Dari SGS hingga Bom Pertahanan: Dislitbangau dan PT TAG Perkuat Kolaborasi Teknologi Udara
DislitbangauAIRSPACE REVIEW – Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Dislitbangau) terus memacu kemandirian Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) matra udara. Langkah strategis ini ditegaskan lewat kunjungan kerja Kepala Dislitbangau, Marsma TNI Rachmadi Anggoro ke markas PT Tiara Angkasa Gandiva (TAG) di Bandung Barat, Selasa (1/9/2026).
PT TAG dikenal sebagai salah satu pemain kunci industri pertahanan swasta nasional. Selain memproduksi komponen pesawat dan perlengkapan militer seperti parasut, PT TAG merupakan mitra strategis TNI AU dalam pengembangan amunisi hingga bom pertahanan.
Pantau Langsung Lini Produksi
Dalam kunjungan tersebut, Kadislitbangau meninjau langsung proses fabrikasi di fasilitas produksi PT TAG.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan setiap tahap manufaktur memenuhi standar quality control ketat militer, sekaligus membahas integrasi teknologi persenjataan terbaru sebelum masuk tahap uji coba operasional.
“Kolaborasi dengan industri dalam negeri adalah wujud nyata mendorong kemandirian alutsista kita,” tegas Rachmadi.
Kesuksesan SGS di Langit Istana
Salah satu bukti konkret dari sinergi ini adalah pengembangan Smoke Generating System (SGS) pada pesawat latih lanjut KT-1B Woongbi TNI AU.
Hasil karya gabungan Dislitbangau dan PT TAG tersebut sempat memukau publik saat manuver demo udara pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI di atas Istana Merdeka.
Atas kontribusi besar tersebut, Kadislitbangau menyerahkan Sertifikat Penghargaan secara langsung kepada Presiden Direktur PT TAG, Tatiana.
Baca di Sini: Lintasan Asap JAT Makin Tebal: Rahasia Sentuhan Teknologi Dislitbangau
Penghargaan ini menjadi pengakuan resmi atas dedikasi dan inovasi PT TAG dalam mendukung tugas pokok TNI AU melalui teknologi Smoke Generating System (SGS) dan Smoke Oil System (SOS).
Melalui kemitraan erat ini, Dislitbangau optimistis TNI AU akan makin mandiri dan tangguh dalam menghadapi tantangan pertahanan udara di masa depan. (PN)

Bom tidak penting bagi negara berkembang, klo negara penjajah seperti mamarica dan Israel itu penting baginya, klo seperti Indonesia itu yg paling penting rudal balistik jarak j@uh minimal jarak 1000 km ya, saran penting ini