Ow! Castelion Mulai Integrasikan Rudal Hipersonik Murah Blackbeard ke Armada F-16 USAF
Castelion, USAFAIRSPACE REVIEW – Startup teknologi pertahanan asal Amerika Serikat, Castelion, resmi menerima modifikasi kontrak dari Laboratorium Penelitian Angkatan Udara AS (AFRL) untuk memulai proses integrasi rudal hipersonik buatan mereka, Blackbeard, ke jet tempur F-16 Fighting Falcon.
Pengumuman yang disampaikan pada 26 Oktober 2026 ini menandai langkah baru ekspansi penggunaan senjata tersebut ke jajaran Angkatan Udara AS (USAF), setelah sebelumnya dikembangkan untuk kebutuhan Angkatan Laut dan Angkatan Darat AS. Meskipun demikian, Castelion belum membeberkan nilai modifikasi kontrak, durasi pengerjaan integrasi, maupun jadwal uji tembak perdana dari F-16.
Produksi 500 Unit Per Tahun
Rudal hipersonik Blackbeard dirancang mampu melaju dengan kecepatan melebihi Mach 5 sambil bermanuver di dalam lapisan atmosfer. Karakteristik jalur penerbangan yang dinamis ini membuatnya jauh lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara dibandingkan rudal balistik konvensional yang bergerak dalam lintasan terprediksi.
Perusahaan yang didirikan pada tahun 2022 oleh para mantan insinyur SpaceX tersebut berfokus pada efisiensi biaya dan kemudahan produksi massal. Castelion saat ini sedang membangun fasilitas pabrik di Rio Rancho, New Mexico, yang ditargetkan mampu memproduksi hingga 500 unit senjata setiap tahunnya.
Sebelum adanya kesepakatan integrasi F-16 ini, AFRL telah menambah pendanaan sebesar 16,4 juta dolar AS ke dalam kontrak Castelion pada September lalu, sehingga total nilainya mencapai 37,2 juta dolar AS. Pendanaan tersebut dialokasikan untuk pengembangan senjata serang jarak jauh berbiaya rendah dengan masa pengerjaan hingga Juni 2028.
Perusahaan menyebutkan bahwa pekerjaan pada F-16 merupakan modifikasi dari kerja sama yang sedang berjalan dengan AFRL, meski belum mengonfirmasi apakah pendanaan tersebut berada di bawah kontrak yang sama.
US Navy dan US Army
Di antara matra militer AS, Angkatan Laut AS (US Navy) menjadi pihak yang paling maju dalam mengadopsi senjata ini. Pada April lalu, US Navy memberikan kontrak senilai 105 juta dolar AS untuk mengintegrasikan Blackbeard ke jet tempur F/A-18E/F Super Hornet sekaligus uji coba penembakan langsung di kawasan Indo-Pasifik.
Langkah tersebut dilanjutkan dengan pemesanan 50 unit operasional awal pada Juni, pendanaan hampir 90 juta dolar AS pada Agustus untuk mempercepat status program resmi dan opsi ekspor ke negara sekutu, serta pesanan produksi pertama hingga 200 juta dolar AS untuk 444 unit rudal pada September. Di sisi lain, Angkatan Darat AS (US Army) telah memberikan kontrak integrasi sejak Oktober 2025 untuk varian peluncuran darat yang kompatibel dengan peluncur roket HIMARS.
Integrasi ke platform F-16 memberikan nilai strategis yang sangat besar karena populasinya yang jauh lebih masif dibandingkan Super Hornet. F-16 saat ini masih menjadi jet tempur dengan jumlah terbanyak di jajaran USAF dan dioperasikan oleh lebih dari dua lusin negara di dunia.
Namun, pihak Castelion belum mengondisikan apakah integrasi ini nantinya juga akan mencakup armada F-16 versi ekspor yang dioperasikan oleh negara-negara mitra AS. (RW)
