi internasional, mulai dari patroli keamanan di kawasan Timur Tengah, misi pengamanan perbatasan, hingga latihan tempur bersama negara-negara sekutu. Penjualan galangan Williamstown pun tak ubahnya menutup lembar sejarah panjang tempat di mana armada tempur paling ikonik milik Australia tersebut pertama kali ditempa.

Kini, penghentian bertahap fregat kelas Anzac menandai akhir dari sebuah era penting dalam sejarah militer Australia. Keputusan untuk menggantikan armada legendaris ini dengan alutsista berteknologi baru, sekaligus melepaskan galangan pembangunnya ke pihak swasta asing, mencerminkan pergeseran fokus strategi pertahanan Canberra dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian dinamis. (PN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *