Media Prancis: Vietnam Sedang Menjajaki Pembelian hingga 40 Jet Rafale
Dassault AviationAIRSPACE REVIEW – Langkah mengejutkan diambil Vietnam dengan mengincar jet tempur buatan Barat demi memperkuat benteng pertahanannya. Hanoi dikabarkan tengah menjajaki pembelian jet tempur multiperan Rafale buatan pabrikan Dassault Aviation asal Prancis.
Laporan majalah Prancis L’Express menyebutkan, pembicaraan kedua negara sudah memasuki tahap krusial.
Sinyal diversifikasi ini diperkuat dengan munculnya kabar bahwa Vietnam juga mempertimbangkan jet tempur F-16 dari Amerika Serikat.
Estimasi data intelijen sumber terbuka memperkirakan potensi transaksi ini mencakup dua skuadron atau sekitar 24 hingga 40 unit pesawat. Nilai kesepakatan raksasa tersebut ditaksir menembus 4 hingga 6 miliar USD (sekitar Rp60 hingga Rp90 triliun), dengan pengiriman perdana diproyeksikan pada rentang 2028 hingga 2030.
Langkah ini bakal menjadi sejarah baru bagi Angkatan Udara Vietnam. Pembelian Rafale akan menandai pertama kalinya Vietnam mengoperasikan jet tempur utama buatan Barat modern.
Layanan penerbangan taktis asal Swiss, Migflug, menilai langkah ini bukan sekadar pembaruan alutsista biasa. Pilihan ini merupakan perubahan arah kebijakan strategis Hanoi untuk memangkas ketergantungan penuh pada industri pertahanan Moskow.
Strategi diversifikasi ini dipicu oleh dua faktor mendesak. Pertama adalah risiko ketergantungan pada rantai pasok persenjataan Rusia yang makin terganggu pascaserangan ke Ukraina.
Faktor kedua adalah eskalasi ketegangan militer di kawasan Laut China Selatan. China terus memamerkan kekuatan dengan menempatkan alutsista canggih seperti jet tempur J-16, jet siluman J-20, pengebom strategis H-6, hingga pesawat peringatan dini KJ-500 di wilayah sengketa.
Dinamika ini memaksa Vietnam untuk segera meremajakan benteng udaranya. Saat ini armada tempur Angkatan Udara Vietnam masih didominasi varian Sukhoi yang mulai menua.
Vietnam tercatat mengoperasikan sekitar 35 unit Su-30MK2, 5 hingga 10 unit Su-27, serta 25 hingga 30 unit jet serang darat Su-22 yang dikembangkan sejak era Soviet pada tahun 1970-an.
Kendati sebagian pesawat telah menjalani perawatan menyeluruh, masalah ketersediaan suku cadang dan pemeliharaan jangka panjang menjadi ancaman serius bagi kesiapan tempur Vietnam jika terus bergantung pada platform lama.
Pilihan Lain Membeli Su-57 dari Rusia
Sementara itu, BBC memberitakan Dengan kemampuan udara ke udara yang terbatas, jangkauan yang relatif pendek, dan radar yang kecil, Rafale kemungkinan besar dapat digunakan sebagai pesawat tempur-pembom untuk menggantikan armada Su-22 era Soviet, sementara Su-30MK2 terus membentuk kekuatan inti.
Laporan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa Hanoi tetap tertarik pada Su-57, jet tempur siluman generasi kelima Rusia, menurut Military Watch Magazine.
Menurut para ahli, Su-57 memiliki keunggulan yang jelas bagi Vietnam, yaitu kompatibilitas dengan sistem yang sudah ada.
Pesawat tempur generasi kelima Su-57 buatan Rusia, yang diincar Vietnam, dapat digunakan untuk menggantikan Su-27 dan Su-30 sebagai pesawat tempur jarak jauh utama mereka, dengan tujuan meraih superioritas udara.
Dalam jangka panjang, sejumlah kecil pesawat Su-57 dapat ditambahkan untuk menjalankan misi yang membutuhkan kemampuan siluman dan pertempuran jarak jauh.
Vietnam telah mengoperasikan pesawat Sukhoi selama beberapa dekade, bersama dengan sistem pertahanan udara dan infrastruktur buatan Rusia.
Oleh karena itu, pesawat Rusia baru akan menyebabkan gangguan yang lebih sedikit daripada memperkenalkan platform yang sepenuhnya buatan Barat.
Beberapa sumber industri memperkirakan bahwa Vietnam mungkin akan berupaya membeli 12-24 pesawat Su-57 pada awal tahun 2030-an untuk sebagian menggantikan pesawat Su-27 dan Su-22 yang sudah tua.
Namun, informasi ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Vietnam maupun Rusia. (RNS)
