Tembus 1 Juta Jam Terbang, Total 1.355 Jet Tempur Siluman F-35 Perkuat AS dan Sekutu

Elephant Walk 52 F-35AR. Nial Bradshaw
Aksi Elephant Walk F-35A USAF.

AIRSPACE REVIEW – Program jet tempur generasi kelima F-35 Lightning II mencatatkan tonggak sejarah baru setelah armada globalnya melampaui 1.355 unit memperkuat AS dan Sekutu, serta telah membukukan lebih dari satu juta jam terbang.

Pencapaian ini menegaskan skala produksi masif Lockheed Martin sekaligus memperkuat peran vital F-35 dalam struktur pertahanan udara AS dan negara-negara sekutunya.

Hingga saat ini, jet tempur siluman tersebut telah hadir di 20 negara, dengan 17 angkatan militer yang aktif mengoperasikannya dan 12 negara mengelola armada milik sendiri secara domestik.

Ekspansi operasional ini ditopang oleh kesiapan infrastruktur pangkalan darat maupun kapal induk di berbagai belahan dunia.

3.560 Pilot dan 21.680 Teknisi

Lebih dari 3.560 pilot dan 21.680 teknisi perawatan telah terlatih untuk mendukung pengoperasian jet tempur ini.

Armada global F-35 juga tercatat telah menyelesaikan lebih dari 807.000 sorti penerbangan dan lebih dari 810 penempatan operasional.

Secara teknis, F-35 dirancang sebagai pusat pengumpul, pemroses, dan pendistribusi informasi di medan tempur melalui integrasi jaringan sensor, sistem komando-kendali, serta platform darat dan laut.

Komunitas pengguna internasional F-35 kini mencakup negara-negara utama seperti Inggris, Italia, Belanda, Norwegia, Denmark, Australia, Kanada, Jepang, Israel, Korea Selatan, Belgia, Polandia, Finlandia, Swiss, Jerman, Singapura, Yunani, Republik Ceko, Rumania, dan Amerika Serikat.

Jepang Pemesan Internasional Terbesar

Jepang menjadi salah satu pemesan internasional terbesar dengan mengombinasikan varian F-35A konvensional dan varian short take-off and vertical landing (STOVL) F-35B untuk operasional kapal perang.

Di Eropa, Jerman memperkuat posisi NATO dengan memesan 35 unit F-35A guna menggantikan armada pesawat Tornado, di mana unit pertamanya telah memulai uji terbang.

Sementara itu, Inggris terus mengoperasikan F-35B dari kapal induk kelas Queen Elizabeth dan merencanakan penambahan varian F-35A untuk meningkatkan fleksibilitas tempur.

Tantangan Biaya Perawatan

Dari sisi manufaktur, Lockheed Martin mencetak rekor pengiriman tahunan tertinggi pada tahun 2025 dengan menyerahkan 191 unit F-35 kepada para pemesan.

Meski mencatatkan pertumbuhan pesat, program F-35 masih menghadapi tantangan terkait tingginya biaya perawatan, kompleksitas logistik, dan tingkat ketersediaan armada yang belum sepenuhnya ideal.

Namun demikian, keunggulan fitur siluman, fusi data sensor, dan kemampuan perang elektronik menjadikan F-35 tetap sebagai tulang punggung utama kekuatan udara negara-negara Barat. (RW)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *