Rusia Mampu Produksi 12-Su-35S dan 15 Su-34 Per Tahun, Tapi Ada Tantangan yang Lebih Serius

Su-35S dan Su-34 RusiaTASS
Su-35S dan Su-34 Rusia.

AIRSPACE REVIEW – Industri pertahanan Rusia saat ini diperkirakan memiliki kapasitas untuk memproduksi dan mendistribusikan hingga 12 Su-35S dan 15 Su-34 setiap tahunnya. Angka-angka ini merupakan perkiraan awal, mengingat rincian angka pasti untuk tahun 2026 belum diungkapkan secara resmi.

Jumlah tersebut mendukung operasional tempur yang dibutuhkan Angkatan Dirgantara Rusia (VKS), khususnya di saat Moskow terus menggelar kampanye udara untuk menyerang Ukraina. Industri kedirgantaraan Rusia sendiri secara berkala mengirimkan jet-jet tempur baru untuk menggantikan armada yang hilang atau rusak akibat serangan balasan Ukraina.

Intelijen militer Ukraina memperkirakan, jumlah armada pesawat tempur VKS berkisar dalam hitungan puluhan hingga ratusan unit untuk setiap jenis pesawat.

Disebutkan bahwa Rusia mengoperasikan kurang lebih 20 unit jet tempur siluman Su-57. Angka ini lebih kecil dibanding taksiran sumber terbuka yang menyebut jumlahnya di kisaran 48-50 unit.

Untuk Su-35S, Ukraina menyebut Rusia memiliki 135-140 unit. Kemudian untuk Su-34 dan Su-34M di kisaran angka 125 unit. Jumlah terbanyak adalah untuk jet Su-30M, Su-30SM, dan Su-30SM2 di kisaran 140-145 unit.

Di sisi lain, Rusia dilaporkan tidak lagi menjalankan produksi massal (serial production) untuk pesawat tipe Su-24M, Tu-22M3, dan Tu-95MS. Industri pertahanan Rusia saat ini hanya berfokus pada perbaikan dan perawatan armada yang sudah ada dari tipe-tipe tersebut.

Meskipun angka-angka tersebut ditandai sebagai estimasi perkiraan, data ini didasarkan pada informasi yang dapat diandalkan dari sumber resmi intelijen militer.

Sebelumnya, penilaian mengenai kemampuan industri penerbangan militer Rusia sangat bergantung pada perkiraan kasar. Analisis pengamat Polandia memperkirakan produksi gabungan (Su-34, Su-35, Su-57, dan Su-30SM2) hanya mencapai 14 unit per tahun 2026 dengan tingkat kehilangan minimal 10 pesawat.

Tantangan Lebih Serius

Di luar kemampuan memproduksi jet tempur secara simultan, Rusia menghadapi masalah serius lain yang dapat menyebabkan atrisi kekuatannya. Serangan drone-drone dan rudal jarak jauh telah menghantui keberadaan burung-burung besi penempur Moskow.

Pada 15 Oktober lalu diberitakan bahwa serangan rudal Neptune Ukraina terhadap Pangkalan Udara Borisoglebsk kemungkinan telah melumpuhkan sekitar enam unit Su-34 dalam operasi semalam di lapangan terbang yang terletak di wilayah Voronezh, Rusia tersebut.

Pesawat-pesawat pengebom tempur itu merupakan andalan pasukan Moskow untuk meluncurkan bom udara berpemandu, yang dilengkapi dengan perangkat luncur dan pemandu UMPK, ke arah posisi militer Ukraina maupun permukiman di garis depan.

Defense Express memberitakan, skala kerugian yang dilaporkan tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan tingkat produksi Rusia saat ini.

Produsen pesawat Rusia biasanya menyerahkan pesawat tempur taktis baru kepada Angkatan Kedirgantaraan dalam kelompok kecil, yakni dua hingga tiga unit sekaligus.

Langkah Antisipasi dan Balasan Rusia

Untuk melindungi armada pesawat tempur strategis seperti Su-34 yang kerap menjadi target empuk serangan drone jarak jauh maupun rudal, militer Rusia dihadapkan pada tuntutan transformasi pertahanan pangkalan udara yang masif.

Selama ini, sebagian pangkalan udara Rusia dinilai terlalu terbuka dan lambat beradaptasi dengan ancaman asimetris modern. Pengamat menilai Kremlin harus melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menghindari kerugian aset-aset matra udaranya yang mahal.

