Di Balik Pembelian Jet Tempur F-35A: Swiss Usut Dugaan Manipulasi Biaya dan Proses Seleksi
Lockheed MartinAIRSPACE REVIEW – Partai Sosial Demokrat Swiss mendesak pembentukan Komisi Penyelidikan Parlemen untuk mengusut tuntas proses akuisisi 36 jet tempur F-35A dari Amerika Serikat.
Langkah tegas ini dipicu oleh hasil investigasi awal yang menemukan tidak adanya kesepakatan harga tetap secara formal dalam kontrak pengadaan tersebut, menurut laporan SWI Swissinfo pada 14 September.
Temuan ini mengejutkan publik karena bertolak belakang dengan klaim dan penyampaian pemerintah Swiss selama proses seleksi berlangsung.
Pembengkakan Anggaran
Penyelidikan yang diusulkan bertujuan untuk membongkar potensi kegagalan sistemik maupun kelembagaan di tubuh Departemen Pertahanan Federal, Perlindungan Sipil, Olahraga, dan Penerbangan Swiss.
Parlemen berencana meneliti kembali proses penawaran pada program Air2030, mengevaluasi kejujuran perhitungan biaya operasional, serta mendalami dugaan adanya perlakuan istimewa yang memenangi proposal Lockheed Martin dibanding para pesaingnya.
Sorotan tajam juga tertuju pada proses negosiasi dan tata kelola internal. Laporan Komite Manajemen Dewan Nasional mengungkap bahwa tim hukum Armasuisse sebagai badan pengadaan militer justru disampingkan dan digantikan oleh firma eksternal.
Selain masalah transparansi negosiasi, terdapat keterlambatan fatal dalam pelaporan pembengkakan anggaran.
Meski indikasi kenaikan biaya sudah diketahui Armasuisse sejak Agustus 2024, Dewan Federal baru mendapat laporan resmi pada Maret 2025.
Kontroversi yang merebak sejak penandatanganan kontrak pada September 2022 ini menempatkan rencana modernisasi armada F/A-18 Hornet dan F-5 Tiger dalam situasi pelik.
Tambah Anggaran atau Kurangi Jumlah Pembelian
Pemerintah Swiss kini dihadapkan pada dilema antara mengajukan anggaran tambahan atau mengurangi jumlah unit pesawat yang dibeli.
Dengan dukungan yang mulai mengalir dari Partai Hijau, investigasi berskala besar ini tidak hanya berpotensi membongkar kejanggalan harga, tetapi juga menguji ulang sejauh mana ketergantungan logistik dan teknologi Swiss terhadap Amerika Serikat.
Di sisi lain, perkembangan ini memperkuat tekanan terhadap Pemerintah Swiss untuk segera membenahi seluruh sistem tata kelola pengadaan militer bernilai tinggi.
Keputusan akhir Parlemen mengenai pembentukan komisi penyelidikan tersebut akan menjadi penentu penting bagi transparansi publik sekaligus arah kebijakan pertahanan Swiss.
Jika disetujui, hasil investigasi ini tidak hanya memperjelas nasib armada F-35A, tetapi juga berpotensi merombak total standar penentuan anggaran, dokumentasi, dan mekanisme kontrol risiko dalam proyek-proyek strategis negara di masa depan. (PN)
