Ganti Gripen Pasca-2040, Swedia Suntik Dana Rp5,3 Triliun untuk Jet Tempur Generasi Baru
SaabAIRSPACE REVIEW – Produsen pertahanan asal Swedia, Saab, resmi menerima kontrak baru dari Administrasi Material Pertahanan Swedia (Försvarets materielverk/FMV) senilai 2,9 miliar SEK (303 juta USD atau sekitar Rp5,31 triliun).
Kesepakatan ini bertujuan untuk melanjutkan pengembangan teknologi serta ekosistem sistem tempur udara berawak dan tanpa awak (manned-unmanned) generasi berikutnya yang diproyeksikan mengudara pasca-2040.
Kontrak berdurasi 2026–2028 ini merupakan bagian dari program nasional Swedia bertajuk Koncept för Framtida Stridsflyg (KFS) alias Konsep Pesawat Tempur Masa Depan.
Program tersebut berfokus pada pengujian arsitektur tempur modern, mencakup integrasi sistem, kecerdasan buatan, otonomi, propulsi, fitur siluman (low-observable), hingga pengembangan demonstrator uji terbang berbasis darat dan udara.
Bersama Loyal Wingman
Melalui pendekatan KFS, Swedia tidak hanya berfokus merancang satu jenis pesawat tempur tunggal sebagai pengganti langsung jet tempur Gripen.
Stockholm kini mematangkan konsep system-of-systems, yaitu penggabungan pesawat tempur berawak dengan jajaran drone tempur otonom (loyal wingman) yang saling terintegrasi di medan konflik intensitas tinggi.
Sebagai bagian dari eksperimen tersebut, Saab sebelumnya telah memamerkan konsep drone tempur tanpa awak skala penuh bernama A3-001 pada Agustus lalu di Pangkalan Udara Malmen.
Drone A3-001 dirancang untuk mengemban misi berisiko tinggi, seperti penindasan pertahanan udara musuh (Suppression of Enemy Air Defenses/SEAD) serta peperangan elektronik.
Langkah independen ini diambil Swedia pasca keluar dari program jet tempur generasi keenam Team Tempest Inggris pada 2023.
Alih-alih langsung terikat dalam konsorsium multinasional seperti GCAP, Swedia memilih mematangkan kapasitas industri dalam negerinya sekaligus menjaga fleksibilitas strategi pertahanan udara di era NATO.
Uji Terbang Sebelum 2030
Guna menguji keandalan konsep tersebut secara rinci, Saab menargetkan untuk melangsungkan uji terbang pesawat demonstrator tanpa awak berkarakteristik mirip jet tempur sebelum dekade ini berakhir.
Uji coba berisiko rendah ini akan memvalidasi pengoperasian sistem kendali otonom, pemrosesan data sensor terdistribusi, serta taktik kerja sama udara secara langsung di lapangan.
Di sisi lain, Angkatan Udara Swedia dipastikan tetap mengandalkan armada Saab Gripen C/D dan E/F sebagai tulang punggung utama pertahanan udara nasional hingga beberapa dekade mendatang.
Investasi riset Saab dan FMV ini menjadi pijakan strategis agar industri penerbangan Swedia siap memproduksi platform tempur generasi baru saat Gripen akhirnya memasuki masa purna tugas. (RW)