Solusi paling mendasar yang selama ini banyak diabaikan di lapangan terbang jarak jauh adalah dibangunnya hanggar beton bertulang (Hardened Aircraft Shelters). Hanggar terbuka atau sekadar jaring pelindung terbukti gagal meredam ledakan hulu waris drone atau rudal. Rusia harus mempercepat pembangunan hanggar kubah beton tebal yang mampu menahan pecahan tajam dan ledakan langsung.

Rusia juga perlu meningkatkan sistem pertahanan udara berlapis dengan sistem pertahanan udara jarak sangat dekat yang terintegrasi secara mandiri, seperti sistem rudal/meriam Pantsir-S1, senapan antidrone otomatis, serta jaring penangkal elektromagnetik atau jammer stasioner untuk melumpuhkan sinyal navigasi drone otonom sebelum mendekati area parkir pesawat.

Mengingat ancaman radius jangkau drone dan rudal jelajah Ukraina yang semakin dalam, memarkir puluhan pesawat bernilai tinggi dalam satu titik kumpul yang padat adalah risiko besar. Rusia perlu menyebar dan merotasi unit-unit Su-34 ke lebih banyak pangkalan cadangan sekunder atau lapangan terbang sipil/militer terpencil untuk memperkecil konsentrasi kerugian.

Memperkuat pos-pos pengamatan visual akustik serta radar portabel gelombang mikro beresolusi tinggi di sekitar perimeter pangkalan untuk mendeteksi drone berukuran kecil atau terbang rendah yang kerap lolos dari cakupan radar pertahanan udara utama, adalah langkah lain untuk melengkapi keamanan pangkalan udara dari serangan udara musuh.

Serangan Pencegahan

Langkah-langkah strategis dan taktis lain yang dapat dikembangkan militer Rusia adalah melancarkan serangan pre-emptive terhadap fasilitas pembangunan rudal dan drone Ukraina. Cara ini untuk mencegah serangan jarak jauh Ukraina lebih lanjut.

Melalui kombinasi citra satelit antariksa, jaringan intelijen sinyal (SIGINT), serta pengoperasian drone pengintai jarak jauh seperti Orion atau ZALA, Rusia dapat secara intensif memetakan lokasi bengkel perakitan tersembunyi, laboratorium riset, dan titik logistik komponen impor.

Informasi presisi menjadi dasar untuk mendeteksi pergerakan rantai pasok serta mengidentifikasi kawasan industri yang dialihfungsikan oleh Ukraina sebelum platform tempur lawan sempat diproduksi secara massal.

Dengan diketahuinya koordinat sasaran terkunci, penyerangan dapat dilancarkan menggunakan taktik kombinasi gelombang jarak jauh (standoff strikes) yang dirancang untuk menembus dan melumpuhkan sistem pertahanan udara Ukraina.

Rusia memiliki kemampuan untuk mengerahkan puluhan hingga ratusan drone umpan tanpa hulu ledak guna menguras amunisi dan memancing radar lawan, disusul oleh gelombang drone kamikaze Geran-2 untuk merusak bengkel perakitan serta pergudangan.

Sementara itu, fasilitas utama seperti bangunan pabrik beton bertulang dihancurkan menggunakan rudal jelajah presisi tinggi Kh-101, Kalibr, hingga rudal aerobalistik hipersonik Kinzhal dan Iskander-M guna memastikan tingkat kerusakan maksimum pada infrastruktur manufaktur berat.

Di samping gempuran fisik secara langsung, operasi pre-emptive ini diimbangi dengan penargetan ekosistem pendukung serta penindakan di spektrum elektromagnetik. Militer Rusia secara sistematis menyerahkan serangan ke infrastruktur energi dan jaringan listrik yang menyuplai kawasan industri pertahanan, serta menargetkan titik-titik transit logistik di perbatasan untuk menghentikan aliran komponen mikroelektronika dan mesin impor.

Operasi tersebut melengkapi gempuran siber serta aksi jamming daya tinggi yang dilancarkan untuk meretas server komando, mengganggu jalur komunikasi kendali, dan melumpuhkan pusat pengujian drone Ukraina sebelum armada tersebut dikirimkan ke garis depan.

Pada akhirnya, baik Rusia maupun Ukraina terus mengembangkan taktik pertempuran yang dapat menembus kerentanan-kerentanan pertahanan masing-masing. Tidak mengherankan apabila kedua negara saling menggempur dan terus menerus “jual-beli” serangan. (RNS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *