Dongkrak Radius Jet Tempur, India Gandeng IAI Konversi 6 Boeing 767 Bekas Jadi Pesawat Tanker
IAIAIRSPACE REVIEW – Angkatan Udara India (IAF) dilaporkan berada di ambang penyelesaian kesepakatan penting untuk mengoperasikan enam pesawat tanker Multi-Mission Tanker Transport (MMTT). Setelah kontrak final resmi ditandatangani, pengiriman armada udara strategis ini diproyeksikan akan berlangsung secara bertahap dalam rentang waktu 2028 hingga 2030.
Program pengadaan berskala besar yang bernilai sekitar ₹8.000 hingga ₹9.000 crore atau setara 1,1 miliar USD (sekitar Rp17,3 triliun) ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas pengisian bahan bakar di udara militer India secara signifikan. Keputusan strategis ini makin mendekati kenyataan setelah Dewan Pengadaan Pertahanan (DAC) India menerbitkan persetujuan awal belanja modal, yang secara langsung membuka jalan bagi penyelesaian tahap negosiasi akhir proyek tersebut.
Langkah pengadaan ini menjadi jawaban mendesak untuk mengatasi jurang kemampuan operasional yang membayangi pertahanan udara India selama beberapa tahun terakhir. Saat ini IAF hanya mengandalkan armada yang terbilang minim, yakni enam unit pesawat tanker Ilyushin Il-78 buatan era Uni Soviet. Guna mengatasi krisis kapasitas ini, skema pengadaan difokuskan pada pembelian armada pesawat penumpang komersial bekas (pre-owned) Boeing 767 yang nantinya akan dimodifikasi secara intensif menjadi pesawat tanker militer canggih.
Modifikasi Multiguna
Pelaksanaan proyek konversi rekayasa penerbangan yang kompleks ini menggandeng pabrikan Israel Aerospace Industries (IAI) yang telah memiliki rekam jejak luas di tingkat global dalam mengonversi pesawat sipil menjadi tanker militer. IAI akan bermitra secara erat dengan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) untuk mengeksekusi seluruh proses modifikasi dan integrasi sistem di dalam negeri India.
Kemitraan strategis ini sejalan dengan ambisi Pemerintah India dalam memperkuat kemandirian sektor pertahanan melalui skema Make in India, di mana HAL bersama industri swasta domestik akan memegang porsi besar dalam pengerjaan struktur, integrasi avionik, pemeliharaan rutin, hingga dukungan teknis seumur hidup guna menekan ketergantungan pada rantai pasok asing.
Keputusan untuk mengonversi airframe Boeing 767 bekas sekaligus menandai perubahan arah kebijakan yang cukup drastis jika dibandingkan dengan upaya pengadaan sebelumnya. Pada kompetisi tender masa lalu, armada baru Airbus A330 MRTT sempat menjadi kandidat yang diunggulkan secara teknis, namun proyek tersebut berulang kali dibatalkan akibat harga unit baru yang sangat melambung.
Memilih konversi Boeing 767 dipandang sebagai jalan keluar paling efisien dari segi anggaran karena mampu menyajikan kemampuan tempur yang setara dengan porsi biaya akuisisi dan perawatan jangka panjang yang jauh lebih rendah.
Selain itu, pesawat MMTT Boeing 767 hasil konversi tidak hanya andal dalam menyalurkan bahan bakar di udara, tetapi juga memiliki fleksibilitas tinggi untuk dikonfigurasi ulang secara cepat guna mengangkut personel militer, membawa kargo berat, hingga menjalankan misi angkut logistik strategis (strategic airlift) baik pada masa damai maupun saat konflik terbuka.
Dongkrak Radius Jet Tempur
Kehadiran armada MMTT Boeing 767 ini dipastikan bakal melipatgandakan jangkauan jelajah dan radius tempur jajaran jet tempur garis depan IAF, seperti Dassault Rafale dan Sukhoi Su-30MKI. Kemampuan pengisian bahan bakar di udara yang andal dan konsisten memungkinkan para penerbang tempur India bertugas lebih lama di angkasa serta mengeksekusi misi penyerangan jarak jauh tanpa harus melakukan pendaratan di pangkalan depan.
Para pengamat pertahanan menilai pengadaan ini sebagai tonggak pencapaian krusial bagi India untuk mengamankan dominasi udara, menopang proyeksi kekuatan militer jarak jauh, sekaligus menjaga stabilitas kepentingan strategisnya di kawasan regional.
Sebagai catatan, Boeing 767 sendiri merupakan pesawat penumpang berbadan lebar (wide-body) bermesin ganda yang dikenal luas memiliki rekam jejak keselamatan serta efisiensi operasional yang sangat solid di industri penerbangan komersial global sejak dekade 1980-an.
Dengan kabin yang lapang serta kapasitas muat bahan bakar dan kargo yang mumpuni, airframe pesawat ini dinilai sangat ideal dan fleksibel untuk diubah menjadi platform militer serbaguna, menjadikannya basis yang diandalkan oleh berbagai matra udara dunia dalam menjalankan misi pengisian bahan bakar jarak jauh maupun angkutan strategis berat. (PN)
