Pesawat L-410 Jatuh di Kongo, 17 Orang Tewas Termasuk Dua Jenderal Tinggi

Pesawat L-410 Turbolet milik Tracep Congo AviationBEPA
Pesawat L-410 Turbolet milik Tracep Congo Aviation.

AIRSPACE REVIEW – Pesawat komersial jenis Let L-410 Turbolet milik maskapai Tracep Congo Aviation jatuh dan terbakar saat berupaya melakukan pendaratan darurat di Kota Kenge pada Jumat (25/9).

Kecelakaan tragis ini menewaskan sedikitnya 17 orang, termasuk dua perwira tinggi militer Republik Demokratik Kongo.

Pesawat dengan nomor registrasi 9S-GUC tersebut sedang dalam penerbangan dari Kikwit menuju ibu kota Kinshasa membawa delegasi resmi militer dan warga sipil.

Menurut keterangan otoritas setempat, pesawat bermesin ganda tersebut mengalami kendala teknis di tengah perjalanan.

Saksi mata dan otoritas lokal melaporkan bahwa pesawat sempat berputar-putar di atas wilayah Kenge untuk mencari lokasi pendaratan darurat.

Namun, minimnya fasilitas landasan pacu yang memadai di kota tersebut memaksa armada jatuh dan menabrak area pemukiman di lingkungan Manzawu sebelum akhirnya dilalap api.

Wakil Gubernur Provinsi Kwango, Remy Saki Bokinda, membenarkan bahwa pesawat mengalami kegagalan teknis sebelum menghantam daratan.

Meski jatuh di kawasan berpenduduk, hingga kini tidak dilaporkan adanya korban jiwa dari warga lokal di darat.

Dua Jenderal Militer Gugur

Jumlah korban jiwa yang semula dilaporkan sebanyak 13 orang kini direvisi menjadi 17 korban tewas, yang terdiri dari 13 personel militer dan 4 warga sipil.

Di antara para korban tewas terdapat dua tokoh penting Angkatan Bersenjata Republik Demokratik Kongo (FARDC), yaitu Letnan Jenderal Lucien-René Likulia Bakumi yang menjabat Auditor Jenderal FARDC pada Pengadilan Militer Tinggi dan Letnan Jenderal Joseph Mutombo Katalay Tiende, Presiden Pertama Pengadilan Militer Tinggi.

Kedua jenderal tersebut diketahui baru saja menyelesaikan tugas serta misi resmi di Kikwit dan dalam perjalanan pulang ke Kinshasa.

Penyelidikan Penyebab Kecelakaan

Badan penyelidikan kecelakaan penerbangan Kongo telah menerjunkan tim khusus ke lokasi kejadian di Kenge untuk mengamankan puing-puing pesawat dan melakukan rekonstrusi detik-detik terakhir penerbangan.

Fokus utama penyelidik saat ini adalah menemukan perangkat perekam data penerbangan (kotak hitam) guna menganalisis kronologi pasti serta sistem pesawat yang mengalami kegagalan.

Tragedi ini kembali menyoroti tantangan besar pada sektor penerbangan regional di Kongo, di mana keterbatasan infrastruktur bandara dan landasan darurat kerap menjadi persoalan krusial di saat pesawat mengalami situasi darurat.

Pihak berwenang menyatakan bahwa hipotesis kegagalan mekanis masih bersifat sementara hingga hasil investigasi resmi dirilis. (JDN)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *