Dahulu Pasok Shahed, Kini Iran Berbalik Minta Rusia Kirim Drone Serang Bermesin Jet Geran
IstimewaAIRSPACE REVIEW – Iran dilaporkan telah mengajukan permintaan resmi kepada Rusia untuk memasok drone serang canggih dari keluarga Geran.
Informasi ini diungkapkan oleh Financial Times dengan mengutip pejabat keamanan Barat serta sumber yang dekat dengan pihak Kremlin.
Teheran mempertimbangkan penggunaan drone canggih tersebut untuk memperkuat daya gempurnya dalam menghadapi eskalasi ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Langkah ini menjadi bentuk pembalikan dinamika transfer teknologi militer yang unik antar kedua negara.
Lompatan Teknologi yang Signifikan
Iran pada awalnya merupakan penyedia teknologi awal drone Shahed yang kemudian dilisensi dan diproduksi secara massal oleh Rusia di dalam negerinya.
Namun, varian terbaru buatan Rusia seperti Geran-4 dan Geran-5 telah mengalami lompatan teknologi signifikan dibandingkan versi awal berteknologi Iran yang masih mengandalkan mesin piston.
Geran-4 dan Geran-5 kini menggunakan sistem penggerak bermesin jet, mampu mencapai kecepatan terbang yang jauh lebih tinggi, serta dilengkapi sistem pemandu yang telah ditingkatkan.
Baca di Sini: Rusia Genjot Produksi Drone Jet Geran-4 dan Geran-5 hingga Ribuan Unit Per Bulan
Varian Geran-5 yang mulai digunakan Rusia tahun ini sanggup melaju hingga kecepatan 600 km/jam, membawa hulu ledak seberat 90 kg, dan menjangkau sasaran hingga jarak 1.000 km.
Spesifikasi tersebut melonjak drastis jika dibandingkan dengan versi awal Geran-1 yang hanya memiliki kecepatan maksimum 185 km/jam dan kapasitas hulu ledak 20 kg.
Setara Rudal Jelajah Berbiaya Murah
Perubahan desain fuselase pada Geran-5 bahkan membuat karakteristik operasinya semakin mendekati kategori rudal jelajah berbiaya murah.
Peningkatan performa ini berdampak langsung pada tingkat keberhasilan intersepsi pertahanan udara, di mana rasio penembakan jatuh drone bermesin jet merosot ke kisaran 60 persen dibandingkan model konvensional yang mencapai 90 hingga 95 persen.
Para analis militer menilai evolusi drone serang Rusia ini sebagai proses penggabungan konsep drone dan rudal jelajah, yang menawarkan kecepatan dan ketinggian terbang tinggi namun dengan biaya produksi yang tetap jauh lebih murah daripada rudal Kh-101 atau Kalibr. (RNS)
