General Atomics Perkenalkan Drone Wildfire, Calon Pengganti MQ-9 Reaper yang Lebih Murah
GA-ASIAIRSPACE REVIEW – General Atomics Aeronautical Systems (GA-ASI) meluncurkan drone desain baru bernama Wildfire sebagai calon penerus MQ-9A Reaper bagi Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Drone ini dirancang dengan biaya produksi yang lebih murah dan toleran terhadap risiko kerugian tempur atau attrition-tolerant.
Dalam pernyataan resminya pada 10 September 2026, GA-ASI mengajukan Wildfire untuk kompetisi Massed Modular Aircraft (MMA).
Program yang dikelola oleh Defense Innovation Unit (DIU) bersama USAF ini bertujuan mencari alternatif pengganti MQ-9A Reaper.
Kehilangan yang Tinggi di Iran
Langkah pencarian drone baru ini dipicu oleh tingginya angka kehilangan MQ-9 dalam Operasi Epic Fury di Iran.
Laporan media menyebutkan sedikitnya 45 unit MQ-9 telah jatuh, yang setara dengan seperempat total armada milik militer AS.
Sebagian dari drone tersebut jatuh akibat kegagalan koneksi komunikasi dan bukan karena tembakan musuh.
Kepala Petugas Modernisasi USAF, Letnan Jenderal Chris Niemi, menyatakan bahwa konflik di masa depan membutuhkan kemampuan menyerap kerugian operasional tanpa menghentikan efek tempur.
Spesifikasi program MMA menetapkan bahwa mengandalkan drone mahal berharga di atas 30 juta USD (sekitar Rp528 miliar) tidak lagi berkelanjutan dalam menghadapi sistem pertahanan udara modern.
Mampu Bawa Empat Rudal JSM
Program ini disyaratkan mampu membawa muatan minimal 1.270 kg dengan radius tempur mencapai 4.260 km.
Kemampuan operasional awal yang ditargetkan mencapai 20 unit drone siap tempur pada tahun fiskal 2031.
GA-ASI mengklaim spesifikasi Wildfire telah memenuhi bahkan melampaui seluruh persyaratan yang diminta oleh pihak militer.
Drone ini dirancang sanggup membawa dua rudal jelajah antikapal jarak jauh LRASM atau empat rudal Joint Strike Missile (JSM) secara bersamaan.
Presiden GA-ASI, David R. Alexander, menjelaskan bahwa MQ-9B akan tetap menjadi pesawat multimisi untuk perburuan kapal selam dan peringatan dini. Sementara itu, Wildfire akan difokuskan khusus untuk misi intelijen, pengawasan, pengintaian, serta serangan presisi.
Operator nantinya akan mengendalikan Wildfire menggunakan perangkat lunak otonom khusus dan bukan stasiun kendali darat konvensional.
Sistem kontrol pintar ini memungkinkan satu tim operator untuk mengendalikan puluhan drone Wildfire secara kolaboratif sekaligus.
GA-ASI optimistis mampu menyuplai armada Wildfire beberapa tahun lebih cepat dari target tahun 2031 menggunakan jaringan manufaktur yang sudah ada.
Selain untuk kebutuhan militer, drone ini juga dipasarkan untuk penggunaan sipil dan komersial seperti pengiriman kargo berat. (RW)
