Salip Jerman dan Prancis, Rusia Amankan Posisi 2 Eksportir Senjata Dunia
Sergei Malgavko/TASSAIRSPACE REVIEW – Rusia berhasil mengamankan posisi kedua dalam daftar global negara pengekspor senjata untuk tahun 2025.
Berdasarkan perhitungan Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunia (CAWAT/TsAMTO), Rusia mencatatkan nilai penjualan sebesar 15 miliar USD (sekitar Rp232,5 triliun) atau menyumbang sekitar 12,55% dari total volume ekspor senjata global.
Dalam menyusun pemeringkatan yang khusus mengukur kontrak komersial murni di luar bantuan militer koalisi Barat ke Ukraina ini, CAWAT mengandalkan penilaian ahli untuk mengestimasi angka ekspor Rusia akibat pengetatan klasifikasi statistik pasca dimulainya operasi militer khusus.
Di Bawah Amerika Serikat
Capaian tersebut menempatkan Rusia persis di bawah Amerika Serikat yang kokoh di puncak pasar dengan nilai ekspor mencapai 44,603 miliar USD (sekitar Rp691,3 triliun) atau menyumbang 37,32% dari total perdagangan global, seperti dilaporkan RIA Novosti pada Rabu (23/9).
Posisi Rusia ini sekaligus mengungguli sejumlah negara produsen utama lainnya, termasuk Jerman di peringkat ketiga dengan nilai 8,903 miliar USD (sekitar Rp138 triliun), Korea Selatan dengan 8,779 miliar USD (sekitar Rp136 triliun), serta Prancis yang mencatatkan 8,630 miliar USD (sekitar Rp133,7 triliun).
Jajaran sepuluh besar eksportir dunia kemudian dilengkapi oleh Israel (5,995 miliar USD), Italia (5,225 miliar USD), Turkiye (4,230 miliar USD), Spanyol (3,476 miliar USD), dan Tiongkok (2,970 miliar USD).
Keberhasilan Rusia mempertahankan kinerja ekspor di tengah lonjakan kebutuhan Angkatan Bersenjata domestik tidak lepas dari pengalihan industri pertahanan nasional ke mode siaga perang.
Meskipun sebagian besar kapasitas manufaktur dialokasikan untuk memenuhi peningkatan pesanan pertahanan negara, penyesuaian operasional tersebut terbukti ampuh menjaga volume produksi tetap tinggi sehingga pasokan untuk pasar luar negeri tetap terjaga secara memadai.
Di sisi lain, CAWAT menyoroti adanya penurunan transparansi data publik yang signifikan dari pihak Rusia akibat dinamika geopolitik saat ini.
“Akibat sikap keras Washington terhadap negara-negara pengimpor persenjataan Rusia, tingkat transparansi data yang disediakan oleh Federasi Rusia dan JSC Rosoboronexport jelas telah menurun drastis. Langkah ini diambil untuk menjaga kerahasiaan pengiriman dan menghindari risiko sanksi sekunder dari AS serta Uni Eropa bagi negara-negara pengimpor senjata Rusia,” tegas studi CAWAT. (RNS)
